Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 138


__ADS_3

" Apa Kamu menyukai Gabriel ??? " Hans yang sedari tadi duduk tak jauh dari Leni akhirnya menanyakan pertanyaan bersifat pribadi itu setelah melihat Leni yang kelihatan begitu khawatir, mukanya sedari tadi tegang. Dia bahkan tidak bisa duduk diam dengan tenang walau hanya semenit saja.


Leni terus berdiri di depan ruang operasi. Gabriel sedang menjalani operasi. Luka tusukannya lumayan dalam dan Dia kehilangan banyak darah. Mata Leni menatap lampu berwarna merah yang masih menyala di atas pintu, tandanya operasi sedang berlangsung.


Sudah lebih dari 3 jam berlalu, dan belum ada tanda tanda operasi selesai. Leni menghela nafasnya sejenak. Dia duduk berjongkok di dekat pintu, matanya menunduk ke bawah. Dia sedang memikirkan pertanyaan Hans. Meski Dia sempat berfikir, kenapa Hans tiba tiba menanyakan itu ??? Kenapa Dia tiba tiba peduli ???


Leni sudah berpikir terlalu lama, tapi akhirnya Dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia benar benar tidak tahu, apa perasaannya terhadap Gabriel. Memang Dia juga belum pernah jatuh cinta. Itu juga bukan hal yang penting untuk di bahas sekarang. Dia hanya ingin Gabriel sembuh, Dokter genit itu bahkan belum tau siapa namanya.


" Aku hanya melihat Kamu begitu khawatir menunggu Gabriel, Jadi Aku menanyakannya. Kita memang tidak begitu dekat, tapi karena permintaan Papa Kamu, Aku jadi kepikiran. " jawab Hans, membuat Leni sedikit terkejut.


Memang Papanya pernah permintaan apa kepada Hans sih ??? Ish, Memalukan sekali bukan ??? Leni bukan Wanita tua yang tidak laku.


" Apa Papa pernah meminta sesuatu permintaan dari Kamu Hans ?? " tanya Leni akhirnya, demi bisa menjawab kekhawatirannya.


Hans menganggukkan kepala. Leni ingat, tempo hari sang Papa memang sering memintanya untuk menghubungi Hans karena Papanya ingin berbicara empat mata dengan Laki Laki kalem itu. Tapi Leni tidak menggubrisnya.


Dia bahkan tidak menduga, jika sang Papa nekat mencari tahu soal Hans sendiri dan diam diam menemui Laki Laki itu tanpa memberi tahunya.


" Lalu, Papa minta apa ??? " desak Leni semakin penasaran.


Hans mengangkat kepalanya dan melihat Leni. Berpikir apakah sudah tepat untuk mengatakannya sekarang ??? Ah sudahlah, sudah terlanjur.


" Beliau ingin Aku coba mendekatimu, siapa tahu Kita bisa dekat. Tapi, Aku belum memberi jawaban. Karena Aku tidak tau apakah itu berhasil untuk Kita ?? Maksudku, karakter Kita sangat berbeda, Aku tidak begitu jagoan, dan Kamu sangat andal dalam hal itu atau Kami sangat perkasa. " jawab Hans disertai tawa kecil dari bibirnya. Kata Perkasa yang Hans lontarkan mampu membuat Leni tersenyum.


" Maafkan Papaku jika itu membuatmu tertekan. Papa hanya ingin memilihkan Laki Laki yang pas untuk Putrinya yang nakal ini. "


Wanita berambut sebahu itu terkekeh, Dia sangat menyayangi Papanya, terlepas dari semua sifat otoriternya.


" Tenang saja, Aku tidak merasa tertekan kok. Aku mengagumi Papa Kamu. Dan hatiku juga masih bebas, Aku biarkan Dia terbuka lebar sampai Dia benar benar menerima dan menemukan Wanita yang tepat. Kamu baik, Aku nyaman jika Kita ngobrol berdua seperti ini, itu penilaianku. Kalau dari hatimu Aku gak tau. Jika Kamu mau, Kita bisa untuk saling membuka hati. " entah kata kata yang Hans ucapkan sudah benar atau belum.

__ADS_1


Dia bingung kenapa tiba tiba disaat seperti ini membicarakannya dengan Leni.


Melihat kekhawatiran dan ketakutan Wanita itu, tidak mungkin kan kalau Dia tidak merasakan apa apa kepada Gabriel ??? Seharusnya Hans jangan bermain api. Membiarkan hatinya melakukan uji coba.


" Kamu menyatakan perasaanmu kepadaku ??? " tanya Leni sembari mengangkat setengah alisnya.


Menatap Laki Laki tampan dengan wajah teduh yang kini juga sedang menatapnya. Tapi Leni tidak merasakan debaran yang sama saat dirinya menatap mata Gabriel, Laki Laki berwajah dingin itu.


" Entahlah, Bagaimana hatimu memahaminya saja. " jawab Hans tersenyum, Dia hanya ingin sedikit mengalihkan perhatian Wanita itu dari kecemasannya. Tanpa berniat bertindak kurang sopan.


" Aku belum tahu, Hans. Kita jalani saja seperti biasanya. Biarkan takdir menjalankan perannya. " jawab Leni memberi keputusan yang ambigu membuat Hans merasa kurang puas. Tapi ya, sudahlah. Waktunya memang tidak pas.


Kenapa hanya Orang Tua dari Leni maupun Clara yang langsung memberikan restu padanya ??? Tapi tidak dengan Anak Anak Mereka yang sepertinya sudah memiliki pilihan masing masing.


Hans bangkit dari duduknya, Dia menghembuskan nafasnya sedikit berat. Dia butuh minuman segar,biar otaknya fresh.


" Tidak usah Hans. Terima kasih. " tolak Leni dengan seulas senyum di bibir manisnya. Hans mengangguk mengerti dan berlalu meninggalkan Leni sendirian.


Takdir memang belum berpihak kepadanya. Semua Wanita yang Dia dekati, semuanya sudah tidak bebas lagi. Hati Mereka sudah terjajah dengan Laki Laki yang Mereka pilih sebelum dirinya.


" Tuhan, Tolong sisakan satu Wanita yang menurutMu baik untukku. " gumamnya.


********


Yesline masih terus menciumi pipi Azka saat bayi mungilnya kini sudah terlelap disampingnya. Dengan bibirnya yang masih memompa Asi dari Ibunya. Dia sangat bersyukur, Putranya kembali dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun. Telunjuk Yesline menyentuh pipi merah milik Azka. Dia sangat tampan.


" Dia sudah tidur, dari tadi menangis terus waktu perjalanan kesini. Aku sangat khawatir. " kata Al yang berbaring di belakang Yesline, memeluk Wanita itu dengan sangat erat.


" Dia mungkin haus, campur takut dan rindu Mamanya. " jawab Yesline menimpali, matanya masih menatap Azka lekat lekat.

__ADS_1


" Rindu Papa dan rumahnya juga. " sambung Al langsung ikut mengoreksi. Tangannya menelusup masuk ke dalam pakaian Yesline, menyentuh kulit Istrinya yang mulus dan bersih. Yesline bergidik. Dia tau Suaminya itu sedang menginginkan sesuatu.


" Azka masih menyusu, Mas. Nanti malam ya ??? " bujuk Yesline dengan sedikit *******.


Al tertawa kecil dari belakang Yesline.


" Oke. Janji ya ??? Aku sudah kangen pengen gigit milikmu yang kenyal dan seksi itu. " jawab Al berbisik di telinga Yesline, Nafasnya membelai belai kulit Yesline, mentransfer sensasi hangat yang membuat tubuhnya merangsang seketika.


Yesline mengangguk sembari menahan rasa geli saat bibir Al mengecup daun telinganya dan sebagian kulit lehernya yang jenjang.


" Mas ...... " Dia mengerang, berusaha memanggil Suaminya yang terbawa suasana.


" Katanya Kamu mau ke Rumah Sakit, jenguk Dokter Gabriel ??? Ditunggu sama Mas Hans dan Mas Clinton diluar. " kata Yesline yang bersusah payah untuk mengingatkan Al soal rencananya sore ini.


Yesline berharap Gabriel baik baik saja. Bagaimanapun, Dialah yang membantu prose kelahiran bayinya hingga selesai, dan Gabriel pula yang menolong Putranya.


Al langsung menghentikan aksinya dan menghela nafasnya dengan berat.


." Iya. Aku sempat lupa." dengusnya. Kini Dia tidur terlentang.


Memang setelah dari menyelamatkan Anaknya tadi, Al dan Hans juga Leni, Mereka berpisah karena Al harus langsung membawa Azka yang terus menangis ke rumah, sedang Hans membantu Leni melarikan Gabriel ke Rumah Sakit.


" Mas, nanti saat Dokter Gabriel sudah sadar, Kamu harus bisa mengucapkan terima kasih. " kata Yesline mengingatkan sekaligus menegaskan.


" Turunkan egomu! Aku tau awalnya Kamu tidak menyukainya. Tapi sekarang Kamu pun tau, Dialah yang menyelamatkan Anak Kita. Dia adalah Laki Laki yang baik. "


" Iya. Aku sudah mulai memikirkannya. Menurutmu, Aku juga Laki Laki yang baik gak ??? " tanya Al lucu membuat Yesline tersenyum. Kata pujian biasa saja yang Yesline berikan untuk Orang lain, Dia juga menginginkannya. Suaminya memanglah Si Dokter yang penuh gairah dan yang selalu cemburuan gak jelas.


" Kamu adalah Laki Laki yang paling baik sedunia dan seakhirat, Mas. Laki Laki yang mampu membuatku menyerahkan seluruh hati, jiwa dan ragaku. I Love You Full Mas, Lope lope diudara buat Mas. " kata Yesline dengan suara lantang.

__ADS_1


__ADS_2