
Hans merangkul Clinton dan mengajaknya keluar seraya menutup pintu kamar. Setelah menutup pintu, Clinton nyelonong berjalan mendahului Hans yang masih senyum senyum sendiri tidak jelas.
" Buruan, Nanti kesambet setan penunggu kamar itu !!! " kata Clinton membuat Hans terkejut.
" Apa ??? Seriusan Kamu ??? " kata Hans panik dan berlari mengejar Clinton.
Dasar memang Clinton, suka ngejailin Orang. Sifat usilnya gak ketulungan. Clinton terkekeh saat mengetahui Hans yang berjalan begitu cepat.
" Dasar penakut!!! Callista itu suka Laki Laki pemberani !!! " sergah Clinton sembari berteriak agar Hans dengar. Tapi tidak ada tanggapan dan jawaban dari Hans membuat Clinton mulai penasaran saat tidak ada sahutan.
" Kemana Anak itu ??? "
Kepala Clinton celingukan kesana kemari, melayangkan pandangan ke segala arah, tapi tidak juga menemukan Hans. Dia menuruni tangga perlahan. Mengeluarkan ponselnya yang tiba tiba berdering.
Baru saja kakinya mau menginjak anak tangga terakhir tapi Clinton dikejutkan dengan bayangan putih yang lewat didepannya. Ponsel yang sedari tadi dipegangnya jatuh ke lantai. Layarnya pecah di beberapa sisi.
" Astaga, Hantu sialan !!! Kampret !!!! Lewat gak bilang bilang !!! " umpatnya kesal sambil berjongkok memungut ponselnya yang sudah retak dan rusak.
" Siapa yang tadi nelpon, Aish .... Gara gara Hant...... '' Clinton menggerutu.
Baru saja kepalanya hendak menoleh ke arah bayangan yang melewatinya tadi, tiba tiba di depan Clinton ada sosok berwajah putih, mata merah dengan beberapa goresan luka disekitar wajahnya. Karena saking kagetnya, Tibuh Clinton sampai terjengkang ke belakang, punggungnya menabrak dinding.
Tangannya meraba tubuhnya yabg berdenyut nyeri, seperti ada yang memar. Dia kembali teringat sosok yang Dia lihat tadi, dengan mata sedikit menyipit. Clinton memberanikan untuk menatap kembali sosok disamping tangga. Tanpa terasa, tubuhnya gemetaran karena seumur umur Dia tidak pernah melihat hantu. Salah apa yang Dia lakukan hari ini sehingga Dia melihat makluk itu.
Clinton mengusap wajahnya dengan kasar, Dia takut. Dia berjalan mengendap endap hendak mengintip sesuatu di anak tangga. Jantungnya rasanya sudah mau copot. Keringat dingin memenuhi keningnya. Nafas Clinton sudah tidak beraturan, Baru saja Dia mau melihat kebawah anak tangga, Dari arah berlawanan Hans keluar dari dapur dengan membawa segelas jus jeruk dingin.
" Ngapain sih Kamu ??? " tanya Hans yang sudah berdiri disamping Clinton.
" Ah ... Ee ... enggak apa apa. " jawab Clinton sambil merebut jus dari tangan Hans dan langsung meneguknya hingga habis. Hans berusaha menyembunyikan wajahnya yang menahan ketawanya.
" Rasain !!! " gumam Hans.
Berkali kali Clinton masih melihat ke bawah tangga dengan penasaran, jemarinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Mungkin Aku salah lihat. " gumam Clinton.
*********
Yesline melempar kertas ditangannya ke sudut kamar, Ada perasaan aneh yang mengganggunya.
" Seharusnya Kamu bangunin Aku duku, Mas. " gumam Yesline dan langsung meraih ponselnya langsung menghubungi Al tapi nomornya tidak bisa dihubungi. Yesline mencobanya berkali kali.
Tidak lama kemudian, Mamanya dan Leni datang dan mengetuk pintu kamar Yesline. Dia yang masih mengenakan piyama itu beringsut turun dari kasur, menghampiri pintu dan membukanya.
" Pagi, Sayang .... " sapa Mamanya dan langsung memeluk Yesline. Pasti Al sudah memberi tahu Mereka untuk datang. Sifat Al yang suka melempar Yesline untuk dijaga dan bersama Orang membuat Yesline merasa kesal dan marah. Dia mulai penasaran urusan penting apa yang membuatnya rela meninggalkan Dirinya diliburan Mereka.
Leni memperhatikan raut wajah Yesline yang gelisah dan murung. Seperti tau apa yang sedang dipikirkan.
" Mungkin ada urusan pekerjaan, Yes. " kata Leni menenangkannya.
__ADS_1
" Sayang, Jangan khawatir. Besok palingan Al sudah kembali. Dia tidak betah lama lama ninggalin, Kamu. " kata Mamanya mengelus rambutnya.
Yesline masih bergeming. Pikirannya tidak mau menerima apa yang Dia dengarkan barusan. Kali ini entah kenapa, Yesline memikirkan hal yang sebaliknya.
" Kamu mandi dulu ya, Trus sarapan. Habis itu Kita keliling keliling lagi. " kata Mamanya menggamit tangan Yesline, menuntunnya unthk duduk diranjang. Yesline masih melamun.
" Sayang ???? " panggil Mamanya dan tangannya membelai rambut Yesline.
" Iya, Ma. " jawab Yesline berusaha untuk tersenyum. Sedangkan Leni yang berdiri disampingnya sudah hafal dengan sifat Yesline. Ditinggal Al seperti ini pasti membuatnya tidak tenang.
" Cepatlah mandi, keburu siang. " pinta Mamanya lagi.
Yesline mengangguk, Perlahan berjalan menuju kamar mandi. Dia masih memikirkan Al.
Seharian itu, Yesline menuruti semua yang dikatakan Mamanya. Dia mengikuti kemanapun Mamanya pergi dan menerima semua barang yang Mamanya belikan untuknya. Namun, Pikirannya masih ke Al.
Hingga malam tiba, Mamanya dan Leni menawarkan diri untuk menemaninya tidur tapi Yesline menolaknya. Dia ingin sendirian.
" Baiklah. Kamu istirahat, Ya ... ??? "
Yesline mengangguk dang mengantar kepergian Mamanya dan Leni sampai ke pintu. Sambil berjalan ke tempat tidur, Yesline berusaha kembali untuk menghubungi Al tapi masih belum bisa dihubungi.
" Kenapa Mas Al tidak bisa dihubungi ??? Kamu kemana sih Mas ??? " gerutunya sambil melihat ponselnya.
Dia teringat sama Clinton dan langsung mencoba menghubunginya. Tidak lama kemudian, Clinton menerima panggilan dari Yesline. Yesline hendak mau bicara tapi Dia urungkan saat tiba tiba terdengar suara Clinton memanggil Seseorang.
" Callista !!!! Sini kemari, Ngumpul bareng, Ada Aaa ..... " tiba tiba sambungan terputus. Yesline tau apa kelanjutan kalimat Clinton.
Ada kesedihan kembali dihati Yesline, kecemburuan yang wajar Dia rasakan. Jika dulu Mereka masih Suami Istri, Ada cemburu juga tapi rasanya tidak sesakit ini. Al meninggalkannya di Bangka dan oulang ke Jakarta hanya demi sesuatu yang ada hubungannya dengan Callista.
" Tapi apa ??? Kamu tega, Mas !!! "
Memikirkannya membuat dada Yesline sesak.
" Kamu pergi tanpa pamitan, dan ponselmu tidak bisa dihubungi. Kamu tidak memikirkan perasaanku. Kamu bahkan selalu menitipkanku ke Orang Orang seperti barang !!! Didalam hatimu, Kamu anggap Aku apa, Mas ??? " isak Yesline. Hatinya menjerit perih.
" Leni, Aku haru pulang ke Jakarta. Tolong urus penerbanganku. Tapi tolong Mama jangan sampai tau. Semuanya jangan sampai tau. Aku menganggapmu sudah seperti Keluargaku Sendiri. Tolong bantu Aku. Jangan tanya kenapa, Kamu pasti sudah tau apa yang Aku rasakan, Len.. "
Yesline mengirim pesan ke nomor Leni. Dia menegakkan tubunya dan menarik nafasnya serta mengusap airmatanya.
********
" Gawat !!!! " pekik Clinton tiba tiba, suaranya sengaja dipelankan. Dia tidak ingin Callista yang berjalan kearahnya mendengar itu. Tapi karena terlalu pelan, Al juga tidak bisa mendengarnya.
Laki Laki itu masih fokus menatap Callista, Setelah mendengar rekaman dari Clinton, Dia kelihatan sangat bersalah dengan apa yang terjadi dengan Callista. Dia jadi mengasihani Wanita itu.
" Gawat kenapa ??? " tanya Hans yang duduk didekat Clinton. Mereka saling duduk melingkar di halaman rumah Al, menyalakan perapian ditegah tengahnya sambil membakar jagung. Al duduk sedikit jauh dari Mereka. Disusul Callista yang mengatur duduknya didekat Al.
Clinton sedikit mencodongkan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu ke Hans. Mendengar apa yang Clinton katakan membuat Hans terkesiap.
__ADS_1
" Ini benar benar gawat !!!! Gara gara Kamu akan ada perang kedua !!! " sahut Hans.
Bukannya panik, Dia malah bahagia. Akhirnya ada cela antara Al dan Yesline. Dia lupa beberapa jam sebelumnya, Dia memuji kecantikan Callista. Sekarang kembali mengharapkan Yesline.
Dasar memang Hans, Plipan. Mana yang ada peluang, itu yang akan disambar.
" Makanya itu. Aku kasih tau Al dulu deh. Biat Dia bisa antisipasi. " kata Clinton.
" Heemm. " jawab Hans yang mulai malas karena Clinton tidak mengerti perasaanya.
" Al !!! "
" Clin !!! "
Mereka saling panggil, tapi Al mendahului Hans untuk bicara.
" Aku perlu bicara dengan Callista. Kalian berdua bisa pergi dulu. " kata Al membuat Clinton bingung.
" Tapi Al, Ada yang penn.... "
" Apa sih ?? Bisa gak disuruh pergi langsung pergi ajah !!! gak usah banyak tanya !!! Seharusnya Kamu tau kondisinya. Saya perlu bicara dengan Callista, jadi Kalian bisa pergi sekarang !!! " bentak Al dengan ketus , menatap garang Hans dan Clinton.
" Iya sudah .... Terserah Kamu deh !! " sentak Clinton sedikit kesal.
" Biarkan saja. Kita pergi sekarang. " ajak Hans.
" Saya gak akan ikut tanggung jawab kalau terjadi apa apa. "
Mereka langsung pergi meninggalkan Al dan Callista. Hans langsung masuk kedalam rumah disusul Clinton.
Al memutar tubuhnya menatap Callista. Menatap kedalam matanya, ada banyak kesedihan disana. Al tahu, kali ini Callista benar benar sedih.
Matanya masih merah, dengan ragu Callista hendak menyenderkan kepalanya di bahu Al. Tapi Dia ingat, Mereka bukan Suami Istri lagi, dan Al pasti tidak akan mengijinkan. Lagian Callita tidak mau membuat Yesline salah paham jika melihat Mereka.
Al seperti bisa menangkap bahasa tubuh Callista. Dia bereaksi berbeda. Dia duduk disamping Callista yang menghadap ke depan, Al kini tau bahwa Callista butuh Seseorang. Dia tidak memiliki siapa siapa lagi untuk berbagi kesedihan kecuali Dirinya.
" Ceritalah !!! Aku akan mendengar semua cerita Kamu malam ini. " kata Al tanpa menoleh untuk melihat Callista.
Callista menatap Al masih tidak percaya. Al kembali menepuk nepuk bahunya.
" Jangan banyak berpikir. Bersandarlah jika butuh sandaran. Aku tidak akan menawarkan untuk yang kedua kalinya. " kata Al.
Dengan ragu Callista mendekatkan kepalanya dan bersandar di bahu Al. Dia juga menggamit lengan Al, lalu menangis disana. Al berusaha untuk mengerti. Tanganya mengelus elus lengan Callista untuk menenangkan. Tubuh Callista sedikit bergoncang karena tangisannya.
" Aku tau Om Erwin jahat, Tapi Aku tidak menyangka bahwa Dia yang memanipulasi kematian Orang Tuaku. " kata Callista mulai bicara. Dia menggesek gesekkan hidungnya yang basah ke lengan baju Al dan Al diam saja. Dia masih terus mendengarkan. Menatap lurus kedepan, melewati gelapnya malam.
" Dia melakukannya hanya karena harta warisan Kakek yang sebagian besar diberikan ke Papa sama Mamaku. Dia benar benar kejam!!! " katanya sambil mencengkeram lengan baju Al.
" Tapi yang paling menyakitkan lagi adalah kenyataan bahwa kebenaran yang sudah Aku yakini bertahun tahun sampai mengubahku menjadi Orang jahat dan harus merusak hubungan Kita. Aku bahkan sampai kehilangan Kamu, semuanya adalah bohong !!! Dia menjadikan Aku boneka yang sangat hina, Aku ingin membunuhnya dengan tangankj sendiri !!! " jerit Callista. Dia menumpahkan semuanya.
__ADS_1
Al masih tidak merespon. Dia masih membiarkan Callista mengeluarkan kekesalannya.
" Erwin Sialan !!! Bajingan !!! Kamu juga bajingan, Al !!! Dia hampir meniduriku !!! ...... "