
Callista baru saja selesai menidurkan Chloe, sekarang tepat pukul dua siang. Callista berjalan menuju kamarnya sambil menyalakan televisi, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Dengan kaki diselonjorkan dan sebuah bantal diletakkan di atas pangkuannya sebagai sandaran tangan.
Kedua mata Callista menatap lurus ke depan, dia fokus ke layar televisi yang menampilkan wajah Al dan menyorot tentang rumah sakitnya. Al laki laki yang dulu pernah menorehkan luka di masa lalunya. Dia syok juga waktu melihat beberapa wartawan mengerumuni Yesline yang nampak berteriak meminta belas kasihan. Callista nampak fokus menonton. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Yesline tapi tentu saja tidak mungkin diangkat. Wanita ini pasti panik dengan kondisi Azka dan yang sedang terjadi di sana.
Callista terlihat kembali menekan nomor ponselnya dan menghubungi nomor yang lain. Dia ingin tahu kondisi rumah sakit bagaimana, terkadang yang terjadi di dunia nyata dan yang diberitakan oleh media tidaklah seimbang.
"Bagaimana keadaan Dokter Al?'' selidik Callista, jika terjadi sesuatu dengan rumah sakit, pasti keadaan direktur di sana akan banyak disorot bukan?
Callista nampak mengangguk angguk mendengar penuturan di seberang telepon. Dia akan memantau kelanjutan kasus itu dari dalam kamarnya, bagaimanapun juga dia dulu memiliki hubungan dengan rumah sakit itu.
"Baiklah, kabari aku secara berkala." Callista menekankan.
Dia mematikan teleponnya kembali dan turun dari kasurnya. Callista menuju dapur, dia mengambil sebuah rantang khusus makanan, lalu berjalan mengitari meja makan dan memasukkan beberapa lauk juga nasi ke dalam rantang. Dia akan ke rumah sakit, pasti Al atau Yesline butuh makanan, mereka pasti belum dan mungkin tidak sempat memikirkan soal makanan. Sebelum ke rumah sakit nanti, Callista akan mengunjungi kantor suaminya. Dia yakin Nicho belum tahu soal kabar Al dan Yesline karena Nicho belum menghubunginya.
Callista akan menitipkan anak anaknya kepada orang tua Nicho, nenek dan kakeknya. Callista akan mengantar Chloe ke rumah mertuanya nanti. Dia akan bersiap siap dulu.
Sementara di kantor, Nicho hari ini benar benar sibuk, banyak klien yang harus dia temui. Lokasi klien berbeda beda, ada yang di dalam kota dan ada juga yang di luar kota. Dari anggota geng kampret hanya Nicho yang masih adem ayem belum tahu soal kasus Al yang sedang trending topik kini.
Nicho menyentakkan punggungnya ke belakang, menyandarkannya pada punggung kursi. Dia meregangkan otot ototnya yang mukai terasa pegal dan sakit semua. Datanglah sang sekretaris yang membawakan dokumen yang harus ia tanda tangani. Yanti sudah mengetuk pintu dan mengucap salam tapi Nicho belum menjawab jadi dia lebih memilih untuk langsung masuk.
"Pak, ini beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan bapak, bisa bapak tanda tangani. Saya permisi dulu." ucap Yanti dengan sopan tapi matanya memperhatikan Nicho yang tak menggubrisnya karena Nicho sedang memejamkan mata sambil memijat pundaknya menggunakan tangannya sendiri, Yanti ragu ragu apa CEO nya itu membutuhkan bantuan dirinya untuk menghilangkan pegal di pundaknya?
__ADS_1
Yanti mengayunkan kakinya mendekati Nicho, dengan hati hati dia berucap, "Pak, apa bapak keberatan jika saya bantu memijat pundak bapak? Sepertinya hari ini bapak benar benar capek."
Mengetahui Yanti sudah berdiri di sampingnya, wangi parfum Yanti sudah mengusik hidungnya. Nicho membuka mata, dia melihat ke arah Yanti sebentar sebelum menjawab.
Wanita ini kalo dibiarin bakalan ngelunjak, wangi parfumnya emang menggoda, tapi Callista tetap yang paling cantik. Tapi, boleh gak sih, kalo dia terima tawaran dia buat mijatin pundakku? Pegal amat emang ini pundak.
Yanti berusaha membaca respon yang diberikan oleh Nicho, wanita itu bisa menyadari kalo Nicho tengah memikirkan tentang karakternya. Yanti buru buru mengoreksi, dia tidak mau dikatakan ingin menggoda bosnya.
"Em, sebenarnya tidak sopan jika saya lakukan itu tanpa seijin bapak, saya cuma mau bantu bapak saja, Pak. Tidak ada niatan buruk. Kalo bapak tidak berkenan, saya mohon permisi," jelas Yanti sambil membungkukkan badan dan berniat pergi. Tapi Nicho menghentikannya.
"Tunggu Yanti!!''
Wanita itu menghentikan ayunan langkahnya dan tersenyum puas, merasa punya nyali dan kesempatan untuk melakukan sesuatu.
Raut wajah Nicho langsung berubah, seperti maling yang ketahuan, padahal dia tidak sedang melakukan pelanggaran, tapi syukurnya Yanti belum sempat di dekatnya dan menyentuh pundaknya. Bisa terjadi perang dunia ke tiga ini.
Yanti yang berdiri membelakangi pintu tidak sepenuhnya sadar kalo bu bosnya datang. Nicho bergegas mendekati Callista yang melotot menatap ke arah mereka.
"Halo sayangku, hhmm.... Makan siang buat aku ya? Wanginya enak bangat," seru Nicho yang langsung menyerobot rantang yang dibawa Callista tanpa mempedulikan reaksi istrinya itu. Seketika Yanti menegang, dia membalikkan badan dengan hati hati, dan tersenyum ramah kepada Callista. Sementara Callista sudah menatapnya dengan mata tajam.
Dengan anggunnya, Callista berjalan mendekati Yanti, dia berhenti tepat di telinga Yanti, Callista berbisik, "Kalo kamu masih sayang sama pekerjaan dan nyawa kamu, fokuslah kerja jangan macam macam, apalagi sama suamiku!'' ancam Callista, Yanti menelan salivanya saking takutnya dengan ancaman Callista. Suara bisikan Callista seperi suara kidung kematian yang membuatnya merinding. Yanti memundurkan dirinya.
__ADS_1
"Saya permisi dulu ya, Pak? Bu?" katanya gugup, Yanti berjalan tergopoh gopoh keluar ruangan, belum apa apa sudah ke gep.
Nicho yang duduk di sofa berpura pura menyibukkan diri membuka rantang makanan yang Callista bawa. Wanita itu menyusul Nicho.
"Ayo makan bareng sayang? Aku suapin ya?'' ajak Nicho.
"Kamu aja, Mas. Aku sengaja bawa ini buat kamu, aku runggu disini kamu makan yang lahap ya?''
Nicho menganggukkan kepalanya. Di dalam benaknya dia sudah mengucapkan kalimat alhamdulillah ratusan kali. Karena tidak jadi kejadian di film film, bos ketahuan main serong dengan sang sekretaris.
Ah, sial! Amit amit jabang bayi!
*********
Clinton menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana di sebuah pelosok desa. Lumayan sulit untuk mobil mencapai jangkauan rumah itu. Clinton harus bertanya ke banyak orang, juga berkali kali terpaksa meminta bantuan orang atau pejalan kaki yang kebetulan lewat saat mobilnya tidak bisa jalan, karena ban mobil tersangkut pada lubang lubang di jalan yang tergenangi.
Clinton turun dari mobilnya, setelah dia melakukan penyamaran sebagai reporter yang kebetulan meliput kasus yang kini sedang viral tentang rumah sakit Al. Clinton mendekati rumah itu dan mengetuk pintu.
Lama tak ada jawaban, sampai Clinton capek berdiri dan merebahkan dirinya di atas sebuah dipan kayu di depan rumah itu.
Clinton ketiduran. Dia terkesiap saat ada sebuah suara mengagetkannya dan menariknya kembali ke dunia nyata.
__ADS_1
"Siapa Anda?''