
" Apa?? " pekik Clinton dengan sangat kaget.
Sungguh, apa yang didengarnya kali ini sama sekali tidak terduga sebelumnya.
" Dia bebas atau kabur? " tanya Clinton.
"Bebas." kini Al yang menimpali.
"Apa?! Gila!'' Clinton menggebrak meja. Al spontan terkejut melihat reaksi Clinton yang menurutnya begitu berlebihan. Sementara Hans berusaha menenangkan degup jantungnya yang menggila karena gugup.
"Iya. Dia sudah bebas. Dan lebih gilanya lagi, ia meminta kamu untuk mengembalikan klub alexiz kepadanya."
Clinton terkejut mendengarnya.
'Saya tidak meminjam, kenapa harus disuruh mengembalikan?' pikirnya.
"Saya gak bisa. Tempat ini bersejarah buat saya dan Clara, mana bisa aku kembalikan ke dia? Lagian saya juga bukan minjam." Clinton menolaknya dengan tegas.
" Tapi, kamu juga gak beli dari dia, Clinton. Karena itu mungkin dia merasa punya hak untuk memintanya lagi." Nicho menimpali.
__ADS_1
Clinton terkekeh pelan, yang dikatakan Nicho benar. Tapi.... tetap Clinton tidak bisa mengembalikannya. Club ini tempat awal Clara dan dirinya bertemu.
"Ya udah deh, itu memang hak kamu sih. Saya cuma nyampeiin. Saya pamit dulu ya?" Nicho menepuk pundak Clinton lalu pergi. Disusul Hans juga ikutan pulang.
*********
Selama perjalanan, Nicho masih termenung. Dia memikirkan semua yang dikatakan oleh mami. Memang benar istrinya dulu adalah dalang dari semuanya, dia jahat dan.... Tapi Nicho tidak bisa menghukumnya kini.
Dulu pun, Al mengampuninya karena dia mau membantu menangkap Erwin. Sesampainya di rumah pun, Nicho masih kelihatan sekaki banyak pikiran, dia duduk di sofa ruang tamunya dengan wajah lesu. Callista yang menyadari ada hal yang aneh dengan suaminya. Buru buru membuatkan minuman lalu menaruhnya di depan Nicho, diatas meja. Nicho hanya menatap Callista sekilas yang melewatinya. Dengan tersenyum yang amat dipaksakan.
Dia mencintai pemilik wajah itu, dan tidak mau jauh darinya. Callista berdiri dibelakang Nicho dan mulai memijit pundaknya. Nicho memejamkan matanya, menikmati ketenangan dan pijitan Callista yang enak.
"Aku mencintaimu, sayang. Aku akan melakukan apapun untuk menjagamu." Nicho mengatakannya dengan nada sungguh sungguh, meski Callista sempat bingung, kenapa suaminya tiba tiba berkata seperti itu. Tapi dia hanya tetap tersenyum dan mengecup pucuk kepala Nicho.
*****
Suasana di rumah Al Gunawan.
Saat dia pulang dari rumah sakit, dia melihat Yesline sedang membacakan dongeng di kamar Azka. Ya, hari ini dia pulang larut malam, sekitar jam 9 malam, karena niat hati ingin menemani sang istri, namun malah ada panggilan operasi darurat. Setelah itu, ia harus menemani Nicho dan Hans untuk menemui Clinton untuk membahas masalah mami.
__ADS_1
Karena tidak mau mengganggu Azka yang sudah mulai mengantuk, dia memilih langsung menuju kamarnya. Al membersihkan diri di kamar mandi, hingga tak lama kemudian terdengar suara dari luar, suara Yesline yang sudah berada di dalam kamar. Al tersenyum senang. Dia buru buru mempercepat proses mandinya, dia sudah merindukan Yesline dan ingin memeluknya.
Namun, dia lupa. Dia tidak membawa handuk. Al melongok, kepalanya keluar dan melihat Yesline sedang duduk di kasur, memainkan ponselnya tanpa ada senyum di bibirnya. Al tahu, Yesline masih merajuk.
"Sayang, tolong ambilkan aku handuk, aku lupa gak bawa." rengeknya, tanpa menjawab Yesline langsung berjalan ke arah lemari dan mengambilkan handuk untuk Al. Lalu dia berniat pergi begitu saja, tetapi dengan cepat, Al sudah menarik salah satu tangan Yesline, menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Ya, Al masih belum berpakaian atau memakai handuk. Dia menarik istrinya dalam keadaan polos dengan tubuh yang masih sedikit basah. Yesline sedikit kaget karena yang ditarik tiba tiba dan dia memberontak tapi Al tak berniat untuk melepasnya. Dia gemes melihat Yesline yang semakin cantik dan manja aja, padahal dulu dia begitu kuat dan mandiri. Tapi Al suka dengan Yesline yang manja ini.
"Lepasin aku, Mas. Aku gak suka, gak boleh meluk meluk! Kita masih marahan!" protes Yesline, berusaha terus mendorong dada Al. Tapi Al malah hanya tersenyum saja.
''Kita? Hanya kamu yang masih marah sama, Mas. Aku mah gak. Jadi aku boleh melukai, kamu dosa kalau nolak." Al menimpali, masih terus menyunggingkan senyum kepuasannya.
"Bicaramu sudah seperti Hans, tapi bedanya Hans gak cemburuan!" ketus Yesline. Wanita itu tahu, jika dibikin marah pasti pelukannya akan dilepas. Tapi Al sudah tahu niat Yesline, jadi dia berusaha menahan perasaanya. Dia menarik nafas sebanyak mungkin untuk tidak marah.
"Gak apa apa. Aku cemburu tandanya sayang. Kalau gak cemburu berarti gak sayang. Kamu emangnya mau, Mas cuek seperti itu? Tidak merasa takut kehilangan kamu? Kalau kamu maunya seperti itu, mas perlu latihan dulu untuk tidak mencintai kamu." sergah Al, yang langsung membuat wajah Yesline berubah. Dia memukul dada Al dengan kesal. Bisa bisanya dia bisa berbicara seperti itu.
'Belajat untuk tidak mencintainya? Awas aja kalau sampai berani!" sungut Yesline dalam hati.
Dia masih gengsi untuk membalas pelukan Al, tapi juga tidak menolak saat bibir Al sudah melengkapi bibirnya. Menciuminya dengan inten. Saat tangan Al, melepas satu demi satu pakaiannya, hingga ia benar benar polos. Yesline seperti terlihat oleh Al, membuat Al semakin bermain liar malam itu. Merasa di atas angin karena Yesline sudah menikmati sentuhannya lagi.
Esok harinya
__ADS_1
Azka menarik tangan Yesline, memaksanya untuk mau diajak bermain perosotan di halaman depan rumahnya. Yesline menurut saja. Padahal saat keluar dari kamarnya tadi, dia sedang mencari Al, dia belum melihat suaminya itu sama sekali dari pagi. Sekarang hari minggu, jadi pasti tidak ke rumah sakit.
"Kemana mas Al?" gumam Yesline lirih.