Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 246


__ADS_3

Di jalan ada polisi yang sedang berpatroli. Hans yang masih berada di dalam mobil langsung turun, dia akan meminta bantuan untuk mencari pasalnya Hans sudah berulang kali menghubungi ponsel Meriam tapi tidak aktif, maka dari itu ia memutuskan menghubungi keamanan setempat. Meski dia tidak bisa bahasa korea, dia mendownload aplikasi penerjemah, dengan gugup dan tergesa gesa Hans Hans menghampiri orang orang di depan sana, yang sedang melakukan penutupan jalan untuk rajia kendaraan.


Hans membuka aplikasinya dan mulai berbicara.


"Pak mohon maaf, apa anda bisa membantu saya mencari istri saya? Kami baru tiba kemarin di korea, malam ini saya kehilangan istri saya di acara festival kembang api."


Dalam hitungan detik aplikasi sudah merubah bahasa indonesianya ke dalam bahasa korea.


Beberapa polisi itu menganggukkan kepala, mengerti.


Mereka menjawab dengan bahasa mereka, Hans tidak mengerti, lalu dengan cekatan polisi itu mengambil alih ponsel Hans untuk meminjam aplikasi pengubah bahasanya. Mereka mengulangi apa yang baru saja mereka katakan.


"Seharusnya ada prosedur khusus untuk anda warga negara asing melapor soal kehilangan, dan ini juga belum ada 24 jam. Maaf kami tidak bisa membantu apa apa. Anda bisa menunggu besok dan datang ke kedutaan indonesia untuk mendapatkan surat pengantar dari kepala kedutaan. Baru polisi negara kami akan bisa memproses keluhan anda. Kami harap anda mengerti dan kami ikut prihatin atas apa yang menimpa anda."


Hans lemas, kakinya seperti tak bertenaga. Nafasnya tiba tiba sesak, dia sendirian dan tidak ada yang membantu.


Hans kembali ke mobilnya dan berputar arah, dia akan mencari sendiri, bagaimana bisa dia menunggu esok hari, jika itu untuk keselamatan sang istri.


Meski tidak tahu dimana tepatnya daerah atau kota yang Hans lewati, tapi dia hanya terus melajukan mobilnya sampai dia memutuskan kembali menyisir dari tempat festival untuk yang kesekian kalinya. Dan di sana, di dekat hutan, Hans melihat ada seseorang yang minta tolong, dia sudah melintasi hutan itu hampir tujuh kali dan kenapa baru mendengar suaranya?


********


"Hai, manis?'' sapa penghadang. Meriam yang menghilang, terlepas dari genggaman Hans mulai ketakutan, saat dirinya dihadang beberapa pria jahat apalagi ponsel Meriam juga terjatuh entah dimana, dia sudah tidak ingat saking paniknya terpencar di keramaian saat festival tadi, orang orang itu sepertinya dari indonesia juga, mereka bisa bahasa indonesia.


Ternyata dari tadi Meriam juga mencari Hans. Dia bolak balik dari tempat festival ke jalan raya dan berputar ke sekitar tempat itu sampai kembali melintasi hutan lagi dan tiba tiba di hadang oleh orang orang itu.


Meriam membeku, mereka masih di atas motor, menghadangnya. Ingin maju tidak bisa, mundur pun sudah ada yang menghadang jalan Meriam. Dia benar benar terpojok.


Meriam bahkan tidak bisa bela diri, dan dihadang beberapa berandalan membuatnya merinding.


"Kamu bukannya juga orang indonesia, kenapa menghadangku dengan tatapan seperti itu?" Meriam mencoba mengajak salah satu dari mereka untuk berbicara.


"Memangnya kenapa, Manis?" tanya salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Dasar berandalan! Mau apa kalian?'' tanya Meriam yang mencoba bersikap tenang.


Kelima orang itu tertawa. Meriam menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


"Tentu saja kami penasaran dengan kamu." berandalan itu mencoba mencolek dagu Meriam, tapi segera di tepis olehnya.


"Wooooo, galak ternyata, Joon!'' komentar salah satu si penggoda Meriam. Sepertinya bernama Joon.


"Aku suka cewek galak!'' seru Joon kemudian tertawa tidak jelas.


"Jangan mendekat!" seru Meriam yang mulai merasa khawatir.


Kamu harus melawan mereka, Mer.


Meriam memasang kuda kuda. Bersiap untuk melawan jika para berandalan itu menyerang. Dia hanya bisa asal nonjok. Semoga Allah menjaganya.


"Wah, perempuan tapi jagoan ini. Aku suka!" Joon semakin bersemangat.


"Banyak omong!'' seru Meriam, suaranya terdengar jengkel.


"Serang!'' Joon memimpin para berandalan itu, mengelilingi Meriam.


Sekarang, Mer.


"Oke!'' Meriam pun maju, berbicara dengan dirinya sendiri, menyerang salah satu berandalan tersebut.


Meriam menyapu kaki Joon yang terlihat tidak siap, dengan asal tapi untungnya kena.


"Ah, sialan!'' seru Joon kesal, meski dia bisa berdiri kembali.


"Benar benar jagoan kamu, Manis." sergah Joon kemudian tertawa.


Saat Joon akan memeluknya, Meriam berkelit sambil memukul pinggang laki laki itu dengan kuat. Sayangnya, badan Joon terlalu kuat, pukulan itu tidak ada pengaruhnya baginya.

__ADS_1


"Lincah kamu ternyata," Joon terkekeh melihat kegesitan Meriam.


"Ayo sini, Manis. Lawan kami!'' seru Lex.


"Waow, lembut sekali tendanganmu!'' seru Lex meremehkan.


"Jangan dicubit dong, sayang," Lex menggoda Meriam yang sudah terlihat marah.


Joon tiba tiba memeluk Meriam dari belakang.


Meriam berontak, dia menangis ketakutan. Hingga tangannya menyikut perut laki laki itu.


"Aduh, kuat juga!" seru berandalan tersebut seraya melepas pelukannya.


Berandalan yang lain mencoba menarik lengan Meriam.


"Ayo, lawan saya!" serunya.


Meriam semakin takut tapi tetap waspada. Meski tubuhnya mulai gemetaran, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi.


Mas Hans, tolong aku.


Dari arah belakang Meriam, Joon berjalan perlahan membawa sebatang kayu yang cukup besar, pria itu berjalan mendekati Meriam. Namun, Meriam tidak menyadarinya.


Seperti ada yang mendekatinya dari belakang Meriam menoleh dan menjerit minta tolong.


"Tolong!!!! Siapapun tolong aku!!''


Mereka semakin tertawa dengan keras.


Punggung Meriam dipukul dengan sepotong kayu oleh berandalan lain. Pandangan Meriam kabur, dia menggerakkan tangannya berusaha menggapai sesuatu.


"Mau kemana sekarang, Manis?" tanya para berandalan itu, menyeringai ke arah Meriam.

__ADS_1


Mereka tentu saja menghadang Meriam yang akan berlari.


Namun, beberapa detik kemudian Meriam sudah tergelatak pingsan.


__ADS_2