Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 252


__ADS_3

Malam ini Leni sibuk packing untuk keberangkatannya ke Korea, tiba tiba Leni teringat jika dirinya belum mengajak Callista. Leni segera meraih ponselnya di atas meja rias, ia berniat menghubungi Callista namun ketika melihat notifikasi pesan masuk dari Yesline, Leni lebih memilih untuk membuka pesan dari Yesline terlebih dulu.


Len, tadi aku coba ajakin Callista, tapi dia katanya gak bisa ikut kayaknya soalnya Nicho sibuk. Oh ya, mau info juga besok kita pake private jet Al aja. Dia lagi badmood, aku gak mau Al makin badmood kalo make private jat Gabriel.


Leni pun segera membalas pesan Yesline sambil sedikit tersenyum menatap layar ponselnya.


Yah.....Sayang bangat, Callista gak bisa ikut. Padahal aku baru mau telepon dia. Oke deh, kalo pake private jet Al. Tapi kayaknya bakal kebalik yang badmood pasti Gabriel. Hehehe...


Tenang aja kalo Gabriel enggak akan badmood, dia lebih memilih tahan banting daripada Al. Hahaha.....


Hahaha.... Mungkin menurut aku lebih bertahan karena jatahnya kali iya. Eh, udah ah. Gak ada habisnya kalo chat an sama kamu. Aku mau packing dulu. Sampai ketemu besok, ya!


Oke!!


Leni meletakkan ponsel keluaran terbaru itu dengan asal. Maklumin aja ya, Leni kan istrinya Gabriel yang banyak duit, ya jadi ponsel mahal itu udah kayak ponsel yang harganya dua ratus ribuan.


Ceklek,


Pintu kamar Leni terbuka, dan munculnya wajah sang pujaan hatinya, Gabriel yang sedikit tersenyum terpaksa. Tentu saja membuat Leni mengerutkan keningnya karena melihat wajah Gabriel yang tidak biasanya.


"Sayang, kamu semangat bangat packing nya." ucap Gabriel tersenyum memaksa menghampiri Leni.


"Iya semangatlah, Mas. Secara mau liburan sama teman teman. Emangnya kamu gak suka liburan?! Kok ngomongnya begitu?!'' sahut Leni.


"Ish, kenapa sih wanita itu suka bangat menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya dan mencari tahu yang sebenarnya. Aku itu bukan gak suka liburan----" belum selesai Gabriel melanjutkan ucapannya, Leni langsung memotong perkataannya.

__ADS_1


"Oh.... Jadi maksud kamu, aku nuduh kamu, gitu?! Kamu kok jahat bangat sih, Mas. Liburan ini tuh bukan keinginan aku tapi keinginan anak kamu juga! Tapi kalo kamu gak mau nurutin enggak apa apa, biarin aku pergi sendiri aja!! Toh kamu juga udah gak sayang sama aku lagi kan?! Dasar laki laki dulu aja bilang cinta, giliran udah dapat dinikahin malah beda lagi sama ucapannya. Emang semua laki laki sama aja! Enggak bisa dipegang ucapannya! Udah Mas, aku mau tidur di kamar tamu aja, malas aku ngomong sama suami dan calon papa yang enggak peka kayak kamu!'' cerocos Leni dengan wajah cemberut dan sedih.


Sementara Gabriel, jangan ditanya lagi wajahnya benar benar bingung dengan wajah tampannya ia melongo mendengar ucapan panjang istrinya.


Perasaan aku cuma ngomong dikit, kok balasannya panjang banget?! Ini aku yang salah dengar apa Leni yang aneh sih? Astaga Gabr, kamu harus ingat kalo cewek itu maha benar bukan netizen aja yang maha benar!


Ucap Gabriel dalam batinnya.


Gabriel yang masih bingung di tengah rentetan kata kata dari Leni sampai tidak sadar jika Leni sudah keluar dari kamarnya dan meninggalkan koper dan beberapa pakaian yang sedang ia packing.


"Astagfirullah, baru sadar aku ditinggalin ngambek sama biniku!! Bisa kacau ini dunia perranjangan kalo Leni ngambek." gerutu Gabriel yang baru sadar jika Leni sudah tidak berada di depannya dan segera ia berdiri untuk menyusul Leni.


Namun, baru saja ia bangkit dari duduknya, pintu kamar terbuka kembali dan menampilkan sosok Leni dengan wajah kesalnya.


Gabriel semakin shock melihat tingkah Leni yang seperti itu, padahal dia berniat mau mengejar tadi. Gabriel menghembuskan nafas dengan kasar sambil mengacak acak rambutnya.


"Ya ampun, begini bangat hidup aku!'' keluh Gabriel.


********


Berbeda dengan Gabriel yang sedang marahan dengan Leni. Al, Clinton dan Nicho kini sedang kumpul di klub alexiz.


"Kamu yakin tuh cewek berhenti di rumah Lusi?" tanya Nicho sambil menyesap minumannya. Bukan minuman beralkohol ya! Semenjak memiliki anak, Nicho dan Callista sama sama memutuskan untuk berhenti minum minuman beralkohol. Berbeda dengan Al dan Clinton yang sesekali masih suka minum tapi enggak banyak. Dan enggak sampai mabuk juga.


"Iyalah, yakin. Kamu pikir aku salah lihat gitu?!" sarkas Al kepada Nicho.

__ADS_1


"Biasa aja kali! Lagi pula Lusi udah tenang di alam sana. Kamu harus bisa lupain dia." ucap Nicho kembali.


Sementara Clinton hanya fokus mendengarkan kedua temannya itu membahas mengenai Lusi.


"Cuih, kamu gampang lupain hal itu! Bahkan sampai detik kematiannya kamu juga gak mau ngakuin kesalahan kamu, dia meninggal ditangan aku! Dan karena dialah, aku lebih milih jadi dokter dibandingkan ngurus usaha usaha kakek!" sarkas Al yang kesal dengan ucapan Nicho.


Nicho pun sedikit terkejut karena baru tahu alasan Al, sepupunya itu menjadi Dokter.


"Al, itu udah yang lalu. Kamu hidup ke depan bukan kebelakang, apalagi kamu udah ada Yesline dan Azka. Kamu harus ingat itu dan jaga perasaan mereka. Kalo kamu bisa jaga mereka, biar aku yang jaga! Aku rasa Callista bakal izinin aku kalo poligami," balas Nicho sengaja membuat Al takut.


Clinton yang mendengar ucapan Nicho langsung melihat wajah sahabatnya Al. Dan meneguk salivanya sendiri kalah melihat wajah Al yang sudah marah menahan amarah.


"Mampus kamu, Nicho kalo udah ngomong seenak jidat sih!" batin Clinton.


Sementara Al, ia bangkit dari kursinya, memundurkan tubuhnya sedikit dan menghadap ke wajah Nicho. Sebelah tangan Al menarik kerah kemeja Nicho, dan sebelah tangannya melayangkan satu pukulan ke wajah Nicho.


"Asal kamu tau, aku gak bego buat ngelepasin masa depan aku hanya untuk masa lalu. Harusnya kamu sadar dan ingat, Lusi bunuh diri karena ulah kamu, dan kesalahan terbesarku adalah aku yang ngajak Lusi buat nemuin kamu. Andai hari itu aku gak ngajak Lusi buat nemuin kamu mungkin dia masih ada, sekarang!!'' pekik Al kesal.


"Dan kalo dia masih ada kamu sekarang udah kawinin dia gitu?! Berusaha, tanggu jawab sama kehamilannya?! Kamu harus tau, Lusi hanya manfaatin kamu, dari awal aku pake dia, dia udah gak perawan! Dan asal kamu tahu, Lusi itu jual diri ke Om Om. Jadi wajar aku nolak tanggung jawab, aku make dia cuma sekali sedangkan sama Om Om lain udah sering! Jelas dong itu bukan anak aku! Dan satu lagi, jodoh, rejeki, kematian, itu semua takdir Tuhan. Dan kematian Lusi emang udah takdirnya, jadi kamu jangan terlalu merasa bersalah atas kematian Lusi. Lebih baik kamu fokus bahagiain Yesline dan Azka apalagi Yesline lagi hamil." sanggah Nicho dengan menceritakan kejadian masa lalu itu yang sebenarnya kepada Al, kejadian yang membuat hubungan sepupu itu retak.


Al sedikit terkejut! mendengar ucapan Nicho, begitu juga dengan Clinton, fakta Lusi menjual dirinya.


"Siapa Lusi?''


Clinton, Al dan Nicho sedikit terkejut kala mendengar suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2