
" Kenapa sayang .... Ada apa ???? ''
Hans dan Clinton ikutan khawatir dan diam mendengar jawaban Al. Mereka semakin cemas karena Yesline hanya diam dan tak menjawabnya lagi. Sampai terdengar suara Leni yang mengambil alih telepon itu.
" Sayang, ada apa ???? "
" Halo Pak Al, Maaf Pak, Papanya Bapak kecelakaan. Sekarang kondisinya kritis dan harus segera dioperasi. Pihak RS menunggu persetujuan Keluarga. Saya, Yesline dan Mama Bapak sudah di RS menunggu. "
Sekujur tubuh Al gemetaran, darahnya berdesir habis, Matanya memerah. Perlahan air mata yang tidak pernah keluar dari bola matanya itu kini sudah mengalir deras. Ponsel yang dipegangnya itu terjatuh dan Clinton dengan sigap menangkapnya. Dia langsung menjawab panggilan itu kembali mewakili Al.
" Lakukan apapun yang terbaik buat Papanya Al, Len. Al akan segera kesana. " kata Clinton dan menutup panggilannya.
Melihat Al yang tiba tiba duduk meringkuk di bawah meja, airmatanya terus mengalir. Persis seperti anak kecil yang baru saja kehilangan sesuatu barang berharganya. Hati Clinton juga ikut hancur melihat Sahabatnya itu terpuruk.
" Al, Kamu harus cepat ke RS. Sebelum semuanya terlambat. " kata Clinton pelan dan setenang mungkin. Tanpa menjawabnya, Al langsung mengambil kunci mobilnya dan berlari langsung ke mobilnya. Setelah kepergian Al, Clinton ambruk. Tangannya bertumpu pada meja yang didepannya. Semuanya seperti sedang lagi menghukum Al dan Yesline. Menguji kekuatan cinta Mereka.
Clinton memegang erat lengannya dan menangis diam disana. Tatapan Nicho menatap langit langit. Matanya meneteskan airmata. Baginya Papa Al itu sudah lebih dari sekedar Papa baginya. Dadanya sesak hingga terlalu sesak hingga melupakan rasa terbakar pada punggungnya. Kaos oblong yang dipakainya basah dengan darah.
Dengan tangan gemetar, Dia berusaha bangkit, Dia juga harus ke RS sekarang. Melihat itu, Clinton tidak bertanya apa apa karena Dia tau apa yang Nicho pikirkan saat ini.
Dia membiarkan Nicho pergi. Clinton dan Hans akan tetap disana sampai Polisi datang.
Sebelum Yesline, Leni dan Mama mertuanya itu datang, Callista tiba tiba pingsan dan dibawa ke UGD untuk diperiksa.
Yesline terus menguatkan Mama mertuanya itu, Meski hatinya juga ikut pedih dan Dia juga butuh dikuatkan. Kini Yesline hanya minta satu hal sama Tuha yaitu keselamatan Papa Mertuanya itu.
Saat Al sampai dan masih jarak sekitar 1 meter dari Mereka, Mamanya langsung berlari memeluk Putra semata wayangnya itu. Yesline juga melihat kesedihan dan kepedihan dimata suaminya itu. Dia tidak mampu melihat mata itu mengeluarkan air mata. Dia menghela nafasnya dan menyeka air matanya.
Dia harus menjadi kekuatan untu suaminya. Harus kelihatan lebih kuat , saat ini bukan waktunya menjadi beban. Meski rasa keram di perutnya kembali terasa.
Selang setelah beberapa Al sampai, Nicho pun tiba dan berjalan sambil berpegangan tangan pada dinding RS. Berusaha menyeret kakinya dengan sisa sisa tenaga yang Dia miliki. Yesline yang melihat Nicho datang dengan seperti itu langsung berlari menghampirinya. Melingkarkan lengan Nicho di pundaknya dan memapahnya berjalan.
__ADS_1
Al melirik dan menatap Yesline yang begitu dekat dengan Nicho. Ada rasa yang lebih sakit dari yang Dia rasakan sebelumnya. Yesline tidak melihat tatapan Al karena fokus memapah Nicho. Dia begitu syok saat melihat punggung Nicho yang banyak darah.
Yesline merobak bagian bawah bajunya dan mengikatnya pada luka Nicho dan menekan lukanya agar darahnya tidak terus keluar.
Nicho ambruk di dada Yesline. Dia sudah hampir tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Leni menyadari bahwa Al sudah terbakar api cemburu tapi kondisi Al tidak bisa berbuat apa apa.
" Nicho, Sebenarnya apa yang terjadi ??? " tanya Yesline. Tangannya mengusap luka di wajah Nicho dengan sedih. Yesline lupa atau tidak memperhatikan bahwa wajah dan lengan Al juga ada banyak luka memar. Karena mamanya langsung berlari memeluk Al jadi Dia tidak terlalu memperhatikannya.
Secara sadar Nicho bisa melihat kepalan tangan Al yang menahan amarah. Tapi Dia menyukai moment sekarang ini, Dimana Yesline terilhat sangat mengkhawatirkannya.
" Maafin Aku, Al. " gumam Nicho.
" Cho ... " panggil Yesline lagi.
" Aku yakin yang mencelakai Paman adalah Erwin " kata Nicho tiba tiba tanpa menjawab pertanyaan Yesline. Pandangannya menatap Al.
" Kamu tau dari mana ??? " kata Al langsung yang mendengarnya.
" Asal Kamu tau Al, Callista jadi jahat karena hasutan dari Erwin yang mengarang cerita kepadanya bahwa yang membunuh Orang Tuanya adalah keluarga Gunawan. Padahal itu karang karangan Erwin sendiri. ''
Tantenya itu hanya diam tanpa mengatakan apa apa.
" Kenapa Kamu baru kasih tau ke Aku sekarang ??? " bentak Al.
" Aku juga baru tau beberapa hari yang lalu. dan baru sempat memberitahukannya. "
Setelah beberapa jam, Akhirnya pintu ruangan Operasi terbuka. Seorang Dokter dan Perawat keluar dari ruangan itu . Langsung menghampiri Al dan Mamanya.
" Bagaimana Dok ??? Apakah Operasinya berjalan lancar ??? " tanya Al.
" Iya Dok. apakah Suami saya selamat ??? " tanya Mamanya yang penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Yesline mematung dan terdiam menunggu dikursi. Disampingnya ada Leni yang merangkulnya.
Dokter itu melepas maskernya dengan tatapan sayu itu Al bisa tau jawaban dari Pertanyaannya.
Lengan Al semakin kuat memeluk Mamanya.
" Maafkan Saya Pak Al. Pendarahan di otaknya itu terlalu lebar dan riwayat penyakit jantungnya Beliau membuatnya masih dalam kondisi kritis walau Kami sudah melakukan sebaik mungkin. Sekarang Kita menunggu semoga ada keajaiban, Semoga beliau bisa melewati masa kritisnya. Kita lihat sampai pagi, Jika beliau bisa melewatinya artinya beliau selamat tapi jika masih kristis saya takut beliau tidak bisa bertahan sampai pagi. " kata Dokter itu menjelaskan sambil ijin untuk pergi.
Mendengar penjelasan itu, Membuat Mamanya sangat lemas dan jatuh pingsan lagi. Al lansung membopong tubuh Mamanya dan membawanya ke kamar inap dan meminta suster untuk langaung menginfuse tangan mamanya. Dia menitipkan Mamanya ke Leni. Saat Al hendak pergi, Yesline menyentuh tangan Suaminya itu. Tanpa menoleh Al langsung mengecup keningnya dan langsung pergi.
Yesline menatap kepergiannya suaminya itu dengan bingung.
Nicho menjalani perawatan lukanya di UGD sedangkan Callista sedang berada di ruang perawatan karena Dia juga terluka. Namun Al dan yang lainnya juga belum tau keadaan Callista.
Al mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus Rumah Sakit, Dia ingin menemui Papanya.
Al duduk disamping Papanya, menggenggam tangan itu dan menangis.
" Maafin Al, Pa. Al kurang berbakti. Al masih sering menyusahkan Papa. Al tidak penurut, Al sangat bahkan tidak peduli. Tolong bangun, Pa. Al tidak apa apa, Al terima, Pa. Tapi tolong bangun Pa... " kata Al meringis menangis tidak bersuara.
Lambat laun, Al melihat jari jari Papanya itu bergerak. Perlahan Dia mendekatkan wajahnya ke Papanya. Papanya berusaha melepaskan alat bantu pernapasannya dan ingin mengatakan sesuatu.
" A l .. P.a.pa s.e.t.u.j.u K.a.m.u m.e.e.n.i.k.a.h.i Y.e.s.l.i.n.e s.e.c.a.r.a S.a.h T.a.p.i t.o.l.o.n.g. b.e.r.i.ta.h.u C.a.l.l.i.s.t.a u.n.t.u.k. k.e.l.a.k.u.a.n E.r.w.i.n S.e.b.e.na.r.n.y.a. C.a.l.l.i.s.t.a s.e.b.e.n.a.r.n.y.a b.a.i.k. Maa.a.f.i.nnn P.aa.paa All ....... " kata Papanya dengan mafas yang sudah tersendat sendat.
Tuut tut tut tut tuttttt ...
" Papa, Tolong jangan pergi. Pa, Papa ... Al mohon Pa ..... Al butuh Papa ..." tangisan Al pecah lagi.
Ponsel Al berdering dan ada pesan masuk.
" Jika Kamu menyayangi Keluargamu, Silahkan lalukan apa yang seharusnya Kamu lakukan dari dulu. "
__ADS_1