Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 205


__ADS_3

"Tidak ada cinta antara dua jiwa yang lebih besar daripada cinta antara pasangan." Tafsir - Ibn Khatir 3/525.


"Jangan menikah hanya karena didesak umur. Menikahlah kalau kamu sudah yakin bahwa dengannya surga akan lebih dekat kepadamu."


Dengan sedikit gugup, Hans mulai menjabat tangan penghulu yang berada di depannya.


"Sudah siap, Nak Hans?" tanya Penghulu tersebut.


"Insyaallah siap, Pak." jawabnya dengan sedikit gugup.


Penghulu menganggukkan kepalanya dan tersenyum, kemudian berucap.


"Bismillahirrahmanirrahim, Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka binti Meriam bimahri uang tunai sebesar 1 Milyar hallan" ucap penghulu tersebut.


"Qobiltu Nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu Taufiq.""


Artinya: "Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah."


"Sah....Sah.....Sah......"


Dengan bibir bergetar Hans mengucapkan ijab qabul dengan lantang. Beberapa orang orang di sana pun ikut tegang, terutama Al, Clinton, Nicho dan Gabriel mengingatkan mereka kembali pada kejadian sakral mereka dengan orang orang yang mereka cintai.


Ayah dan Ibu Hans menangis bahagia, saat mendengar Hans mengucapkan kalimat sakral itu.


"Akhirnya halal juga." Hans membatin. Merasa lega. Meski tadi sempat gugup dan gemetaran. Mata Hans melirik ke arah Meriam yang digandeng ibunya untuk didudukkan disamping suaminya.


"Masyaallah, cantik sekali sih, kamu." batin Hans lagi. Matanya tak berkedip.


Gabriel yang ternyata sudah duduk dibelakangnya, menarik ujung baju Hans. Mengingatkan temannya untuk tidak lupa merapatkan mulutnya. Hans hanya menepis tangan Gabriel kembali.


Hans memang melongo saking terpana nya melihat Meriam yang kini sudah duduk di sampingnya. Menunduk malu atau bahkan telah menertawakan suaminya yang tak berkedip menatapnya.


Bolehkah, Hans untuk terus menatapnya dan mengabaikan yang lain? Wajah Meriam mendominasi pikirannya. Jantungnya berdebar dan dadanya sesak, sesaat dia bahkan lupa untuk menarik nafas.


Rembulan akan meredupkan cahayanya.

__ADS_1


Dia akan malu, semalu-malunya.


Bolehkah, aku hanya mengagumimu saja?


Kini, Hans dan Meriam duduk berdempetan. Di bangku yang sama, di depan penghulu. Pak penghulu memberikan surat surat nikah untuk mereka tanda tangani bersama.


"Setelah ini, kalau sudah selesai, kalian bisa berdiri untuk memakaikan cincin pernikahannya." ucap pak penghulu mengingatkan.


Hans dan Meriam langsung berdiri, Hans mengambil cincin dari tangan Ibunya. Kemudian Hans memasangkan cincin berlian itu ke jari manis Meriam, Cincin turun temurun dari nenek moyangnya, yang disimpan ibunya sudah sejak lama.


Setelah itu, Hans menyimpan tangannya di kening Meriam, laki laki itu memejamkan matanya dan mengucapkan sebuah doa pernikahan.


Dari jarak beberapa meter, diantara tamu perempuan, Yesline mengelap matanya yang basah.


"Kok aku jadi melow ya?" rutuknya pada diri sendiri.


Leni memeluknya dari samping, dia juga menangis haru, Callista juga memeluk Yesline, sementara Clara yang berdiri disamping Callista, ikut berpelukan.Dari keempat wanita itu, semuanya pernah memiliki kenangan bersama Hans.


Laki laki yang kalem dan begitu lembut memperlakukan wanita, mana ada yang tidak akan baper melihatnya kini ternyata sudah menikah.


Meski mereka sudah memiliki suami sendiri yang baiknya juga tidak ketulungan.


"Kamu nyesel gak sih, karena dulu gak nikah sama Hans?'' tanya Leni asal bicara. Ketiga temannya langsung menatapnya, meski pertanyaan itu dirasa kurang sopan, tapi kalau diharuskan menjawab, kira kira apa jawabannya?


"Hush! Gara gara kamu, kami jadi kepikiran mau jawab apa," sergah Yesline, mewakili protes kedua temannya yang lain. Callista dan Clara hanya terkekeh pelan.


Azka yang duduk di depan Yesline bersama dengan Chloe, menatap ke latar depan. Chloe menyikut lengan Azka, anak kecil itu terdiam sejenak akhirnya menoleh menatap Chloe.


"Aku kalau besar nanti juga mau ah, dipasangin cincin di jari manis ini." celetuk Chloe tiba tiba.


Azka melirik dengan cuek, tapi tetap menanggapi. "Itu bukannya jari manismu sudah ada cincinnya?''


Chloe nyengir, menampakkan gigi giginya yang putih.


"Nanti kalau sudah besar, aku sisain ini jari manisku buat kamu pakaikan cincin kayak gitu." bahas Chloe.

__ADS_1


"Hah, terserah kamu sajalah." Azka menyahut sekenanya.


Sementara dari kubu laki laki.


Gabriel berkali kali menyenggol lengan Clinton dan Al yang nampak serius. Entah apa yang mereka pikirkan.


"Apaan sih, kamu! Berisik bangat dari tadi!'' bisik Al.


"Seharusnya tadi kita berangkat sendiri, Bro. Kamu gak takut, istri istri kita jadi baper karena melihat langsung betapa baiknya si Hans, bagaimana kalau mereka sadar, menyesal karena dulu gak menikah sama Hans? Malah nikah sama yang kurang peka ini?" awur Gabriel. Clinton diam sejenak dan menoleh ke arah Gabriel.


"Benar kata kamu, tapi sudah terlanjur. Biarlah, kalau sudah jadi istri gampang ditanganinya. Untung baru nyadarnya sekarang." Clinton menimpali.


"Itu kelakuan istri kalian pada. Kalau Yesline mah kagak gitu, dia setia sama Al. Dan gak mungkin nyesel karena dulu gak sama si tukang caper itu. Yesline itu sudah cinta masi sama aku," sombong Al.


"Callista juga gak mungkin ikut ikutan nge baper. Hans bukan tipe dia. Tipe Callista itu yang cool dan macho kayak Nicho." pria itu menarik turunkan kedua alisnya. Dengan tangannya yang menaik turunkan kerah bajunya.


"Ish!!!! Najis." Gabriel dan Clinton mengumpat bersamaan dengan suara pelan.


Al dan Nicho hanya tersenyum sinis. "Dasar sirik." lirih dalam hati.


Meriam menarik nafas panjang, jantungnya berdebar hebat, ini kali pertama ada laki laki yang menyentuhnya. Diperlakukan seperti itu, Membuat Meriam terharu. Meski dia merasa gugup dan sedikit geli ketika Hans memegang dahinya, dia mendongak melihat ke arah wajah Hans yang hanya berjarak 30 centi darinya. Entah sudah ke berapa ratus kalinya, Meriam merasa kagum dengan ketampanan wajah laki laki yang kini telah menjadi suaminya itu.


"Ada apa, cantik?'' ucap Hans tiba tiba. Meriam tercengang. Matanya masih tak berkedip, mengagumi wajah itu, jika boleh, dia ingin terus sedekat itu menatap wajah Hans. Mariam lupa, ada beratus pasang mata kini memandangi mereka.


Hans tersenyum, dia tak kalah kikuknya. Namun, nalurinya berkata lain.


"Duhai wanita yang kini telah menjadi istriku. Ijinkan aku mengecup keningmu sebagai tanda kau telah menjadi milikku."


Dengan malu, Meriam mengangguk. Matanya kini terpejam, bersiap menerima sesuatu yang baru pertama kali akan ia rasakan.


Bagaimana rasanya dicium di kening di hari pertamamu menjadi istri?


Berdebar?


Tidak karuan, bukan?

__ADS_1


Sama, tubuh Meriam meremang. Dia meremas jari jarinya karena gugup.


Bibir Hans terasa lembut, menempel di kulit Meriam. Sensasinya menjalar ke seluruh persendian. Tangan Hans itu dengan cepat berpindah ke belakang kepala Meriam dan sedikit mendorongnya ke depan. Hingga kening Meriam menempel di bibirnya.


__ADS_2