Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 275


__ADS_3

Clinton mencoba membuatkan Clara susu hangat guna membuat sang istri lebih rileks. Sayangnya, minuman yang masuk ke perutnya di muntahkan kembali. Katanya tidak enak seperti basi dan membuat perutnya terasa diremas remas. Alhasil, karena terus menerus khawatir, Meriam lagi lagi diminta Clinton untuk melakukan cek up terhadap kesehatan istrinya yang masih belum membaik.


Masalahnya, setiap kali Clinton mengajak Clara makan, biasanya akan mual mual lagi. Badannya juga belum menunjukkan tanda tanda lebih baik. Jadi, Clinton hanya bisa khawatir seraya menemani sang Istri sampai Meriam pulang dari jalan jalan bersama Hans.


"Eh, Meriam, tunggu. Boleh bantu cek keadaan istriku lagi enggak?" tanya Clinton tanpa pantang menyerah sengaja menunggu Meriam di depan kamar resort sebelum Meriam pulang.


Tentu saja, orang yang kesal bukan kepalang gak lain adalah Hans. Suami sok jagoan itu mana rela istrinya di dekatin orang.


Padahal, barang bawaan mereka, termasuk barang belanjaan dan baju ganti di pemandian air hangat, sangat sangat menggunung sampai Hans tidak bisa membawanya sendiri. Otomatis, Meriam lah yang ikut membantu sampai tangannya juga ikut penuh.


Dengan wajah dongkol, Hans mengamuk, ''Haish, apa apaan sih, kamu? Baru pulang dari refreshing aja udah kamu bikin stress lagi kayak gini? Bisa gila aku, kalo lama lama lihat kamu!''


Clinton hanya memutar bola matanya malas. Apa apaan jadi cowok cemen, suka mengeluh begitu. Clinton sih jijik ya. Untung Clinton bebal. Jadi, walaupun si Hans ngamuk, tekadnya untuk membawa Meriam ke kamarnya sama sekali tidak terkikis barang satu sentimeter pun.


"Udah deh, kalo kamu gila, gila aja. Yang penting, istri kamu tetap waras. Soalnya, istri kamu lebih aku bantuin daripada kamu. Hahaha," ejek Clinton tak tahu malu.


Meriam hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah dua sekawan ini yang sama sama tidak jelas. Sebenarnya, Meriam agak kasihan juga saat melihat suaminya diejek begitu. Namun, Meriam tetap berusaha tenang dan netral dengan memahami inti permintaan Clinton adalah mengenai Clara.


"Tunggu, Kaka Clinton. Kita masuk dulu. Barang bawaan kami lumayan berat," tukas Meriam bijak.


"Nah, tuh. Dibilangin juga apa? Dikira bawa barang segini banyak kek bawa kapas sebiji? Punya otak itu dipake dong! Udah ah, minggir!''


Hanya Meriam yang bisa menyadarkan niat suci Hans sehingga Clinton jadi terkekeh malu. Barulah, sesudah itu, Clinton bersedia memberi ruang bagi mereka berdua untuk masuk. Meski begitu, Hans terus menerus menggerutu tak ada habisnya. Sementara itu, Clinton hanya memasang muka tebal demi menunggu Meriam selesai merapikan barang belanjaan sekaligus ganti baju. Tak lupa, Meriam yang notabenenya istri sholehah itu juga menyiapkan teh hangat untuk Clinton agar bisa rileks. Baru sesudah itu, Meriam duduk diseberang Clinton dengan tenang.


"Bagaimana, kak? Obat yang aku belum berpengaruh banyak buat Clara ya?" tanya Meriam tenang.

__ADS_1


Clinton mencoba tersenyum dengan sopan. Memang berurusan dengan perempuan santun bikin kita jadi segan sendiri.


"Hehehe, begitulah, Mer. Aku jadi tidak bisa tenang saat nunggu kalian pulang," ujar Clinton.


"Bagaimana, Mas? Apa Meriam boleh ke kamar kak Clara sebentar?" tanya Meriam kepada suami guna meminta ijin.


Hans sendiri yang sudah selesai bebersih dan ganti baju itu akhirnya menyusul mereka. Duduk bersebrangan dengan Clinton, tentu saja dengan mimik yang menjengkelkan. Bagi Hans, kedatangan Clinton adalah sebuah musibah yang sering membuatnya darah tinggi karena masa masa indah bersama Meriam jadi terganggu.


Sama seperti waktu Clinton menelpon untuk ikut bulan madu ke korea, hubungan percintaannya dengan Meriam jadi sama sekali tidak bisa tenang lagi. Mengesalkan! Namun, karena istrinya terlihat sangat tenang berhadapan dengan Clinton, Hans jadi tak punya ruang untuk mengamuk dengan Clinton. Malu dong,kalo istrinya baik tapi suaminya bejat.


Jadi, wajah sebal, Hans membolehkan. "Terserah kamu, Sayang. Kalo kamu mau, aku gak mungkin ngelarang. Toh, apa yang kamu lakuin juga baik," ujar Hans bijak.


Sebenarnya, ingin sekali Clinton menoyor kepala sahabatnya karena bersikap sok sokkan. Untung saja Clinton merasa tertolong.


"Nah, gitu dong. Baru itu Hans ganteng, baik nan sholeh." puji Clinton hanya karena ada maunya.


"Kak Clara? Bagaimana keadaan kakak? Apa yang kakak rasakan?" tanya Meriam.


Disitu, Meriam mengeluarkan berbagai alat medis inti seperti stetoskop, tensimeter dan senter. Bisa Clinton tebak bahwa Meriam tengah bersiap untuk memulai pemeriksaan.


Clara hanya menatap lesu kepada Meriam. "Entahlah, Dokter Meriam. Tubuh saya masih terasa lemas. Obat dari dokter jujur saja kurang berpengaruh buat saya."


Sesudah itu, Meriam mulai fokus mengecek setiap bagian bagian tertentu di tubuh Clara. Meriam mulai mendiagnosis keadaan Clara berdasarkan apa yang tengah terjadi.


"Kak, sebenarnya ada dua kemungkinan besar mengenai keadaan kakak. Satu, karena kak Clara terlalu kelelahan atau kedua, karena kakak memang hamil. Tapi saya sendiri belum berani memastikan karena itu bukan ranah bidang kesehatan yang saya geluti, Kak. Apalagi kakak mengaku obat dari saya tidak terlalu berpengaruh, jadi saya sarankan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan," jelas Meriam.

__ADS_1


Clara juga tampak tak kalah bimbang. Ada tatapan sedih juga di matanya. "Hmmm. Entahlah, Dok. Saya juga berpikir demikian. Tapi, saya belum yakin seratus persen sampai sekarang karena Mas Clinton tidak memperbolehkan saya diperiksa oleh Dokter Gabriel."


Mendengar pengakuan suami Clara yang sepertinya hanya di dorong oleh rasa kesal dan gengsi itu membuat Meriam jadi kasihan kepada Clara. Padahal, kesehatan istrinya bukankah jauh lebih penting dari rasa gengsi itu?


Alhasil, Meriam menoleh kepada Clinton seraya berbicara, "Kak, kalo Meriam boleh memberi saran, tolong jangan melibatkan emosi pribadi kali ini. Clara membutuhkan penanganan segera dari ahlinya. Jadi, kakak lebih baik hubungi Pak Gabriel aja."


Clinton memang terlihat agak menyesal. Tapi tetap saja lelaki itu masih sempat sempatnya terkekeh seperti orang bodoh.


"Hehehe, Maaf, Mer. Tapi aku belum bisa setuju. Besok saja deh kalo udah sampai ke Jakarta, Clara akan aku periksakan."


Mengingat rencana Mereka untuk segera pulang dan menyudahi acara liburan, Meriam hanya bisa setuju. Terkadang, ego lelaki memang tidak bisa dibendung untuk alasan tertentu. Suaminya juga begitu.


"Baiklah. Untuk sementara ini, Kak Clara mohon lebih bersabar ya," ujar Meriam menenangkan.


Clara mengangguk dengan lembut, ''Iya, Dokter Meriam. Terima kasih."


Sekarang, setelah Meriam nampak selesai merapihkan alat medis yang dibawa, Hans yang berbicara terlebih dahulu. Pria itu tentu saja mengamuk. Lagipula, tidak ada hari tanpa amukan Hans di otak Clinton.


"Udah selesai kan? Aku malam ini mau mantap mantap sama istriku sepuasnya. Jadi, kalo sampai kamu ganggu, aku cincang kamu ya!'' hardik Hans.


Clinton hanya bisa terkekeh seraya ikut kesal. "Ye, sok sokan aja kamu. Mentang mentang isti kamu sehat walafiat, main hajar muluk. Lama lama aku cincang sendiri kamu," balas Clinton pura pura kesal.


"Dih, apa apaan? Udah ah, ngomong sama orang gila kayak kamu emang rawan stress. Ayo, Sayang, kita pergi sekarang," ajak Hans tanpa basa basi.


Sayangnya, Meriam menahan diri. "Eh, eh, sebentar, Mas. Meriam pamitan dulu." sesudah itu, Meriam beralih kepada Clinton, ''Kak, kami pamit dulu ya. Assalamualaikum,"

__ADS_1


"Walaikumsalam." ujar Clinton.


Clinton segera mengantar dua orang itu hingga ke depan pintu. Setelah kedua orang itu berpamitan, tersisa Clinton masuk ke kamar dengan wajah lebih rileks.


__ADS_2