
Meriam tersentak saat mendengar suara pintu yang terbuka, lampu yang menyala, dan sosok tinggi Hans yang muncul kemudian, sibuk melepaskan mantel tebal berikut sweater nya, dan hanya menyisakan kemeja putih yang dipakainya sebagai dalaman. Dan Wanita tersebut memperhatikan semua itu nyaris dengan liur yang menetes, tidak bisa mengendalikan diri.
''Kamu habis dari mana, Mas?" tanya Meriam masih berbaring di atas tempat tidur.
"Dari supermarket, beli cemilan." jawab Hans sambil tersenyum. "Kenapa? Kangen ya?''
Hanya satu baris kalimat yang didengungkan Hans, Jantung Meriam langsung berdesir. Dan entah bagaimana awalnya, kemudian api memercik, dengan cepat membara dalam bentuk kasatmata, ketika Meriam akhirnya bangkit dari kasur, menyerah sepenuhnya pada cengkraman pria itu dan membiarkan bibir pria tersebut menguasai bibirnya.
Sentuhan pertama terasa ringan, selembut elusan. Sentuhan selanjutnya menuntut, penuh tekanan, dengan gerakan lidah yang ikut bergabung, seolah waktu yang terlewat tanpa melakukannya bukanlah sehari, melainkan berminggu minggu.
Dan hingga malam ini berakhir, Meriam selalu melafalkan doa dalam hatinya, semoga benih itu tumbuh di dalam rahimnya.
*********
"Kita mau kemana sih, Mas?" tak henti hentinya Meriam bertanya pada Hans.
"Ikut Mas aja. Katanya malam ini ada festival kembang api."
Hans melilitkan syal di leher Meriam. Walau istrinya sudah cukup hangat dengan jilbabnya , tapi tetap saja Hans takut kalo Meriam masih merasa dingin.
__ADS_1
Dan tanpa bicara lagi, Meriam pun mengikuti Hans pergi. Mereka menaiki taksi untuk pergi ke acara festival kembang api itu.
"Kamsahamnida." ucap Hans kemudian membayar ongkos sesuai tarif.
Meriam begitu takjub melihat lampu kerlap kerlip yang menjuntai saling menindih satu sama lain dan menyambung di sepanjang jalan festival. Hans menuntun tangan Meriam kencang karena situasi di sana sungguh ramai oleh penduduk.
"Mas, aku mau itu." Meriam menunjuk pada stand makanan gerobak.
Di sana menyajikan beberapa makanan yang di tusuk lidi panjang. Kemudian dimasukkan ke dalam rebusan air berbumbu merah.
"Ahjussi, I want to buy itu." ucap Hans kepada penjual yang menjajakan jajanan itu. "Two." Hans mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya secara bersamaan, mengingat bahwa di sana penggunaan bahasa korea tidak terlalu dipakai.
Kemudian tak lama, Meriam menerima satu mangkok besar berisi sosis, otak otak, dan lain sebagainya. Semua makanan itu ditusuk menggunakan lidi panjang dan berkuah merah.
"Enak bangat, Mas." kata Meriam antusias, sambil memakan makanannya.
"Ya ampun, Sayang. Kamu makannya belepotan gini sih," Hans menyeka kuah jajanan yang ada disudut bibir Meriam dengan tissue. Tapi Meriam hanya tertawa kecil menanggapinya.
Kemudian mereka duduk di kursi panjang besi berwarna putih. Saat mereka sedang menikmati makanan mereka, tiba tiba segerombolan orang berlarian, menuju satu tempat.
__ADS_1
"Ada apa, Mas?''
"Kayaknya, kembang apinya mau dimulai deh."
"Ayo, Mas. Kita lihat,''
Dengan semangat Meriam langsung berdiri, dan berlari mengikuti orang orang. Hans langsung mengejar Meriam dan berhasil menangkap tangan wanita kesayangannya itu.
"Sayang, jangan jauh jauh dong. Ini kan rame,"
"Iya, Mas."
Dan benar saja, pesta kembang api pun dimulai. Semua orang berkumpul untuk menyaksikan berbagai macam jenis kembang api yang dinyalakan. Semua orang bersorak ketika suara letusan dari kembang api pecah di udara, serta percikan api yang membentuk berbagai macam bentuk indah menghiasi langit malam. Hans tersenyum melihat indahnya yang penuh dengan bentuk kembang api. Serta aroma hangus bakaran yang menguar di sana.
"Lihat, Sayang. Yang itu bagus," tunjuk Hans pada kembang api besar yang mengudara di langit.
Tapi tidak ada jawaban dari Meriam. Sampai akhirnya jantung Hans seakan berteriak berdetak. Riuhnya bunyi kembang api dan sorak sorainya orang orang seakan ditelan bumi saat dia menyadari Meriam tidak ada disampingnya.
Hans mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Yang ada hanya orang orang asing yang tidak dia kenal. Hans menelan ludah yang berubah pahit. Dia mencari keberadaan Meriam, tapi wanita itu tidak dia temukan dimana mana.
__ADS_1