
" Halo?? " ujar Hans malas.
" Besok datang ke alamat yang saya kirim. Jangan sampai tidak datang, Nanti kamu menyesal. "
" Anda siapa?? Saya tidak kenal! Saya tutup! "
" Semua ini berkaitan dengan Dokter Meriam."
DEGH!
Hans tentu kaget mendengarnya. Berkaitan dengan Dokter Meriam? Kenapa bisa??
" Maksud anda, ap---- ''
Belum selesai Hans menyelesaikan pertanyaannya itu, sambungan telepon sudah diputus secara sepihak. Apakah ia kesal? Ya. Tentu saja dirinya begitu kesal.
Nomor yang tidak di kenal sudah meninggalkan rasa penasaran yang begitu mendalam. Hans bahkan tidak tau tujuan penelpon misterius itu.
" Ah! Terserahlah! Persetan dengan semuanya! " Hans tidak ambil pusing sama sekali.
Keesokan harinya.
Lain di mulut, lain di hati. Hal itulah yang sangat pantas menggambarkan sosok Hans saat ini. Pria itu bilang usai akan mengindahkan si penelpon misterius kemarin. Nah sekarang apa maksudnya? Hans yang tengah fokus menyetir sembari melihat Google map. Tujuan pria itu adalah alamat yang diberikan oleh si penelpon yang tidak jelas asal usulnya tersebut.
Hingga kening Hans berkerut sempurna tak kala mobilnya yang terhenti jauh dari rumah sakit Kasih.
" Kenapa tempatnya di dekat rumah sakit? " batin Hans.
Kepalang tanggung, Hans memutuskan untuk melangkahkan kaki ke sebuah rumah. Entah rumah siapa. Hans juga tidak tahu.
Hingga suara pria yang memanggil namanya membuat dia menoleh.
Bisa ia lihat perawakan tampan yang tak asing. " Wisnu? " lirih Hans.
" Iya, saya Wisnu. Selamat datang Pak Hans di rumah saya. " Mengulurkan tangannya, Hans lantas langsung membalas uluran tangan pria yang bernama Wisnu itu.
Ternyata penelepon misterius itu adalah Wisnu. Wisnu adalah pria yang rencananya akan melamar Dokter Meriam.
__ADS_1
" Maaf, menganggu waktunya, pak. Anda juga pasti sangat kaget karena mendapatkan telepon mendadak dari saya." menyuguhkan segelas kopi untuk Hans. Keduanya sudah berada di ruang utama yang bisa di bilang cukup luas.
Benar. Ia malah begitu kaget.
Namun sebenarnya alasan apa yang membuat Wisnu harus repot repot mengundangnya kemari? Apa berkaitan dengan Dokter Meriam, seperti yang dia katakan di telepon?
" Eehem.... " Wisnu berdehem lumayan kuat. Pria itu sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Hans. Baiklah, ia akan menjelaskan.
" Begini Pak Hans, Saya menemui Papanya Dokter Meriam untuk membahas perihal pernikahan. "
Mendengarnya, Hans tentu terkejut. Namun dengan cepat pria itu menetralkan mimik wajahnya yang awalnya begitu terkejut. Hans menatap Wisnu lekat.
" Saya tau kalau Dokter Meriam pernah mengajukan taaruf dengan anda. Karena itu saya langsung menemui anda. " Wisnu tak sengaja dahulu mendengarnya.
" Jadi, Tujuan anda menyuruh saya untuk bertamu untuk mengingatkan jika tak boleh lagi dekat dengan Dokter Meriam karena beliau adalah calon istri Anda? " tebak Hans tepat sasaran.
Wisnu mengangguk, membernarkan. Ya, kira kira begitulah maksudnya. Ia kagum dengan Hans yang begitu tanggap dengan maksudnya padahal belum diutarakan secara gamblang.
" Saya mohon kerjasama, Anda. "
" Apakah saya harus menuruti keinginan anda? "
" Entahlah. Aku tidak bisa berjanji. Lagipula dia belum jadi istrimu, masih CALON! " Hans menekankan kata calon di sana.
Wisnu tidak menyahut lagi. Pria itu tampak diam dan menatap Hans lekat.
Hans bahkan tidak tahu kenapa hatinya tidak rela jika perempuan yang bernama Meriam itu menikah dengan pria lain, meskipun ia tidak yakin kalau ia mencintai dokter Meriam atau tidak.
Tidak ingin berlama lama, Hans pun akhirnya berpamitan kepada sang pemilik rumah, Wisnu.
" Jika tidak ada lagi, Saya mohon pamit. "
Tak ada sahutan. Wisnu bungkam. Netranya tak lepas dari sosok Hans yang semakin lama semakin jauh.
" Aku akan segera menikahi Dokter Meriam. Tak akan kubiarkan dia bersanding dengan pria lain selain aku. " ujar Wisnu pelan.
Di sisi lain,.
__ADS_1
Leni sepertinya sibuk menikmati waktunya di rumah. Di rumah besar yang sekarang juga adalah miliknya.
" Istirahat dulu deh, Nanti baru lanjut bersih bersih lagi. " kata Leni.
Leni pun duduk di sofa lembut sekedar menghilangkan rasa penat yang membuat tubuhnya menjadi sedikit letih. Tidak ada yang menyuruhnya untuk begitu rajin seperti ini. Dirinya sendiri yang ingin.
Nanti malam, Leni dan suami akan berjalan jalan. Entah kemana tujuannya, tapi pergi ke taman komplek termasuk salah satu list jalan jalannya Leni.
Semenjak menikah, Leni merasa lebih bahagia. Ternyata benar, kalau bertemu dengan pasangan hidup yang pola pikirnya hampir sama, dan mau mengerti, pasti rumah tangga yang terbangun akan baik dan harmonis. Leni sudah membuktikannya sendiri.
Bisa dikatakan ia begitu beruntung memilki suami seperti Gabriel. Suami idaman di dunia.
Waktu berlalu begitu cepat. Matahari kini sudah berganti dengan bulan. Tampak sosok Leni dan Gabriel tengah menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Kedua tangannya saling bertaut sempurna. Jangan lupakan senyuman khas orang yang sedang kasmaran.
" Mas, Kamu gak capek kan? Yakin bisa jalan begini? " tanya Leni sesekali melirik ke arah sang suami.
Gabriel tersenyum lembut. " Capek, sih. Tapi kalau untuk istri, apa sih yang gak aku lakuin? Jika kamu bahagia, aku juga pasti bahagia. " semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Sontak, Leni yang mendengarnya menjadi tersipu malu. Ide berjalan kaki adalah dari Leni sendiri. Wanita itu lebih ingin menjalani kencan sederhana, daripada kencan mewah yang menghabiskan biaya yang tentunya tidaklah murah.
Berkencan dengan cara begini lebih meninggalkan makna yang begitu berbekas. Bukannya mereka tidak mampu untuk berkencan di tempat mahal. Hanya saja Leni merasa kencan yang seperti itu sangatlah tidak berkesan.
Keduanya sudah duduk di bangku taman. Senyum Leni dan Gabriel tidak luntur sama sekali. Malah semakin lebar saja. Tangan keduanya yang saling bertaut juga tidak lepas sama sekali. Keduanya bak pasangan remaja yang begitu sedang di mabuk cinta.
" Mas, Terima kasih. " Leni berkata dengan tulus. Sepertinya jika diingat ingat ia selalu mengatakan hal begitu kepada sang suami. Leni sama sekali tidak merasa bosan.
Leni sungguh berterima kasih kepada Gabriel, Suaminya yang sudah membuat hidupnya lebih berwarna.
" Sejujurnya, Aku tidak suka kamu terus mengucapkan kata yang seharusnya tidak perlu. " Gabriel berujar.
" Hahaha ... Aku suka mengatakannya, Mas. Mau bagaimana lagi. " Leni terkekeh geli melihat raut wajah sang suami yang tiba tiba kesal.
Ya. Memang akan selalu begini. Sang suami pasti kesal dengan ucapan terima kasih yang terus menerus dirinya lontarkan hampir setiap hari.
Tiba tiba saja keduanya dikejutkan oleh suara seorang ibu ibu. Leni dan Gabriel menoleh ke arah sumber suara. Betapa kagetnya mereka melihat seorang wanita hamil yang tampaknya ingin melahirkan. Wanita itu seorang diri dan keadaannya kelihatan tidak baik baik saja.
Gabriel yang biasanya tidak peduli dengan orang lain, sangat tidak disangka tengah menghampiri ibu hamil tersebut. Leni juga ikut menyusul sang suami.
__ADS_1
" Bu, mari kami antar ke rumah sakit. " ujar Gabriel.