Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 243


__ADS_3

"Gila! Mati deh aku!" umpat Gabriel di balik dinding rumah. "Kenapa tuh istri aku pake nangis di depan ayahnya. Duh, bisa bisa aku ditembak mati sama ayah mertua!''


Gabriel terus berbicara sendiri, sambil melihat Leni, istrinya yang menangis tersedu sedu disamping ayah mertuanya itu. Mertuanya ini, Selain mantan TNI, beliau juga dikenal galak. Ayahnya selalu mewanti wanti Gabriel agar selalu menjaga putrinya dengan baik. Tentu saja, Gabriel jadi ketar ketir.


Seperti saat ini, yang bisa dia lakukan adalah mengumpat di balik tembok, mengawasi pergerakan Leni selanjutnya. Kalo Leni sampai mengadu yang tidak tidak, matilah dia malam ini juga. Kalau sampai----


"Gabriel!''


Ditengah tengah suasa mencekamnya itu, tiba tiba ayahnya memanggil Gabriel dengan suara yang menggelegar.


"Yasalam, Apa aku bilang. Jadi mayat deh nih aku."


"Iya, Yah."


Sebagai menantu seorang abdi negara, Gabriel harus responsible dan tegap, tidak boleh menye menye serta harus sat set sat set.


Dengan tungkai yang sudah meleleh, Gabriel berjalan menghampiri Ayahnya dan Leni.


"Iya, Yah. Ada apa?" dia sudah siap dengan pelatuk pistol yang akan ditarik ayah mertuanya itu.


"Sedang apa kamu?'' tanya mertuanya.


"Enggak lagi ngapa ngapain, Yah. Lagi santai aja." jawab Gabriel. Santai dari hongkong. Padahal jantungnya sudah zumba sejak tadi.


Lalu, tanpa bisa Gabriel mengerti situasi ini, Leni dan Ayahnya tertawa terbahak bahak. Membuat Gabriel melongo parah, menatap istri dan mertuanya. Belum sempat bertanya ada apa, Gabriel menemukan sebuah laptop yang disimpan di atas meja, sedang menampilkan sebuah drama korea.


"Nih, kamu lihat Gabr. Filmnya seru bangat. Sini nonton bareng Ayah dan Leni."


"Iya, Gabr. Sini nonton. Kamu gak lagi ngapa ngapain kan?" Leni menarik tangan Gabriel untuk duduk disampingnya.


Setelah dia duduk di atas sofa, disamping Leni, barulah dia mengerti. Pasti Leni menangis karena menonton film korea itu.


"Aku kira, kamu nangis kenapa." bisik Gabriel di telinga Leni.


"Kamu pikir aku kenapa?''


"Aku pikir kamu ngadu ke ayah, kalo aku yang bikin kamu nangis. Aku udah siap siap aja ditembak mati sama ayah."

__ADS_1


Seketika, Leni menyikut perut Gabriel, membuat pria itu mengaduh.


"Kamu kenapa, Gabr?'' tanya mertuanya itu.


"Ngak, Yah. enggak apa apa. Kaya ada yang nyubit ginjal aku." jawab Gabriel ngeles.


"Hah? Ada ada aja kamu, Gabr. Minum dulu sana, abis itu baru ikut nonton bareng."


"Iya, Yah."


Kesempatan itu, Gabriel pakai untuk hengkang dari perkumpulan manusia manusia aneh itu. Karena kalo sampai dia ikut menonton film korea, bisa bisa keanehan merek menular pada dirinya.


Setelah sampai di dapur yang ada di bagian belakang rumah, dia duduk di mini bar. Berniat untuk bermain game. Tapi tiba tiba dia tertarik untuk menelpon Hans, sahabatnya yang sedang berbulan madu di jeju bersama istrinya. Gabriel juga menyambungkan panggilan telepon itu ke nomor Nicho, Al dan Clinton.


"Aku telepon Hans ah, siapa tau dia lagi enak enak sama Meriam. Terus aku gangguin."


Gabriel mulai mencari nama Hans, lalu menelpon sahabatnya itu. Juga setelah menyambungkan ke nomor teman temannya. Indonesia - Korea itu perbedaan waktunya dua jam lebih lambat. Saat itu di Indonesia sudah pukul delapan malam, itu artinya di Korea sudah pukul Sepuluh malam. Tanpa menunggu lama, Hans sudah menerima panggilan telepon sahabatnya Gabriel. Sahabatnya yang lain, belum kelihatan hilalnya.


"Wihh, cepat bangat ngangkatnya, Lagi nganggur nih?" begitu ucap Gabriel ketika Hans menjawab teleponnya.


"Meriam udah tidur, Aku belum ngantuk. Jadi aku iseng aja duduk duduk di balkon hotel."


"Ah, palingan jurignya ngajakin aku ngedance."


Terdengar suara terbahak dari Gabriel, dan pria itu langsung menutup mulutnya karena takut terdengar istri dan ayahnya.


"Gimana bulan madunya? Lancar?''


"Sejauh ini sih lancar, Bro. Aku curiga nih, ngapain kamu malam malam nelpon, bukannya kamu sama Leni?"


"Itu masalahnya, Leni lagi nonton drama korea sama Ayah."


"Kenapa kamu gak ikut gabung aja?''


"Ogah, ah. Bukan selera aku." Gabriel berkelit. Dua detik kemudian, Tiba tiba Al masuk dalam panggilan. Mungkin karena tadi tidak diangkat jadi dia telepon balik.


"Kamu ganggu orang aja, malam malam telepon. Ada apa? Kalo gak penting langsung aku tutup ini!'' seperti biasa, Al pasti marahin Gabriel.

__ADS_1


"Yeileh. Dokter itu seharusnya sudah biasa on 24 jam non stop."


"Kamu bukan pasien darurat. Jadi enggak berlaku." kelakar Al.


"Eh, Al. Tolong periksa jantung aku. Kayaknya aku gagal jantung deh, soalnya Ayah Leni bikin aku jantungan terus."


Bukannya serius, Al malah justru terbahak mendengarnya. Termasuk Hans yang masih mendengar juga kedengaran suara tawanya dari seberang.


"Kamu ada ada aja, Bro. Itu namanya bukan gagal jantung. Gagal jadi mantu."


Al masih terus menertawakan Gabriel.


"Tiap hari, Al. Aku dibikin jantungan mulu sama Ayah mertua. Dia kan mantan TNI, kalo misal aku di dor terus ilang nyawanya aku, gimana?''


"Tenang, Aku sebagai teman bakal bantu pemakaman. Kamu juga gak usah khawatir sama istri kamu. Kamu daftarin diri di asuransi kan? Nah, Leni bisa dapat tuh hak warisnya. Terus dia juga bisa nikah lagi deh."


"Kutu kupret, kamu! Bisa bisanya ngomong begini. Aku sumpahin ya, kamu yang ditinggal istri."


"Astagfirullah, Gabr. Kalo ngomong itu yang benarlah. Kalo kejadian gimana coba." Hans yang notabenenya agamis, langsung berkomentar.


Kini, giliran Gabriel yang terbahak mendengar Hans berbicara mengumpat.


"Dia duluan yang ngomong aneh aneh, Hans," ucap Gabriel di sela sela tawa.


"Udah, ah. Ngobrol sama kamu gak ada faedahnya. Dan disini udah malam." Al bersungut kesal, Dia langsung menutup teleponnya.


"Aku juga tutup dulu ya, Bro. Baik baik kamu jadi mantu, kalo gak mau spot jantung!''


"Oke deh, kalo gitu. Selamat bulan madu ya. Semoga pulangnya bertiga."


"Aminn."


Begitu jawaban Hans, mengamini dengan sangat kencang. Karena dia memang sedang menanti momongan.


"Gabr! Lama bangat kamu ambil minum!'' teriak Mertuanya dari depan.


"Duh, illah, Bapak Mertua,"

__ADS_1


Gabriel beringsutan dari tempat duduknya, lali bergegas mengambil dua botol air dingin dan mengibrit menuju ruang televisi.


__ADS_2