
Malam harinya, di restoran mewah. Yesline pergi makan malam dengan sang suami tercinta. Wajahnya terlihat senang sekali. Ia membayangkan sebuah makan malam romantis. Meski ia dan Al bukan lagi pasangan kekasih bak waktu dulu, tapi tetap bagi Yesline melakukan hal hal romantis seperti ini sangat wajib. Azka sendiri tidak ikut karena sedang bersama Chloe bermain puzzle.
Keduanya sudah duduk dan memesan makanan. Yesline tampak semangat memesan makanannya dengan lumayan banyak porsi. Sedangkan Al hanya diam tanpa melarang sang istri memesan banyak makanan meski ujung ujungnya ia akan terkena getah harus menghabiskan makanan yang ada nantinya.
Tapi ya sudahlah, daripada istrinya mengamuk dan berubah menjadi singa betina, atau lebih patahnya ia tidak akan dapat jatah. Bisa kelar hidupnya. Mana bisa, ia tidak menyentuh sang istri barang sehari pun. No! Tidak akan boleh kalo tidak mendapatkan jatah. Cara terbaik sekarang ialah diam dan tidak berkomentar apapun.
"Mas, akhirnya kita bisa dinner berdua romantis gini ya, tanpa ada gangguan dari phak manapun." ujar Yesline sumringah. Wanita berparas cantik itu menatap lekat kepada sang suami yang hanya mengangguk dan memberikan senyuman tipis.
Tak lama pun, akhirnya makanan yang dipesan sudah datang. Kedua bola mata Yesline berbinar sempurna. Sangat ketara sekali kalo Yesline sudah tidak sabar untuk melahap makanannya. Al yang melihatnya tertawa kecil. Dasar istrinya itu.
Yesline pun mulai melahap makanannya. Pasti rasanya sangat nikmat mengingat ini adalah restoran mewah yang perihal cita rasa makannya tidak usah diragukan lagi. Meski iya harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Namun, hal itu tidaklah sulit untuk seorang Al lakukan. Pria itu akan selalu menuruti apapun keinginan istrinya.
"Mas, buka mulutnya."
Al mengangguk dan membuka mulutnya sesuai yang Yesline minta. Suapan yang begitu besar sampai mulut Al rasanya penuh.
"Ha, begitu. Makan yang banyak ya." Yesline terlihat gemas sendiri kepada suaminya. Tatapan penuh cinta dan memujanya ia tunjukkan secara terang terangan kepada sang suami.
Al lagi lagi hanya terkekeh. Sepertinya ada yang aneh dari diri istrinya itu.
Yesline yang lahap dengan makanannya dan terus berceloteh sambil terus menyuapi sang suami, sedangkan Al sibuk bermain ponsel. Perhatiannya terus tertuju ke arah benda pipih persegi tersebut daripada istrinya.
Yesline hang baru menyadari kalo sang suami begitu sibuk dengan ponsel, langsung menghentikan acara makannya. Netranya memicing ke arah Al yang masih belum sadar diperhatikan begitu lekat olehnya.
"Mas," panggil Yesline.
Hening.
Tak ada sahutan.
Tampaknya memang Al sedang berada di dalam dunianya.
"Mas!'' Yesline mulai kesal.
Lagi lagi tidak ada sahutan. Dan hal itu membuat Yesline sudah tidak bisa untuk memilih sabar lagi.
"Mas, kamu bisa gak kalo di momen penting kayak gini jangan main ponsel dulu." Yesline memegang lengan sang suami. Hal itu sukses menyadarkan Al dari keasyikannya bermain ponsel.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kenapa?" tanya Al menunjukkan wajah polos.
Huh!
Yesline menghembuskan nafas kasar. "Kamu asyik bangat ya main ponselnya?'' ujar Yesline datar.
Glekk! Al menelan salivanya dengan susah payah. Nampaknya, istrinya itu tengah marah. Wah, bahaya!
"Maafin aku, Sayang,''
"Kamu lagi chattingan sama siapa?" tanya Yesline lagi yang sudah seperti petugas keamanan yang tengah mengintrogasi pelaku.
"Enggak ada. Cuma dari rekan kerja yang membahas pekerjaan. Maafin aku, ya."
"Sini, berikan ponselmu, Mas. Biar aku lihat sendiri. Kamu bohong atau enggak." Yesline menjulurkan tangannya.
Al melirik sekilas ke arah tangan sang istri yang terulur kepadanya.
"Ya ampun, Sayang. Tangan kamu ini kenapa?" Al menyentuh punggung tangan istrinya dan seketika itu juga mengelus elusnya. Padahal, punggung tangan Yesline nampak baik baik saja. Tidak ada yang aneh sama sekali.
Sepertinya Al tengah mengalihkan pembicaraan. "Punggung tangan istriku yang cantik ini tidak boleh terluka." terus mengelus elus, sesekali meniup niup kecil.
Wajah Yesline langsung berubah cemberut, yang tadinya ketika datang ke restoran ini tampak sumringah.
"Kamu habiskan semua makanan ini, Mas! Selera makanku hilang!" Yesline berbicara ketus.
Al yang mendengarnya sudah bisa menebak kalo sang istri tengah marah kepadanya saat ini.
"Baiklah." Al mengangguk sambil memperhatikan wajah sang istri yang tengah membuang muka.
Ya ampun! Habis sudah riwayatnya kali ini. Al membatin.
Bari lagi Al mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Yesline malah berkata lagi, "Aku tunggu di mobil. Enggak pake lama!"
Yesline pun mulai bangkit. Ia pergi melongos begitu saja meninggalkan sang suami yang memasang wajah tidak percaya.
Ya, beginilah konsekuensi kalo memancing kemarahan seekor singa betina. Teramat mengerikan.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu.
Al nampak memasuki mobil dengan tergesa gesa. Wajah tampannya penuh dengan keringat. Biasanya, kalo melihat keadaan Al yang begitu, Yesline pasti dengan sigap membersihkan keringat yang menempel. Sayang, Yesline yang tengah kesal saat ini berusaha untuk abai.
Al memandang sekilas ke arah Yesline. Yesline yang masih tidak sudi untuk menatap wajahnya karena kesal.
Karena tidak ingin semakin memancing pertengkaran, Al pun mulai melajukan mobilnya tanpa berkata sepatah kata apapun.
Selama di perjalanan, ponsel milik Yesline terus berdering tanda ada yang menelpon. Tampaknya, orang yang menelpon adalah orang yang begitu gigih. Terbukti sudah hampir tiga puluh menit berlalu, ponsel milik Yesline terus berdering tanpa henti.
Al yang menyetir oun merasa curiga. Ia memutuskan untuk menepikan mobilnya. Akhirnya, ia merebut ponsel yang ada di tangan Yesline dan langsung mengangkatnya.
"Mas!'' protes Yesline tidak terima kalo ponselnya direbut begitu. Padahal, tadi saja Al tidak ingin memberikan ponselnya. Ini tidak adil namanya.
"Halo?'' suara Al terdengar tidak sabar.
Hening.
Tidak ada sahutan dari seberang sana. Kening Al mengerut sempurna.
"Masih tersambung, kok." batin Al.
"Halo? Ini siapa?''
Lagi lagi tidak ada sahutan. Hal itu sukses membuat Al naik pitam. Tangannya terkepal sempurna. ''Hey kau!! Kenapa diam saja? Kau siapa? Kenapa menelpon istriku?!" bentak Al kesal setengah mati.
Tuuutttttt.......
Panggilan telepon diputus sepihak begitu saja.
"Berikan ponselku!'' kata Yesline mengambil kembali ponselnya.
******
Tak terasa, akhirnya pasangan suami istri itu sudah tiba di tempat tujuan. Keduanya saling membuang muka. Dan berjalan tidak beriringan.
Tak sengaja Nicho berpapasan dengan Al. Al memperhatikan Yesline yang berjalan lebih dulu darinya.
__ADS_1
"Hey, Bro! Kalian kenapa? Marahan ya? Hahaha," ledek Nicho kepada Al. Sangat jelas sekali kalo kedua orang itu tengah marahan. Nicho yakin seratus persen.
Al tidak menyahut dan kembali melanjutkan langkah untuk naik ke kamarnya.