
Setiap wanita memiliki caranya sendiri untuk menghadapi rasa sakit yang menyerang hatinya. Daripada Yesline dan Leni, Callista yang paling repot harus mengontrol emosinya. Apalagi Chloe yang masih kecil dibanding sama Azka sehingga dia tidak bisa asal mengekspresikan amarahnya. Ketika keadaan rumah sedang tidak baik baik saja, dia dituntut mengkondisikan malaikat kecilnya dengan senyuman mengembang di bibir, dan menekan emosi sedalam mungkin untuk bisa menghalaunya dari melampiaskannya kepada anak.
Malam ini entah kenapa Chloe tidak cepat tidur. Callista sudah membacakan hampir empat buku dongeng. Padahal biasanya satu buku belum kelar saja, Chloe sudah mendengkur.
Padahal Callista ingin bisa menangis, agar beban dihatinya bisa sedikit berkurang. Namun, Jika Chloe belum tidur, bagaimana ia bisa menangis?
"Kakak, kakak belum ngantuk? Mama sudah bacakan cerita dari si kancil sampai putri tidur, Mama juga sudah ngantuk, nih. Tidur yuk," Callista berbohong sambil menguap.
Chloe dari yang sebelumnya rebahan malah sekarang bangun dan duduk. Mata mungilnya menatap Callista penuh tanda tanya.
"Mama, Papa kok belum pulang ya?" tanya gadis kecil itu dengan tiba tiba.
Callista mendelik kaget, dia menelan salivanya.
Callista bangun dari posisinya untuk duduk di depan Chloe.
Sambil tersenyum dan mengusap rambut Chloe, Callista berucap. "Nak, Papa sedang ada urusan diluar, jika sudah selesai pasti langsung pulang. Chloe kenapa tiba tiba tanya papa, Kan biasanya cukup dibacain cerita sama mama sudah bisa langsung tidur?''
Chloe nyengir, menampakkan gigi gigi putih dan mungilnya.
"Chloe tiba tiba mau tidur pengen di peluk sama Papa, Ma. Jadi dari tadi gak bisa tidur." ucap Chloe dengan polosnya.
"Dan.... mau request kado ulang tahun buat Chloe."
Chloe tidak sabar ingin meminta hadiah ke Papanya karena besok adalah hari ulang tahunnya. Tapi kata Nicho beberapa waktu lalu, besok dia ada meeting di luar kota jadi untuk tahun ini tidak bisa mengadakan perayaan untuk ulang tahun Chloe.
Callista hanya membalasnya dengan tersenyum, dia merengkuh tubuh Chloe ke dalam pelukannya. Hatinya berdesir perih.
__ADS_1
Bagaimana bisa seorang Ayah yang sudah dikaruniakan seorang malaikat kecil dan bidadari dalam hidupnya bisa pergi ke lembah neraka?
Apa bahagia yang normal seperti itu masih kurang baginya?
Hingga memungut sesuatu dari tempat tempat kotor?
"Apa mama bisa tidur kalo gak ditemani papa?" tanya Chloe lagi dengan lugu, dia masih nyaman berada dalam dekapan sang mama.
Callista mengerjap erjapkan matanya sambil mendongak ke langit langit kamar. Dia ingin menghalau butiran bening yang hampir saja terjun bebas.
"Ehm..... Sebenarnya bisa sayang, tapi kadang kadang kalo papa pulang dan mama sudah tertidur kasihan papa kalo nanti butuh sesuatu harus ngambil sendiri, Sudah tugas mama untuk melayani dan mengurusi semua kebutuhan papa, sebagai bukti istri ke suaminya." Callista menjawab dengan pelan.
Chloe terlihat menganggukkan kepala. Dia seperti mengerti apa yang dibicarakan Callista. Tiba tiba pintu kamar Chloe terbuka.
"Chloe sayang....." sebuah suara mengagetkan Chloe. Chloe menoleh, sementara Callista sudah sekuat tenaga menahan senyumnya. Dia ingat jika dirinya sedang marah dan kecewa sama Nicho.
Seorang Nicho bisa melakukan hal seperti itu?
Chloe langsung melompat turun dari pangkuan Callista. "Papa!! Papa jadi badut!!! Mama ada badut!!!!"
Chloe menghampiri Nicho. Nicho mengangkat tubuh Chloe dalam gendongan Nicho.
"Papa nyiapin kejutan buat Chloe. Mau turun ke bawah dan lihat hadiahnya gak?" pancing Nicho. Tanpa menunggu waktu lama, Chloe langsung menganggukkan kepala dengan cepat, sangat antusias.
Nicho mengalihkan pandangannya ke Callista yang masih tak beranjak dari kasur.
"Ajak mama turun yuk," bisik Nicho ditelinga Chloe yang langsung diangguki Chloe. Nicho tersenyum senang. Callista tidak pernah bisa menolak ajakan Chloe, apalagi memang besok mereka tidak bisa merayakan ulang tahun Chloe.
__ADS_1
Callista penasaran, sejak kapan Nicho berdiri di luar kamar? Sampai dia tahu kalo Chloe belum tidur.
"Mama ayo turun, Papa punya hadiah buat kita di bawah." riang Chloe membuat Callista tersenyum, apalagi saat tangan Chloe menggandeng tangan Callista untuk turun dan mengikutinya. Nicho tersenyum, matanya selalu memperlihatkan Callista. Tapi Callista menunduk, dia tidak berani menatap Nicho, amarahnya akan luruh begitu saja.
Callista hanya berjalan mengikuti tarikan tangan Chloe, Nicho berjalan sambil tak henti memandangi Callista. Ketika salah satu tangannya ingin menggandeng tangan Callista, istrinya itu buru buru langsung menarik tangan menjauh.
Tidak, Callista bekum bisa. Dia tahu dan masih mengingat dengan jelas betapa baiknya Nicho, terlepas dari benar atau tidaknya foto itu. Hatinya sebagai seorang istri tetap terluka melihat foto Nicho seperti itu.
"Kamu marah sayang? Maaf ya, tapi kamu percaya kan kalo kejadiannya gak seperti di foto itu? Percaya kan sama aku kalo aku jelasin?" Nicho mencondongkan bibirnya ke telinga Callista, dia berbisik.
Tanpa menoleh ke arah Nicho, Callista pun menjawab.
"Bukan marah, hanya merasa enggak enak hati aja. Tapi cukup membuat aku gak mau disentuh sama kamu," ketus Callista.
Nicho terdiam, dia tahu sekecewa apa Callista, tapi malam ini dia akan menuntaskan salah paham ini.
Mereka menuruni anak tangga dan menuju ruang tamu, entah kapan Nicho mengatur segalanya. Callista tidak menyadarinya. Yang jelas, ruang tamunya kini berubah menjadi ruangan bernuansa negeri dongeng, dipenuhi lampu dan ada kue ulang tahun berukuran besar dengan bentuk castle. Chloe membelalakkan matanya, dia langsung turun dan meraih gaun putri yang diletakkan sedemikian rupa di dekat kue ulang tahunnya.
"Papa! Ini keren," celetuk Chloe.
"Selamat ulang tahun sayang." Nicho mengucapkan itu saat berlutut disamping Chloe yang terlalu sibuk menghitung kotak hadiahnya yang begitu banyak dengan bibir tak henti tersenyum ceria.
"Mama, ini semua buat aku ya? Banyak sekali? Makasih ya Ma, Pa." Chloe berhambur memeluk Callista dan Nicho lalu mengecup pipi mereka secara bergantian.
Bagi gadis kecil itu, ini adalah malam terindah di hari ulang tahunnya.
"Iya, sayang. Princess kecilnya Mama. Semoga kelak Kakak Chloe selalu dipenuhi kebahagiaan dan keberuntungan seumur hidup kakak, ya? Jadi anak yang baik, okey?" Callista menggandeng tangan Chloe untuk berdiri di dekat kue karena akan segera memotong kuenya. Nicho yang memulai menyanyikan lagu ulang tahunnya. Dengan gaya badut sambil melakukan sedikit atraksi yang Nicho bisa, Chloe tak berhenti tertawa. Sampai mereka memotong kue dan membuka semua kado. Nicho mengangkat tubuh Chloe ke kamarnya saat putri kecilnya mulai mengantuk. Chloe tidur masih dalam keadaan memakai gaun pemberian Nicho dsn memeluk boke besar yang setinggi dirinya.
__ADS_1
"Mimpi indah cantik." Nicho mengecup pipi Chloe dan menyelimuti tubuh mungilnya.