Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 285


__ADS_3

Siang itu ada rapat wali murid di sekolah Azka. Yesline duduk berjejeran dengan Callista. Sementara para orang tua rapat, anak anak masih bermain di halaman sekolah di jaga beberapa guru yang piket.


Ibu kepala sekolah menerangkan di depan, bahwa hari itu pihak sekolah akan menyampaikan bahwa sekolah mereka akan dipakai untuk lokasi syuting sebuah film baru yang berjudul ibuku bahagia, ibuku sayang. Karena ada kegiatan syuting untuk sementara proses belajar anak anak akan dijadikan satu, antara TK B dan TK A. Dan akan dipilih beberapa anak untuk ikut menjadi pemeran pendukung dalam film itu. Dari pihak sekolah juga akan memilih salah satu perwakilan dari wali murid untuk menjadi salah satu pemain dalam film.


Ibu kelapa sekolah mengadakan voting siapa saja yang akan ikut. Yesline sudah tidak mengusulkan diri karena dia tahu, apapun alasannya Al tidak akan setuju. Dia pun tidak mencantumkan nama Azka. Yesline menuliskan nama Callista dan Chloe. Callista pernah jadi model terkenal, harusnya dia yang paling cocok bukan?


Prosedur votingnya adalah setiap wali murid boleh menuliskan satu nama anak dan satu nama wali murid yang ditunjuk atau diusulkan untuk mewakili sekolah sebagai pemain pendukung. Dan setelah semua kertas hasil voting dibuka, hasilnya mengejutkan. 80 persen semua hasilnya memilih Yesline dan Azka.


Yesline menoleh terkejut arah Yesline.


"Call, gimana ini? Mas Al tidak akan setuju," rengek Yesline.


Callista tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Yesline dan berkata, "Terima saja, kalo takdir mana bisa ditolak?'' Callista terkekeh.


Yesline menautkan kedua alisnya. "Harusnya kan kamu yang jadi Call, kamu yang pernah jadi model, kenapa aku yang gak berpengalaman malah terpilih?" sungut Yesline berbisik.


"Mereka menilai wajah ke ibu ibuan kamu yang lebih menjual dan cocok untuk film ini, Yes. Enggak apa apa buat pengalaman. Masalah Al, kamu bisa rayu rayu dialah, kamu kan pawangnya Al, harusnya bisa menaklukkan keganasannya," tutur Callista dengan santai.


Yesline mendengus kesal.


Ibu Kepala sekolah menyebut nama Yesline untuk naik ke podium. Semua mata tertuju ke arah Yesline kini. Wanita itu membeku di tempatnya.


Dia sudah memikirkan segala macam akibat dan apa yang akan dikatakan suaminya. Yesline benar benar tidak kuasa menolak tapi juga tidak berani menerima.


Tapi karena dorongan Callista, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju podium. Beberapa kali mengambil nafas agar terlihat tidak terlalu gugup. Ya, Yesline sungguh gugup. Wajah cantiknya berkeringat. Kulit putihnya berpendar di bawah cahaya lampu terang siang itu.


"Silahkan duduk, Bu Yesline." kepala sekolah mempersilahkan. Yesline duduk di sebuah kursi disamping kepala sekolah. Callista menatapnya dan bertepuk tangan paling keras saat Yesline mengangguk memberikan persetujuan untuk ikut berpartisipasi dalam pembuatan film ini.


Meski dalam hati dis memaki dirinya sendiri yang tiba tiba mengangguk begitu saja. Bagaimana dia akan mengatakannya kepada Al? Melakukan secara diam diam pun tidak mungkin.


Ah, sudahlah. Nanti dipikirkan lagi.


Yesline menjabat tangan kepala sekolah dan langsung turun dari podium setelah acara kumpulnya selesai. Yesline digandeng Callista waktu mereka keluar ruangan.


"Bu Yesline, tunggu,'' panggil seseorang dari belakang. Yesline menghentikan langkahnya seraya menoleh ke belakang. Seorang guru menghampirinya dengan berlarian kecil.


"Iya, Bu." Yesline menunggu tanggapannya.


Apa gerangan yang membuat guru itu memanggilnya.


"Maaf, Bu Yesline. Ini nomor sutradara yang akan menghubungi ibu perihal pembuatan film ini." guru itu menyodorkan sebuah nomor yang ditulis pada sobekan kertas pada Yesline.


Yesline menerimanya begitu saja, lalu mereka melanjutkan langkah mereka setelah Yesline memasukkan kertas itu ke sakunya.


Yesline berpisah dengan Callista di parkiran mobil. Callista menyetir mobilnya sendiri sementara Yesline menggunakan mobil tapi di bawa oleh supir pribadinya.

__ADS_1


Azka yang nampak kelelahan dia tertidur dipangkuan Yesline, saat Yesline menyadari dan heran dengan tingkah Azka yang tiba tiba diam tanpa tingkah aneh dan tidak sengaja menyentuh kening Azka, yang membuat Yesline terkejut karena kening Azka panas.


"Ya ampun, Sayang. Kamu sakit, Nak? Kita ke rumah sakit papa ya?" seru Yesline sedikit panik.


Azka sakit, saking lemasnya dia hanya menganggukkan kepala dengan lambat.


"Kita putar balik arah ke rumah sakit Mas Al ya, Pak?" pinta Yesline kepada supir. Dia mengipasi Azka dengan kipas karakter, untuk sementara waktu.


Yesline meminta supirnya putar haluan, mereka menuju rumah sakit Al. Yesline tidak tahu ada kehebohan di rumah sakit suaminya itu.


*******


"Pak, lukisan ini kita letakkan di tengah tengah tembok itu aja ya," Clara memberikan perintah ke beberapa orang yang kini sedang membantunya memasang perabotan baru yang ia beli dari korea kemarin untuk rumah baru mereka. Clara dan Clinton akan tinggal di rumah baru mereka dalam waktu dekat.


"Baik, Bu."


Dari arah depan rumah, Clinton berjalan tergopoh gopoh masuk ke dalam rumah setelah dia mendapat telepon dari Al.


"Sayang," panggil Clinton kepada Clara. Clara berhambur ke arah Clinton.


"Iya, Clinton. Lihat ruangan ini, bagus kan?" tanya Clara meminta pendapat. Clinton tersenyum mengedarkan pandangan sebentar lalu memberikan jawaban.


"Iya, Clar. Bagus. Sayang, aku pergi dulu ya, ada tugas penting dari Al. Kamu mau ikut aku kembali sekarang atau mau balik nanti?'' kata Clinton.


Setelah berpikir, Clara menjawab, ''Nanti aku kembali sendiri aja, aku masih ada beberapa barang yang belum di pasang."


"Oke, aku pergi dulu ya,"


Clinton meninggalkan Clara. Dia berlari cepat masuk ke dalam mobilnya.


Tadi Al meminta Clinton untuk menemuinya di rumah sakit.


**********


Sementara di rumah sakit.


"Apa tuntutan kalian semua? Saya akan mengabulkan semua apapun yang kalian minta jika memang tuduhan kalian benar. Tapi jika salah, saya akan pastikan kalian yang ada disini, yang ikut menyalahkan rumah sakit saya, akan saya masukkan kedalam penjara. Jadi, silahkan kalian keluhkan semuanya, saya akan mendengarkan dengan tenang. Silahkan, silahkan," ujar Al membuat semuanya terdiam sejenak.


Ada yang nyalinya ciut, ada juga yang tetap mengumpat kesal. Entah siapa yang membawa telur busuk, tiba tiba saja ada yang melempar ke srah Al. Suasana berubah gaduh.


Al memejamkan matanya saat merasakan cairan kental merembes dari rambut terus turun ke kening dan hidung juga pipi dan terus turun ke bawah.


"Ya ampun, Dokter Al," panik salah satu dokter yang sedari tadi mencoba menghalangi amukan massa.


Sekuat tenaga Al menahan emosinya. Tangannya mengepal sempurna.

__ADS_1


"Siapa yang melempar telur ini!! Kalian semua harap tenang. Dokter Al sudah siap menerima keluhan dan akan mengabulkannya, kenapa kalian berubah anarkis. Kalian menganggu kenyamanan pasien yang lain. Cepat bubar! Bubar!! Jika kalian terus seperti ini, kalian tidak akan mendapatkan tanggapan apapun untuk keluhan yang kalian sampaikan," terang salah satu dokter.


Wahyu yang baru saja keluar dari ruangan operasi melihat kerumunan dan Al yang terintimidasi. Wahyu segera menghampiri kerumunan dan memberikan Al sapu tangan.


"Dok, bersihkan dulu rambut kamu," Al menerima, dalam benak Al sudah ingin menonjok wajah mereka satu persatu, tapi demi rumah sakit ini dia tetap bertahan.


"Bubar kalian semua, bubar!'' Wahyu ikut melerai.


Mereka terus tersenyum sinis dan mencibir serta mengolok olok Al.


********


Di luar rumah sakit.


Yesline baru saja turun dari mobil, dia menggendong tubuh Azka. Tapi saat keberadaannya disadari oleh para wartawan yang berdiri di depan rumah sakit, langsung mengerubungi Yesline dan memberondongnya dengan pertanyaan pertanyaan yang wanita itu tidak pahama akan jawabannya.


"Maaf, saya tidak bisa memberikan komentar apa apa, saya harus segera masuk ke dalam karena anak saya sakit," seru Yesline. Tapi mereka tidak mau membuka jalan sampai mendapat jawaban dari Yesline.


"Apa kalian tuli!!!!'' teriak Yesline tak sabar.


Azka sudah mulai kejang karena suhu panasnya meningkat tapi mereka tak kunjung membuka jalan. Yesline bingung.


"Beri kami jawaban dulu, Bu." mereka terus mendesak.


"Kenapa rumah sakit besar dan bagus ini bisa dikatakan telah melakukan malapraktik pada seorang anak hingga meninggal dunia?''


"Sebaiknya ibu sebagai istri direktur tahu sesuatu."


"Ibu jangan tutup telinga pura pura tidak tahu. Bagaimana jika itu terjadi pada anak ibu?''


"Jawab, Bu!!''


"Jawaban apa!! Saya tidak tahu apa apa. Kalian seharusnya bertanya langsung kepada orang yang pertama kali menyebar isu fitnah yang kalian sebutkan. Kalian akan menyesali perbuatan ini jika terjadi sesuatu dengan anak saya!!" Yesline menjerit histeris.


"Cepat minggir!!'' teriak Yesline.


Mendengar Yesline berteriak mereka malah merapatkan barisan dan saling menautkan tangan.


"Kalian gila!!!''


"Kalian bukan wartawan, kalian pasti orang jahat yang disuruh seseorang untuk merusuh disini. Kalian butuh uang? Uang berapa? Aku akan memberikannya, tapi aku mohon biarkan kami lewat."


Tubuh Yesline melemas dan air matanya kembali bercucuran saat Azka kembali kejang.


Tuhan, sadarkanlah hati mereka yang sudah dibutakan oleh uang. Pasti ada yang telah membayar mereka untuk melakukan provokasi ini. Tapi siapa? Padahal mami sudah di penjara?

__ADS_1


Tuhan, Selamatkan putraku.


__ADS_2