Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 152


__ADS_3

Malam ini Hans menjaga dan menemani Papanya. Tadinya mamanya yang akan menginap di rumah sakit, Namun Hans memaksa mamanya untuk pulang dan istirahat. Biar bagaimanapun mamanya sudah berumur, Hans tidak mau mamanya ikutan sakit juga.


" Pa, Hans mau ke kantin rumah sakit bentar, ya! mau beli kopi dulu. " ijin Hans kepada Papanya yang sedang berbaring di atas bankar.


Papanya pun menganggukkan kepalanya. " Iya, Hans. Sana jangan lama lama. " imbuhnya.


" Iya, Pa. Tinggal bentar ya, Papa mau nitip apa? " tanya Hans yang berpikir, mungkin papanya menginginkan sesuatu.


Papanya terlihat berpikir. " Hm... Papa cuma nitip menantu, Hans. Kalau bisa yang kayak Dokter Meriam. " ucap papanya sambil tersenyum.


Hans hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


" Jangan ngada ngada, Pa. Udah ah Hans ke kantin dulu. Assalamualaikum. " pamit Hans sedikit kesal atas permintaan papanya.


" Walaikumsalam. " balas Papanya tersenyum.


Hans berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju kantin, Namun pada saat ia sedang berjalan di belokan pertama ia seperti mendengar suara tangisan wanita. Bulu kuduk Hans sedikit merinding, pasalnya memang saat ini waktu sudah menunjukkan jam 22.30 malam, dan kondisi rumah sakit cukup sepi. Di lorong itu pun Hans hanya sendiri, ia tidak melihat seperti orang atau perawat yang sedang lalu lalang.


" Masa sih rumah sakit sekeren ini ada setannya? " gumam Hans lirih. Namun suara tangisan wanita tersebut semakin jelas dan benar benar berhasil membuat bulu kuduk Hans merinding.


" Hadeh! sialan nih Gabriel! Aku rasa waktu bangun nih rumah sakit, dia gak bikin selamatan deh! makanya sekarang ini, setan setannya pada muncul. " gerutu Hans.


Hans memang yang pada dasarnya Seorang pengacara, ia selalu merasa penasaran dengan hal apa pun yang terjadi di sekitarnya. Baginya jika kasus yang ia tangani belum terselesaikan, ia akan menganggap dirinya seorang pengacara yang gagal. Maka dari itu dengan tingkat penasaran yang tinggi, Hans mendekati ke arah sumber suara tangisan. Dia benar benar harus memastikan suara tersebut berasal dari mana.


" Penasaran saya itu suara kuntilanak atau bukan? Tapi kalau itu beneran suara kuntilanak, Dia nangisin apaan coba? Saya aja yang susah jodoh biasa aja! Hidup di nikmati jangan di tangisi! Eh, saya lupa kalau kuntilanak itu sudah mati. Hehehe .... " oceh Hans untuk mengurangi rasa takutnya. Jujur saja Hans itu sebenarnya penasaran tapi dia juga takut jika itu benar benar kuntilanak.


Hans semakin dekat dengan sumber suara. Lalu dia menatap sebuah pintu yang bertuliskan Gudang. Dengan berusaha mengumpulkan semua keberaniannya, Hans meraih gagang pintu tersebut dan tidak lupa dia mengucapkan bismillah dalam hatinya.


Saat Hans membuka pintunya, wajah Hans sangat terkejut.


" Astafirullahaladzim!!! " seru Hans terkejut.

__ADS_1


" K-kamu ngapain disini malam malam? " tanya Hans kembali dengan berusaha mengatur nafasnya.


" Eh, calon imamku. Aku lagi nonton drakor! Kamu mau ikutan? " kata Dokter Meriam sambil melepaskan headset di telinganya, karena terkejut juga dengan kedatangan Hans.


Iya ternyata suara tangisan yang dia dengar itu adalah suara tangisan Dokter Meriam. Hans terkejut karena melihat Dokter Meriam menangis sambil menonton vidio di ponselnya.


" Drakor? Drama Korea maksudnya? "


Dokter Meriam menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap Hans.


" Tapi kenapa harus nonton di gudang? Kenapa gak di ruangan kamu aja?! Lagian udah malam loh, dengan kamu nonton dan nangis seperti itu, jika di dengar orang yang sedang lewat, Mereka akan berpikir dan berspekulasi berbeda!! " protes Hans.


" Hey, calon imamku. Tadi tuh aku baru selesai operasi, dan aku baru ingat malam ini drakor kesukaanku Kang Galon Oppa Lee Jung Suk tayang. Kalau aku harus ke ruanganku di lantai bawah kelamaan. Lagian nonton di gudang itu ada sensasinya tersendiri. " kata Meriam.


" Dasar cewek aneh!! " sindir Hans.


" Jangan begitu dong! Anhe aneh begini nanti aku bakal jadi istri Kamu!! "


" Wah ... wah ... percaya diri sekali anda, Dokter! "


" Tentu dong, karena aku minta kamu jadi suamiku itu sama pemiliki dirimu sesungguhnya, Kamu tau kan kebesaran doa dan sedekah subuh. Buktinya aja, sekarang kamu sudah mulai kepo sama kegiatanku sekarang! Itu menandakan kekuatan doa sedang bekerja. " tutur Meriam tersenyum.


Hans berdecih kesal, Wanita itu selalu saja pintar untuk menjawab setiap perkataannya.


" Terserah kamu sajalah. " umpat Hans sembari berlalu begitu saja meninggalkan Meriam yang tersenyum lebar. Hans itu lucu di mata Meriam, membuatnya untuk semakin bersemangat untuk menyebut namanya di sepertiga malam.


Meriam membiarkan Hans pergi, Dia langsung melanjutkan aktivitasnya, menonton drakor kesukaannya yang sebentar lagi ending.


******


Di tempat lain, terlihat Al yang berjalan ke arah Clinton yang sedang duduk di dekat meja bartender. Dia sepertinya sudah menghabiskan beberapa gelas scoth. Al menepuk pundak Clinton, dan langsung duduk disebelahnya ketika laki laki itu menoleh.

__ADS_1


" Sudah nambah berapa kali tadi? Sampai jamuran saya nungguin kamu datang. " Clinton memprotes Al dan kembali meneguk minuman terakhirnya.


Clinton mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, Memberikan isyarat kepada bartender itu untuk memberinya dua gelas lagi, bartender itu langsung mengangguk.


" Kepo kamu, Terserah saya mau nambah berapa kali, Tugas saya muasin Yesline bukan Kamu! Istri saya minta nambah terus ya saya ladenin, mau saya ceritain kita ngapain aja? Hm? " tantang Al jail. Membuat Clinton bergidik ngeri.


" Anjir, Ogah!! Saya gak mau!! " sentak Clinton yang langsung mendorong muka Al kembali menjauh.


Al tertawa.


" Saya ceritain beneran loh, biar kamu pengen. Dari tadi yang ditanyain itu mulu. Udah sekarang fokus sama masalah kamu, kenapa? Ada apa? Demi kamu sampai saya belain kesini malam malam. "


" Saya bingung sama Clara. Dia nolak terus tiap saya ajak nikah, Padahal saya sudah sabar selama kurang lebih 5 tahun ini. Kamu ada saran gak gimana caranya agar Clara mau aku ajak nikah dalam waktu dekat? " Clinton menjentikkan dagunya ke depan.


Al tersenyum miring lalu berkata. " Saya punya saran bagus buat kamu. " Al menyeringai.


" Pasti Clara langsung mau kamu ajak nikah. "


" Bagaimana caranya? " tanya Clinton penasaran.


" Kamu jebak aja Clara, Seperti Kamu ngejebak Saya dan Yesline waktu itu. " Al menjawab dengan mantap.


Clinton nampak berpikir, mencoba mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Al.


" Boleh juga tuh, Kalau saya bikin dia kayak Yesline, Dia gak perlu susah payah mempertahankan prinsipnya kan?? Karena sudah pasti dia akan punya anak. " Clinton manggut manggut mengerti dan seperti mendapat pencerahan.


Tapi bagaimana kalau Clara marah? pikirnya lagi.


" Al, kalau dia marah bagaimana?? " tanya Clinton karena tindakan itu akan benar benar menghancurkan prinsip yang sudah sedari dulu Clara pertahankan.


" Kamu masa kagak bisa ngambil hati cewek sih? "

__ADS_1


__ADS_2