
Ayah......
Ini adalah anakmu, anak perempuanmu, yang kau beri nama Meriam.
Nama yang telah kau siapkan lebih dari 24 tahun lalu, jauh sebelum anakmu ini lahir,
Terima kasih Ayah.....
Kau telah siapkan nama yang indah dan penuh harapan untuk Meriam.
Doakan Meriam, Ayah.....
Semoga Meriam bisa terus belajar menjadi Fatimah yang kau idamkan..... Fatimah yang baik untuk Ayah, Amiinn....
Ayah, di depan Ayah sekarang telah duduk sosok yang menanti keridhohanmu. Dia adalah sosok yang cinta kepada Allah. Cinta kepada Rasulnya.
Cinta kepada keluarganya, cinta dan sayang kepada ibunya, dan cinta kepada sekitarnya dan sekitarnya juga mencintainya.
Ayah, Ijinkanlah ia menunjukkan cintanya kepada Ayah, menunjukkan kebaktiannya kepada Ayah, Ijinkanlah ia bersanding sebagai anak Ayah.
Kehadiran kita semua hari ini disini adalah atas ijin Allah dan Allah akan ridho ini semua jika Ayah meridhoi dirinya untuk mencintai Ayah, mencintai keluarga kita dan Meriam.
__ADS_1
Ayah, sejak kecil Meriam bisa mengenal Allah itu karena Ayah, lalu Meriam mencintai Allah itu karena Ayah dan mencintai Ayah karena Allah.
Maka hari ini, di tempat ini, Ijinkanlah Hans untuk mencintai Ayah, dan mencintai Meriam karena Allah.
Terima kasih Ayah, uhibbuka fillah, Meriam sayang sama Ayah karena Allah.
Hasbunallahu wa nikmal wakiil, ni'mal maulaa wa ni'man natsiir. Ya muqallibal quluub, tsabit qalbi'alaa dinika.
Meriam menyeka air matanya beberapa kali dengan tissue. Dia menyerahkan kembali mikrofon itu kepada Ibunya. Gadis itu masih terisak, dia tidak sampai hati mengatakan perpisahan dengan cinta pertamanya, Ayahnya.
Hans ikut terharu, terlihat dia menyeka buliran bening yang hampir luruh begitu saja, semua orang yang datang pun ikut terharu.
Kini pria paruh baya yang duduk di depannya yang akan menjawab atas permintaan ijin Meriam.
Meriam, Putri Ayah satu satunya.
Perlu kamu ketahui, sesungguhnya tidak ada seorang laki laki pun di dunia ini yang mencintaimu yang melebihi cinta Ayah dan kasih sayang ayah.
Sama seperti halnya. Ayah - ayah yang lain yang mencintai putrinya. Cinta yang tanpa syarat, cinta yang tanpa pamrih. Semata mata cinta yang didasari karena Allah. Karena anak perempuan adalah amanah terberat dari Allah.
Adapun hari ini, Ayah insyaallah ikhlas.... Ridho.... Melepas Meriam. Kepangkuan lelaki pilihan Meriam.
__ADS_1
Karena Ayah yakin,
Ayah percaya, bahwa laki laki pilihan kamu yang sekarang duduk dihadapan Ayah,
Hans Al-Faridz.
Ayah percaya, dia akan mampu membimbingmu, memudahkanmu untuk mendapati jalan menuju Ridho Allah Subhanahuwata'ala.
Ayah melepasnya karena lillah, karena tuntunan Allah dan Rasulnya, Insyaallah Ayah ridho, Ayah mengijinkan untuk nanti berumah tangga dengan Hans Al-Faridz.
Dan mudah mudahan Allah memberkahi kalian semua, maka dengan bismillahnirohmanirrohim dengan mengharap ridho Allah, Ayah ijinkan kamu nanti untuk dinikahi oleh lelaki pilihan Meriam yakni Hans Al-Faridz.
Bissmillahnirrohmanirrohim, Hasbunallahu wa nikmal wakiil, ni'mal maulaa wa ni'man natsir.
"Wassalamualaikum warahmatullahi wabaratuh,''
Bolehkan Hans menangis saat itu, dia merasa disambut dengan begitu indah membuat hatinya semakin berdebar tak menentu.
Tuhan begitu baik mengirimkan dia kepada keluarga yabg begitu baik. Bibir Hans bergetar, saat hatinya mengumandangkan janji suci yang ia ambil dalam hidupnya.
Aku berjanji padamu, dengan ijin mu, aku akan menjaganya sepenuh hati, dengan seluruh jiwa dan ragaku, aku hibahkan untuknya. Terima kasih telah mempercayakan putrimu padaku. Aku akan menggantikan tugasmu menjaganya, mencintainya, dan merawatnya hingga kelak nanti kita bisa berkumpul kembali di surga. Aku tidak akan mengecewakanmu, aku berjanji.
__ADS_1
Meriam masih memandangi Hans, yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi suaminya. Dia sudah ikhlas, dan siap mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pria itu.
Cinta selalu tahu jalan untuk pulang.