
Setelah mendapat telepon itu, Yesline berniat langsung menemui Al dan memberitahunya.Tapi Mamanya Hans menarik tangannya terlebih dulu untuk mengatakan sesuatu.
" Iya Bu, ada apa ??? " tanya Yesline dengan tatapan lembut.
" Yes, bujuk lah Hans untuk menerima ajakan Dokter Meriam untuk taaruf. Kalau Kamu yang ngasih tau mungkin Hans mau menerimanya. Bapak dan Ibu sudah tua, sudah pengen nimang cucu. " pinta Mamanya. Tangannya menggenggam tangan Yesline.
Wanita itu menoleh ke arah Hans. Yesline menautkan kedua alisnya.
" Gak usah menuruti Mama, Yes. Aku gak suka sama Dia. " ucap Hans.
" Tuh, kan Yes. Bandel, kan di omongin. " Mamanya kembali berbicara. Yesline tersenyum simpul, Dia sedikit bingung.
" Dokter Meriam itu siapa Ibu ?? " tanya Yesline kepada Mamanya. Dia penasaran kenapa Hans sampai menolak, sementara Mamanya sangat setuju. Apakah Wanita ini spesial ???
Mamanya menceritakan semuanya, pertemuan kemarin yang tiba tiba dan Dokter Meriam yang meminta ijin untuk mengajak Hans taaruf. Yesline dan yang lainnya melongo mendengar cerita dari Mamanya, berbeda dengan Hans yang malah merasa malu.
" Terima saja, Hans. Dari Kita, tinggal Kamu yang jomblo. Mau nunggu siapa lagi kalau Dokter itu Kamu tolak ??? Nunggu Yesline menjanda ??? " kalakar Clinton membuat Al menoyor kepalanya dengan keras. Hans menelan saliva nya, kemungkinan yang Clinton ucapkan dulu sudah pernah Dia pikirkan. Tapi itu tidak mungkin, apa gunanya Dia menunggu Yesline menjanda jika hatinya sudah sepenuhnya milik Al.
Apakah Hans memiliki tempat ??? Tidak !! Dia kembali mengingat bayangan Dokter Meriam yang cantik.
" Kalau Dia baik, kenapa Kamu tidak mencobanya, Hans ?? Dia lebih cantik, dan lebih sholehah dari pada Aku, lebih cocok sama Kamu. " timpal Yesline.
" Ish, Yesline !! Ngapain Kamu jadi merendahkan diri begitu ??? Ayo pulang saja Sayang, Aku tau Kamu tidak nyaman. " gumam Al. Matanya terus menatap lurus ke arah Hans.
" Aku selagi sesama Wanita sih mendukung aja, Hans. " imbuh Leni yang duduk di samping Gabriel.
" Dokter Dokter disini itu masih muda dan cantik cantik, Mereka sudah teruji kemampuannya. Gak kayak Dokter di Rumah Sakit sebelah yang bentar lagi sudah pada pensiun. Jadi Kamu terima aja Dia, Hans. Dia pasti Wanita yang cerdas, Saya sudah lihat track recordnya. Dia bagus dalam segala hal. " Gabriel menambahi sebatas yang Dia tau.
Dokter Meriam sedang menjadi Primadona di Rumah Sakitnya. Selain cantik, Dia memang cerdas dan energik juga sholehah.
Al sudah mulai tersinggung dengan kalimat Gabriel, Laki Laki itu memang sengaja ingin memamerkan para Pekerjanya. Al sangat kenal watak Gabriel yang suka pamer.
__ADS_1
Papa Hans hanya pasrah untuk setiap keputusan yang di ambil Anaknya.
" Iya, Kamu kan butuh cuci mata kalau di Rumah Sakit, jelas maunya yang bening bening. Hati hati ya Leni, Kamu harus lebih waspada sama si Gab, soalnya Dia suka sama daun muda. Kalau Saya kan, memilih yang sudah pasti teruji dari masa mengabdi dan pengalamannya. "
" Sialan Kamu, Mau Saya tonjok ?? Sini buruan !!! Jangan hasut pikiran Istri Saya yang masih suci dan murni !!! " bentak Gabriel geram, Dia bangkit dari duduknya hendak menonjok Al, tapi di tahan sama Hans dan Clinton.
Al tertawa puas saat melihat raut wajah Leni yang berubah. Matanya seakan akan berkata. " Awas Kamu, Mas !! "
Yesline menghampiri Mamanya Hans. Sebelumnya Yesline sudah mengirim pesan singkat ke ponsel Al, Mereka harus segera pulang karena Azka jatuh dari sepeda.
" Ibu, Yesline pamit pulang dulu ya ??? " ucap Yesline. Dia menyalami tangan Mamanya Hans, setelah itu Dia beralih menghampiri Al dan menarik tangannya.
Dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit, Al sudah terlihat tidak tenang. Dia melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan cepat. Dia ingin segera sampai rumah dan melihat keadaan Azka.
******
" Kok bisa Azka jatuh, Mbak ??? untung tidak parah, Lihat kakinya di perban !! Saya tidak suka, ya kalau Mbak teledor dalam menjaga Azka !! Kalau Mbak sudah tidak bisa, Saya bisa mencari pengganti yang lain. " Al terus saja mengomel. Azka sudah tertidur. Al benar benar sensitif dalam hal seperti ini.
Anak seusia Azka memang lagi aktif aktifnya, wajar jika Dia sesekali jatuh saat berlatih naik sepeda. Cuma mungkin karena terlalu sayang sampai Al benar benar tidak ingin melihat Azka luka sedikit pun.
" Maafkan Mbak, Pak. Saya akan lebih berhati hati lagi. Tolong jangan pecat Saya, Pak. "
Al mengibaskan tangannya dengan kesal. Dia masuk ke dalam kamar Azka dan menemani Putranya yang sedang tertidur pulas. Meninggalkan Mbak yang masih diliputi rasa bersalah.
Di sampingnya, Yesline menyentuh bahunya dan berbisik.
" Mbak, bisa bangun. Nanti Saya yang bicara dengan Bapak. Sekarang Bapak masih marah, Mbak tau kan ??? Betapa Mas Al sangat tidak bisa melihat terluka, meski sedikit saja. Jadi jangan dimasukkan ke hati ya untuk perkataan Mas Al tadi. Mbak bisa kerja lagi. "
" Baik Ibu. Terima kasih. Mbak permisi ke dapur dulu. "
Yesline menghela nafasnya sejenak lalu berjalan menyusul Suaminya.
__ADS_1
*****
Hans sedang sholat di Mushola Rumah Sakit sedangkan Papanya masih berada di dalam kamarnya. proses Operasi berjalan dengan baik dan lancar. Papanya akan baik baik saja, hanya tinggal menunggu masa pemulihan.
Tak jauh di belakang Hans, saat Dia baru mau menengok ke samping kiri kanan, mengucap salam, Dia baru tahu sedari tadi ada yang ikut sholat di belakangnya. Di mushola itu hanya ada Mereka berdua.
Hans masih belum menegur Wanita itu, Dia melanjutkan untuk membaca doa. Apapun doa yang Hans panjatkan, Wanita di belakangnya mengaminkannya.
Beberala saat kemudian, Hans memutar tubuhnya menghadap Wanita yang kini baru saja melepas mukenanya. Alangkah terkejutnya Hans membuat Dia sampai tersentak ke belakang, melihat yang sedari tadi sholat di belakangnya adalah Wanita cantik itu, Dokter Meriam.
Bukan kaget, tapi Wanita itu malah tersenyum dengan sangat manis, matanya menunduk dengan bibirnya yang menggumamkan sesuatu.
" Assalamualaikum calon Imamku. "
" Ck !! Sial, kenapa Kita bertemu terus sih ??? " Hans berdecih kesal. Dia segera bangkit dari duduknya dan setengah berlari meninggalkan Dokter Meriam yang sekuat tenaga menahan senyumnya karena melihat tingkah aneh Hans.
Meriam melipat mukenanya dengan rapih dan meletakkannya kembali ke dalam lemari.
Sejenak, Meriam mengingat wajah imut dan wajah ganteng Hans, membuatnya tak berhenti untuk tersenyum, pada saat yang bersamaan hatinya selalu berdebar debar.
*****
" Sayang, Kamu jangan ke makan omongan si Al dong. Niatku tadi ingin pamer sama Al, malah Kamu yang jadi cemburu. Maaf deh .... Maafin Mas, ya ?? " Gabriel berlutut di depan Leni yang masih mencebikkan bibirnya. Kedua tangannya di lipat di dadanya. Pandangannya di buang ke arah lain. Leni duduk di sofa di ruang tamu.
" Tapi yang dikatakan Al masuk akal juga, Mas. Dokter di Rumah Sakit Kamu memang cantik cantik. " bantah Leni dengan ketus.
" Tapi kan bukan berarti Mas mata keranjang seperti yang Al bilang, itu murni karena track record Mereka bagus, Mereka lulusan terbaik. Jadi Mas terima. Hati Mas cuma buat Kamu sayang, percaya deh. Sini Mas peluk. " Gabriel merentangkan kedua tangannya. Dengan menyunggingkan senyum manis dan khasnya yang sangat Leni suka. Wanita itu berhambur ke dalam pelukan Suaminya.
Gabriel menghela nafas lega, dalam hatinya Dia sudah bersungut sungut marah dan siap melayang pembalasan yang lebih kejam kepada Al karena sudah membuat Leni cemburu.
" Tunggu pembalasanku, Al !!! " gumamnya dalam hati.
__ADS_1