
Sebenarnya langkah Nisa begitu enggan melangkah pergi meninggalkan Rizky. Tapi harus dia lakukan kalo dia tidak ingin ketinggalan pesawat. Sambil menyeret kopernya, Nisa kembali mengatur nafas akibat insiden saling tatap yang membuatnya harus memeriksakan kesehatan jantungnya. Bisa bisanya dia terjerumus seperti itu. Tapi itu sih namanya, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Aroma parfum Rizky yang masih menempel di hidungnya, dia akan terus mengingat aroma itu sampai dia mati. Hahaha! Ya, dia memang sinting kalo sudah menyangkut tentang Rizky.
Ketika sudah memasuki antrian boarding pass, gadis itu menoleh kebelakang, berharap Rizky ada di belakangnya. Tapi nihil, pria itu tidak dia temukan dibelakang. Nisa mengedarkan pandangannya ke segala arah, tapi Rizky tak terlihat juga batang hidungnya. Sampai giliran dia melewati pengecekan, tapi pria itu tidak terlihat juga.
Nisa menghela nafas, kemudian berjalan lesu menuju pesawat.
"Mungkin dia naik pesawat lain," gumam Nisa dalam hati. Kemudian dia menaiki tangga, mencari nomor kursinya.
Nisa berjalan pelan memperhatikan setiap nomor yang tertera di atas bangku. Menyusuri dengan seksama, mencari nomor kursi yang cocok yang tertulis di tiketnya. Dan saat dia menemukan nomor yang pas, dia terkejut bukan main. Seolah sedang naik roller coaster, dia langsung dihantam dari ketinggian sepuluh meter.
Nisa berlari menuju kursinya.
"Kamu ngapain?'' todong Nisa, begitu dia sudah ada di depan Rizky.
Pria yang sedang duduk di dekat jendela itu, langsung menoleh mendengar ada suara yang dia kenal.
"Kamu? Ngapain kamu disini?"
" Aku kan udah bilang, aku mau pulang ke Jakarta." selosor Nisa, sambil menatap heran pada Rizky.
"Aku juga sama. Mau pulang ke Jakarta." dumel Rizky tak mau kalah.
Masih dengan rasa bingung, Nisa melihat tiketnya, mencocokkan nomor kursi yang ada di sana, dengan yang tertulis di nomor kursi. Memang cocok. Dan itu memang kursinya. Tepat di samping Rizky.
"Loh... Loh.... Kamu mau ngapain?" tanya Rizky berjaga jaga, saat Nisa menerobos untuk duduk di kursinya.
"Ya, mau duduklah." jawab Nisa galak. Kemudian mendaratkan bokongnya di kursi samping Rizky. "Kamu pikir, aku mau terjun dari pesawat?"
__ADS_1
"Astaga! Nisa.... Jadi kamu juga sengaja beli tiket pesawat yang sama kayak aku? Dan duduk di sampingku?''
Mendengar tuduhan Rizky yang tidak berdasar, Nisa langsung menganga. "Apa? Aku sengaja beli tiket yang sana kayak kamu?'' Nisa terkejut. "Eh, harusnya tuduhan itu buat kamu! Orang tajir kayak kamu, kenapa mesti naik pesawat kelas ekonomi? Harusnya kamu beli tiket bisnis!'' sembur Nisa.
"Terserah aku dong. Duit duit aku."
"Oh, sama kalo gitu. Terserah aku! Aku juga beli pakai duit aku sendiri. Bukan dapat nyolong!''
Rizky berdecak, lalu menyandarkan kepalanya ke punggung kursi, menjatuhkan pandangannya ke arah jendela. Tak ingin lagi berdebat soal kursi. Tapi diam diam, Rizky tertawa kecil mengingat tingkah konyolnya barusan.
FLASHBACK.
Satu jam sebelumnya.
"Sial! Apa sih yang aku lakukan disini?!''
Rizky menggumam pelan, sambil menggaruk kepalanya. Setelah dia mengecek jadwal Nisa, ternyata hari ini dia akan kembali ke Jakarta. Tapi kenapa gadis itu tidak menghubunginya dan memberi tahu Rizky soal kepulangannya ke Jakarta. Ah, pasti Nisa gengsi untuk melakukannya.
Saat dia duduk di kursi tunggu, dan menimbang nimbang apakah dia akan naik pesawat yang sama atau tidak, dia melirik seorang pria yang duduk di sampingnya, sedang memegang tiket yang sama dengan dirinya. Dia ingin melihat di kursi mana pria itu duduk. Siapa tahu tempat duduknya berdekatan dengan Nisa. Karena Rizky sudah tau beberapa saat lalu, di nomor berapa gadis itu duduk.
"Maaf, Pak?. Bolehkan saya melihat tiket pesawat anda?" laki laki yang disamping Rizky nampak terkejut. Dia mengernyitkan dahinya. "Saya tidak bermaksud apa apa. Kebetulan, kita ada di pesawat yang sama." Rizky menunjukkan tiket yang dia pegang kepada orang itu. Lama tak ada jawaban, lalu laki laki itu menunjukkan tiketnya pada Rizky.
"Boleh, ini." ucap laki laki itu.
Kemudian Rizky memeriksa tiket tersebut. Ya ampun! Sangat kebetulan sekali. Laki laki ini duduk persis di samping Nisa.
"Maaf, bisakah kita bertukar tempat duduk?" tanya Rizky hati hati. Dia harus mencari alasan yang masuk akal. "Emmm..... Saya akan memberikan kejutan kepada kekasih saya, yang kebetulan naik pesawat yang sama, dan duduk disamping anda." lanjut Rizky.
Tapi laki laki itu hanya menatap Rizky dengan tajam. Rizky balas menatap laki laki itu, berharap laki laki itu berkata iya. Tapi dilihat dari ekspresinya, sepertinya laki laki itu tidak akan menukarnya. Rizky harus putar otak mencari alasan.
__ADS_1
"Saya akan melamarnya di atas pesawat nanti. Jadi, saya harus duduk di samping dia." ucap Rizky pada akhirnya. Dan seketika dia meringis, memaki dirinya sendiri.
"Oh, ya?'' ucap laki laki itu antusias. "Kalo begitu, ini. Kejarlah kekasihmu. Lamar dia, dan buat dia bahagia!''
FLASHBACK END
Rizky menghela nafas. Semoga ide konyolnya ini, akan menjadi rahasia bagi dia dan laki laki itu. Tidak akan ada yang membongkarnya selama lamanya. Hingga hari kiamat tiba.
Nisa membuka ponsel, dan menekan tombol plane mode. Kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dan berniat untuk tidur, ketika sang kapten memberi tahu bahwa mereka akan take off. Ini bukan kali pertama Nisa naik pesawat, tapi selalu saja dia tidak terbiasa mendengar suara bising, dan jantungnya berdentum keras saat pesawat akan terbang.
Melihat wajah Nisa yang meringis seperti orang ketakutan, Rizky memperhatikan gadis itu. Dia tahu kalo Nisa pasti berdebar debar karena pesawat akan segera naik. Dan benar saja, saat badan pesawat ini perlahan naik, serta deru mesin pesawat menderu kencang, secara spontan Nisa memejamkan matanya dan memegang tangan Rizky.
Reflek, Rizky melihat tangannya yang di genggam Nisa dengan erat. Walau agak sakit, tapi Rizky menahannya. Dan di saat cengkraman gadis itu di tangan Rizky semakin kuat, Rizky memindahkan posisi dengan cara saling menautkan jemarinya di sela sela jari Nisa. Otomatis, Rizky dapat memberikan kekuatan penuh pada Nisa. Dan gadis itu, merasa aman sampai pesawat itu mengapung di udara, dengan kondisi mulai normal.
"Ketakutannya udah belom? Apa masih mau pegang tangan aku?''
Suara Rizky membuyarkan Nisa. Dalam sekejap, gadis itu membuka matanya, lalu segera menarik tangannya dari Rizky. Dan sikap gadis itu, membuat Rizky agak bersedih karena tak lagi menggenggam tangan Nisa.
"Sorry," ucap Nisa canggung.
Pantes aja aku ngerasa aman. Yang aku pegang tangan Rizky.
Nisa membatin. Diiringi jantungnya yang belingsatan. Sepertinya, satu jam perjalanannya di atas pesawat bersama Rizky, tidak akan baik untuk kesehatan jantungnya.
Daripada Nisa terus deg deg an, lebih baik dia tidur saja. Sampai pesawat ini berhenti. Namun, saat dia akan memejamkan matanya, ada seorang laki laki yang berjalan menuju ke arahnya dan berhenti di sana. Melihat padanya seperti sedang meneliti.
"Wah, Mas, ini pacarnya ya? Yang mau dilamar? Selamat ya, Mas. Selamat untuk ke tahap baru selanjutnya." ucap laki laki itu pada Nisa dan Rizky.
Otomatis, Rizky komat kamit, lalu membenamkan wajahnya kedalam telapak tangan. Pura pura tidak melihat apa apa. Tapi Nisa sudah terlanjur tahu.
__ADS_1
"Kamu utang penjelasan sama aku, Rizky." tandas Nisa tepat di telinga Rizky. Dan seringaian jail pun terbit di bibir Nisa.