
" Saya tidak mungkin hamil, Dok. " kata Callista setelah lama termenung.
" Kenapa tidak mungkin, Bu ? " Bu Dokter cantik didepannya malah balik bertanya dengan senyuman dan wajahnya yang tetap tenang menatap Wajah Callista yang gusar.
" Ibu telah menikah dan pasti sudah melakukan hubungan Suami Istri, Itu sudah menjadi alasan kenapa Ibu Callista hamil. Tanda tanda yang Ibu alami juga menandakan jika Ibu hamil. Lalu ini, " tangannya menyodorkan tes kehamilan yang menunjukkan garis dua.
Callista masih mematung. Tangan Nicho mengambil alat tes kehamilan itu dan melihatnya dengan seksama. Nicho syok, Dia terkejut. Tapi kesadarannya masih normal. Dia ingat betul bahwa beberapa kali Callista tidur dan menghabiskan malam dengannya. Mereka beberapa kali melakukan hubungan Suami Istri meski belum menikah. Tapi, Wanita seperti Callista, Ada kemungkinan akan tidur dengan Laki Laki lain juga.
Nicho berspekulasi, meski terasa kejam menganggap Callista seperti itu.
Masalah internal bisa Mereka bahas nanti, Sekarang Nicho harus membuat suasana untuk tidak terasa aneh bagi Dokter itu. Kenapa Sepasang Suami Istri sedih jika akan memilki Seoang Anak ???
Nicho merangkul Callista, Menarik tubuh Callista mendekat dan bibirnya mencium kening Callista dengan perasaan bahagia yang di buat buat. Callista mendongak membelalakkan matanya lebar lebar menatap Nicho.
" Selamat ya, Sayang. Kamu pasti masih syok tidak menyangka akan hamil secepat ini. Karena selama ini Kamu selalu pakai pangaman. " kata Nicho dan tangannya mendekap erat Callista.
" Iya Dok. Saya mengkonsumsi pil KB dengan rutin sebelum berhubungan, jadi tidak mungkin hamil !! " kata Callista melepaskan rangkulan tangan Nicho.
Dokter itu malah tersenyum lebar.
" Tetap bisa hamil, Bu. Apalagi yang Ibu konsumsi hanya pil KB, yang rahimnya sudah pakai IUD saja masih bisa hamil. " jawab Dokter itu menjelaskan.
" Saya tidak bo...." baru saja Callista ingin menyanggah perkataan Bu Dokter itu, Nicho sudah membekap mulutnya.
" Kami permisi dulu ya, Bu. Ini Obatnya Saya bawa. "
Nicho pamit membawa Callista keluar ruangan, Dokter itu hanya mengangguk mengijinkan Mereka untuk pergi. Callista hendak meronta untuk melepaskan diri, tapi Nicho tetap kuat mencengkeram pinggangnya.
Tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Callista, Nicho langsung mengangkat tubuh Callista dan membopongnya. Langkah Callista terlalu lambat, Nicho ingin segera mengintrogasinya. Dia abaikan setiap tatap mata yang melihat ke arah Mereka.
" Nicho !! Turunkan Aku !! " pinta Callista dengan sedikit bentakan.
" Nanti kalau sudah sampai di mobil. Jalan Kamu lelet. Aku mau bertanya banyak hal sama Kamu. Jadi simpan saja tenagamu. " jawab Nicho.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di lobby, Nicho bergegas ke parkiran.
" Cal, buka mobilnya. " kata Nicho.
" Bagaimana bukanya ?? Aku gak bawa kunci, Kamu !!! " jawab Callista ketus.
" Ini Kamu ambil, Ada disaku bajuku. Tanganku kan gak bisa ngambil. " jawab Nicho beralasan sambil melirik ke kantong bajunya.
" Makanya turunin Aku!! Jadi Kamu bisa mengambil sendiri kuncinya !! " bantah Callista ketus. Dia marah sama Nicho.
" Gak mau. Cepatan ambil, Atau mau Aku cium Kamu disini ??? baru Kamu mau ??? " ancam Nicho dan langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Callista. Tapi dengan cepat tangan kiri Callista mendorong muka Nicho menjauh. Dan menghentakkan kakinya agar bia lepas dari cengkeraman Nicho. Callista melompat turun dan gendongan Nicho.
" Nicho !!! Apa apaan sih Kamu!! Kenapa Kamu jadi suka nyosor seperti itu ?? Kamu tau kan kalau Aku lagi marah ??? lagi kesel ??? Aku belum siap untuk hamil !!! Sini, Aku pinjam kuncinya. " Callista merampas kunci mobil dari saku Nicho.
" Aku cuma ingin Kita membicarakan soal ini dengan serius, Tapi tidak mungkin Kita membicarakannya di tempat umum. " kata Nicho menjelaskan.
Callista tidak memperhatikan Nicho, Dia sedang berusaha membuka pintu mobil dan setelah terbuka Callista langsung masuk di depan kemudi.
Nicho mendengus kesal. Dia berjalan memutari mobil, untuk duduk disebelah Callista. Tapi baru saja saat Nicho mau membuka pintu, Callista sudah menjalankan mobilnya dan meninggalkan Nicho.
" Kita kejar mobil itu Pak. " perintah Nicho sambil tangannya menunjuk mobil bmw hitam yang melaju lumayan cepat.
" Baik, Pak. "
Taxi yang Dia tumpangi dipacu dengan kecepatan penuh, mengejar mobil Callista yang melaju lumayan cepat.
" Mau kemana Kamu, Cal ??? "
*******
" Dokter ??? " panggil Yesline ke Dokter Gabriel yang baru saja mau keluar dari ruangannya. Al yang berdiri disampingnya kaget dibuatnya.
" Sayang, Kenapa Kamu manggil Dia ??? " tanya Al ke Yesline tidak sabaran.
__ADS_1
" Sebentar Mas. " jawab Yesline menyentuh pipi Al dengan lembut.
Gabriel menoleh kebelakang.
" Terima kasih untuk makanannya, Dok. Tapi maaf, untuk seterusnya biarkan Dokter Al yang mengurusnya. Saya juga akan lebih berhati hati lagi. "
Yesline merasakan kecemburuan Al karena kehadiran Dokter Gabriel yang tiba tiba memperhatikannya. Tidak seharusnya Dia menerima banyak perhatian dari Orang Lain. Demi menjaga perasaan suaminya.
" Baik. Saya hanya menjalankan tugas Saya. Selebihnya, Jika maunya Ibu Yesline seperti itu, Saya tidak ada masalah. Jika dalam waktu dekat kondisimu belum membaik, Kita akan melakukan pemeriksaan lagi dan tentu akan meminta persetujuan Dokter Al. Saya permisi dulu. " pamit Dokter Biel.
" Iya. Tentu Yesline akan segera pulih. Aku akan mengawasinya. " jawab Al.
Setelah kepergian Dokter Gabriel. Sl menemani Yesline semalaman di kamarnya. Al duduk di kursi dekat Yesline. sebelah tangannya membelai kepala Yesline dan menatap Istrinya itu lekat lekat.
" Tidurlah ..... Aku akan menemanimu disini. Aku tidak akan kemana mana. " kata Al lembut. Istrinya itu mengangguk. Kedua bola mata Yesline mulai terpejam, Tarikan nafasnya mulai teratur dan menandakan Dia sudah tidur.
Al merengangkan otot ototnya yang terasa pegal. Dia bangkit dari duduknya, hendak merebahkan dirinya diatas sofa panjang dekat tembok. Al mau beristirahat sebentar. Al memiringkan tubuhnya, menatap Yesline.
" Maaf ya, Yes. Bukan maksudku untuk cemburuan tidak jelas. Aku benar benar tidak bisa melihatmu dekat dengan Laki Laki lain. Semoga Kamu bisa mengerti. " kata Al pelan sambil mencium lembut dan pelan bibir Yesline agar tidak terbangun.
Tanpa sadar Al juga sudah mulai tertidur. Namun tiba tiba Dia mendengar suara Yesline berteriak minta tolong. Al terbangun dan gelagapan, bergegas berlari menghampiri Yesline.
Dalam tidurnya, Yesline menjerit minta tolong. Kedua tangannya bergerak seperti memukul Seseorang dala mimpinya.
Pintu kamar Yesline tidak tertutup sepenuhnya, Ada celah disana. Ada Seseorang yang memperhatikan Mereka dari sana. Sedangkan Al yang sudah berdiri disamping Yesline berusaha membangunkan Istrinya itu.
" Sayang, Sayang, Bangun, Sayang ..... "
" Tolong, Tolong Aku, Tolong .... " Yesline menjerit terus.
" Yesline, Yes ... Ini Mas, Yes !!!! " Al berusaha memegang tangan Yesline yang berusaha memukulinya. Setelah beberapa saat akhirnya tangan Yesline melemas, Dia sudah tidak mengigau lagi. Namun tangan Yesline masih menggenggam tangan Al, Dengan perlahan Al membaringkan tubuhnya disamping Yesline sambil memeluknya. Entah kenapa bisa Yesline bermimpi histeris itu.
" Tidak apa apa, Yeslineku yang cantik. Kamu aman ..... "
__ADS_1
" Tidurlah yang nyenyak Sayang ..... "
Melihat Yesline yang sudah ada yang menjaga, Seseorang yang memperhatikan dari tadi itu memutuskan untuk pergi.