Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 265


__ADS_3

Kegiatan konyol yang berakhir dengan tragis membuat perkumpulan mereka tampak seru. Pria gila mana lagi yang dengan senang hati dan bangganya mau memakai bikini di depan orang banyak. Dan karena momen yang langka dan sepertinya tidak akan terjadi dua kali, mereka abadikan lewat pemotretan.


Gabriel yang seharusnya menanggung malu atas aib ini, justru malah menikmatinya. Dan Leni, sebagai sang istri yang seharusnya menutupi aib sang suami, malah ikut berkontribusi sebagai fotographer.


"Gile, Nih. Miss universe dari Inggris. Body goals bangat. Seksi.... Sekali." Nicho menggoda Gabriel.


Sedangkan yang digoda bukannya marah, malah berpose ala ala miss universe. Gabriel mengangkat kedua tangannya ke atas, membungkukkan tubuhnya dengan gaya yang molek, kemudian berkacak pinggang. Tidak lupa dengan ekspresi wajah yang menggoda.


"Siapa lagi yang mau foto bareng model dari victoria secret?" Gabriel melambai lambaikan kedua tangannya mengajak yang ada di sana untuk mendekat dan berfoto di sana.


Lalu, riuh tawa menggelegar keluar dari mulut geng kampret itu. Tak terkecuali Leni. Dia justru yang paling kencang tertawa. Dia tidak menyangka kalo suaminya bisa bergaya dan melambai.


"Aku mau dong foto sama miss universe!'' seru Leni, kemudian sedikit berlari mendekat pada Gabriel dan memeluk suaminya yang memakai bikini miliknya itu.


"Oke, Cyiinnn. Sini kita foto bareng." ucap Gabriel dengan suara sengau, membuat semuanya kembali tertawa terbahak bahak. Leni sempat menoyor kepala Gabriel karena reflek. Gapi pria itu malah semakin menjadi, bukannya marah.


"Ayo, pose yang seksi dong!" imbuh Al yang siap dengan kamera ponselnya. "Satu.... Dua.... Tiga....!''


Jepret. Dan gambar pertama pun sudah diambil.


"Lagi dong," pinta Hans semangat.


"Eh, eh, mending you aja yang kesini. Kita foto bareng!'' tanpa banyak birokrasi, Gabriel menarik tangan Hans, yang membuat pria itu langsung berada dalam dekapan Gabriel.


Hans meronta ronta, tapi Gabriel dengan sekuat tenaga terus mendekap Hans dengan sebelah tangannya. Dan mau tidak mau wajah Hans menempel pada dada bidang Gabriel. Membuat Hans terus meringis sampai pada akhirnya dia pasrah.


"Satu.... Dua.... Tiga...!'' Al langsung dengan sigap mengambil gambar dengan kamera ponsel.


Hasil pengambilan gambar diperlihatkan ke semua anggota geng. Alhasil mereka semua tertawa terpingkal pingkal.


"Ayo.... Siapa lagi nih yang mau foto bareng sama Gabriel. Mumpung masih gratis! Besok sudah bayar!'' seru Al sambil memegang kamera ponselnya. Siap untuk memotret.


Kemudian, Clinton dan Clara menyerobot untuk berfoto bersama Gabriel. Mereka pose dengan berbagai gaya, sampai sampai Clinton menggendong Gabriel segala. Kelakuan Clinton membuat semuanya tertawa terpingkal pingkal.


Semakin malam, malah semakin menjadi. Geng para istri sudah kewalahan karena terlalu banyak ketawa. Tapi geng suami sepertinya tidak akan capek. Mereka terus bermain dengan kekonyolan ini. Tertawa terbahak, dan masih berfoto ria.


"Len, nanti Gabriel gak usah di kasih pintu. Tuh lihat, dia udah nyosor aja sama Hans." tunjuk Al kepada Hans dan Gabriel yang sedang main gila. Foto foto mereka sudah memenuhi memori ponsel Al.


"Aku masukin ke instagram ya, Guys!'' seru Al lagi.

__ADS_1


"Woy, jangan dong!" jawab Gabriel seketika, "Nanti pasienku lihat. Terus pada kabur lagi."


Al dan Clinton tertawa bersama. Gabriel langsung merampas ponsel yang Al pegang. Kemudian memeriksa apakah benar benar Al akan menyebarkan foto aib itu ke media sosial atau tidak. Tapi ternyata itu hanya candaan Al saja. Dia juga masih berpikir jernih dan tidak bertindak bodoh.


Karena semakin malam, dan angin pun berembus dingin, mereka menyudahi tingkah bodoh mereka dan berniat untuk bubar, masuk ke kamar penginapan mereka masing masing.


"Mas, aku minta, kamu gak usah bikininya. Kamu pake sampe tidur ya. Plisss ya, Sayang." Leni merajuk sambil memeluk tubuh Gabriel.


"Aduh, kan perjanjiannya juga sampai disini doang, enggak dipakai sampai tidur." protes Gabriel.


"Sekali ini aja ya, Sayang." Leni kembali merajuk. Tapi Gabriel masih kelihatan enggan mengikuti kemauan Leni. Dan seketika, Leni memiliki ide cemerlang. Ide ini pasti tidak akan gagal. Dan Gabriel pasti tidak akan menolaknya. "Ini kan bukan aku yang mau sayang, anak kamu nih, mau lihat kamu pakai bikini."


"Wah, Gabr. Kalo kemauan orang ngidam gak boleh di tolak loh. Nanti kalo anak kamu udah lahir, pasti ileran terus." Nicho ikut menimpali mengompori Leni.


"Dimana mana yang namanya bayi itu ileran!'' sembur Gabriel.


"Eh, pamali tau, Gabr. Nolak orang ngidam. Harus diturutin itu." timpal Clinton.


Mendengar pembelaan itu, Leni merasa berada di atas angin dan menjadi pemenang.


Seharusnya sebagai teman yang baik, mereka saling membela dan mendukung. Tapi, ini malah saling menjerumuskan. Karena Gabriel kalah banyak dan Leni mendapat banyak dukungan dari para sahabatnya, akhirnya Gabriel tidak melepaskan bikininya hingga sampai di dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Leni masih tertawa terpingkal melihat Gabriel masih mengenakan bikini miliknya.


"Mas, sini aku fotoin," Leni mengambil ponsel miliknya, lalu memotret Gabriel. Sedangkan Gabriel hanya pasrah mengikuti semua yang diinginkan oleh Leni.


"Sayang, udah belum sih? Aku udah kedinginan bangat nih enggak pakai baju kayak gini," Gabriel merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan permen. Tapi Leni tak kunjung mengasihaninya. Dia masih ingin melihat Gabriel memakai dalaman wanita itu.


"Nanti dulu dong, Mas. Aku belum selesai. Nih, anak kamu sampai senang tau lihat papanya seksi kayak begitu."


"Itu bukan senang. Yang ada dia malu lihat papanya udah kayak ikan duyung yang terdampar di dasar laut!''


Mendengar perumpamaan Gabriel tentang dirinya sendiri membuat Leni menyemburkan tawa. Dia telah membayangkan kalo nanti anaknya telah lahir dan tumbuh menjadi remaja yang sudah mengerti dengan keadaan dan Leni memperlihatkan foto Gabriel yang memakai bikini, Leni yakin pasti anaknya bakalan langsung minta pindah kartu keluarga. Ah, itu berlebihan. Paling jauh juga, anaknya pasti malu bangat. Benar kata Gabriel.


"Sebentar lagi ya, Mas. Aku pengen kamu tidur pakai bikini." pungkas Leni. Wanita itu mengerucutkan bibirnya, berkata manja pada Gabriel.


Dan pria itu memang sangat lemah kalo soal urusan rayuan pulau kepala dari Leni. Dia selalu tidak tahan melihat wajah imut Leni kalo sedang merajuk seperti ini.


"Kan dingin, Sayang." ucap Gabriel agak memohon.

__ADS_1


"Ada selimut kan? Nih." Leni mengambil bed cover, kemudian memberikannya kepada Gabriel. Dengan wajah pasrah, Gabriel menerima bed cover tersebut. "Kamu pakai selimut saja kalo kedinginan. Demi anak kita, Mas. Dia pasti bangga deh, punya papa kayak kamu begini."


Gabriel mendelikkan matanya pada Leni. Padahal anaknya saja belum lahir. Gabriel memang selalu gengsi kepada wanita hamil yang menginginkan sesuatu, dan memakai alasan kalo kemauannya itu berasal dari si bayi yang mereka kandung, alias ngidam. Padahal Gabriel meyakini, bahwa hal seperti itu adalah mitos. Itu hanya akal akalan si ibunya saja, agar kemauannya terpenuhi. Seperti yang dilakukan oleh istrinya, Leni.


Tapi nyatanya, dia tidak menolak apa yang Leni inginkan. Dia pasrah dan mengikuti keinginan Leni.


"Sayang, udah dong jangan difotoin terus. Aku kan bukan kuda nil yang ada di Ragunan." Gabriel merengut, sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Leni masih sibuk dengan ponsel dan kegiatan memotret suaminya. "Kamu lebih imut daripada kuda nil, Tahu."


"Kuda nil mana ada sih yang imut, Sayang. Kuda nil itu semuanya gemoy, tahu."


"Nah, itu sama kayak kamu. Gemoy!''


Karena sudah tidak tahan dengan kelakuan Leni yang semakin menjadi, Gabriel beranjak dari tidurnya, kemudian menarik tangan Leni, sehingga wanita itu terbenam di dalam pelukan Gabriel. Dan Leni memasrahkan diri, saat kedua tangan Gabriel melingkari perut Leni, kemudian mengusapnya lembut.


"Sayang, nanti kalo kamu sudah lahir ke dunia ini, jangan seperti mama kamu ya. Dia suka ngebully papa. Kayaknya, mama kamu masih menyimpan dendam sama papa, karena dulu mama sama papa itu musuh," ucap Gabriel pada bayi yang ada di dalam perut Leni.


"Mas, jangan ngomong sembarangan dong. Walaupun dia masih di dalam kandungan, tapi dia itu bisa mendengar dan mengerti apa yang kita ucapkan."


"Nah, maka dari itu, aku bicara pada anak kita. Aku mewanti wanti mulai dari sekarang. Supaya kalo sudah besar, otaknya tidak gesrek kayak mamanya."


Mendengar penuturan Gabriel, membuat Leni mengamuk. Dia menatap suaminya dengan tajam. Kemudian menggelitiki perut Gabriel.yang memang terekspos. Gabriel memberontak, dengan cara menggulingkan tubuhnya dan bergerak tidak beraturan ke sana dan ke sini.


"Sayang, udah dong. Geli tahu." Gabriel masih memberontak, sambil menggerakkan badannya, keluar dari kukungan Leni.


"Enggak! Kamu mau aku gelitikin, atau foto seksi kamu aku masukin ke medsos?''


"Aduh, Leni!'' Gabriel berteriak. "Enggak dua duanya!''


Leni semakin memperdalam kelitikan di perut Gabriel. Tapi pria itu menemukan cara bagaimana bisa terlepas dari kukungan Leni. Gabriel menaikkan sedikit kepalanya, kemudian dalam satu hentakan, Gabriel menarik tangan Leni yang dijadikan wanita itu untuk menggelitiki Gabriel.


Pria itu menawan tubuh Leni ke dalam dekapannya. Mengunci tangan wanita itu dengan cara menyilangkan kedua tangan Leni di depan dadanya.


"Mas, ya ampun, sakit tau!'' dumel Leni. Tapi kali ini, Gabriel tidak melepaskan Leni, "Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga, tau. Aku laporin kamu ke polisi."


"Kayak kamu tega aja ngelaporinnya." ucap Gabriel, kemudian melingkarkan kedua tangannya di depan dada Leni. Kini wanita itu benar benar tidak berkutik.


Mereka sama sama sudah kehabisan energi. Sudah merasa lelah dengan semua kekonyolan ini. Sampai pada akhirnya, Leni beristirahat dalam pelukan Gabriel yang masih memakai bikini. Bergumul di balik selimut mereka. Dengan mata terpejam, dan nafas yang beraturan, Leni dan Gabriel terlelap dalam malam yang panjang ini.

__ADS_1


__ADS_2