
Mendengar kabar sang suami dipenjara, Yesline langsung berniat mengunjungi suaminya itu. Dia berada di dalam sebuah taksi saat menelpon Hans.
"Halo, Hans," serunya dengan sedikit suara serak.
Di sebrang telepon, Hans langsung menyahut. Dia tahu kenapa suara Yesline terdengar berat dan serak. Keadaan sekarang sedang tidak baik baik saja. Hans tidak perlu menanyakannya, dia sudah cukup tahu dan paham.
Hans masih dalam perjalanan menuju ke rumah Yesline saat menerima telepon. Hans memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
"Iya, Yes. Kamu mau aku temani ke rutan?" tawar Hans tanpa menunggu Yesline berbicara terlebih dahulu. Dia hafal sifat Yesline yang tidak sabaran dan cenderung nekat.
Yesline tersenyum simpul, dia baru saja mau terkejut karena Hans seperti tahu isi hatinya. Tapi dia lupa kalo Hans dulu adalah teman dekatnya sewaktu dia masih sekolah, sekaligus laki laki yang begitu baik dan tulus mencintainya. Tidak heran jika kini dia tahu segalanya.
"Iya, Hans. Aku tunggu di perempatan dekat jalan rumah aku." setelah mengatakan itu Yesline menutup teleponnya dan meminta kepada supir taksi untuk memberhentikan taksinya di bawah pohon sebelum perempatan di sana.
Ang supir menurut.
Sambil menunggu Hans, Yesline membuka sebuah situs berita pada sebuah alamat di web. Dia ingin tahu kabar selanjutnya, mungkin sudah ada yang menayangkannya di aplikasi itu. Dia ingi tahu bagaimana kabar Al.
Tragis menimpa Jessie, pasien 17 tahun. Dia meninggal dua minggu setelah menerima cangkok jantung dan paru paru dari orang lain dengan golongan darah berbeda. Dokter Al Gunawan dari rumah sakit Healthy gagal memberikan kompatibilitas sebelum operasi dimulai.
Jessie yang memiliki golongan darah O, telah menerima organ dari tipe golongan darah A. Setelah operasi transplantasi kedua untuk memperbaiki kesalahan, Jessie malah menderita kerusakan otak dan komplikasi lain hingga meninggal.
Telah dilakukan uji forensik pada jenazah korban, kemarin dilakukan penggalian ulang kuburan korban dan dilakukan uji forensik, otopsi pada jenazah korban yang baru dikubur tiga hari yang lalu itu. Dan terbukti korban menerima tipe golongan donor jantung yang berbeda.
Karena kasus ini, Dokter yang bersangkutan akan di penjara dan untuk lama penahanan akan ditentukan saat sidang. Tentu selain menjalani hukuman, pelaku juga harus membayar sejumlah uang atas keteledoran yang ia lakukan.
Air mata Yesline meluruh begitu saja. Apa mungkin semua yang dituduhkan adalah benar? Apa mungkin semua itu nyata atau hanya siasat seseorang saja?
Tak berapa lama ada seseorang mengetuk kaca taksi yang ia tumpangi.
__ADS_1
Yesline menoleh dan melihat Hans menunduk di dekat taksi, dia membuka pintu dan keluar setelah membayar taksi itu dan ikut ke mobil Hans.
Mereka langsung ke rutan.
Di perjalanan Yesline sedikit membahas berita yang ia baca tadi dan Hans menanggapi, dia sudah mendatangi rumah korban tapi mereka menolak waktu Hans akan melakukan penggalian kuburan itu, ternyata alasan mereka menolak karena sudah ada yang menggali kuburan itu lebih dulu dan melakukan otopsi, tentu dengan memberikan mereka sejumlah uang untuk tutup mulut.
"Dunia hukum itu kejam, Yes. Bukan yang tidak salah yang menang, tapi yang punya uang yang akan menang," Hans berkata lirih.
Yesline menggerakkan kepalanya untuk melihat ke arah Hans.
"Tapi kamu akan membuat Al yang tidak bersalah menang kan, Hans?'' tanyanya yang langsung diangguki Hans.
"Ya, kita akan membersihkan nama Al."
******
Karena tuduhan kasus malapraktik hingga pasien terbunuh membuat Al dimasukkan ke dalam penjara paling mengerikan di kota itu. Dia dimasukkan ke dalam sebuah mobil khusus yang membawa para tahanan. Dengan di jaga ketat oleh polisi bersenjata. Jika mau berontak pasti mudah bagi Al tapu kini yang dia pikirkan bukan hanya dirinya seorang melainkan kondisi psikis sang istri yang sedang hamil dan Azka putranya. Dia hanya perlu bertahan sampai Hans, Clinton dan teman temannya yang lain menemukan bukti kuat untuk membebaskan dirinya.
Langit senja sore itu yang biasanya nampak indah kini berubah kelabu. Al dengan tangan terborgol digiring masuk ke dalam penjara bersama beberapa tahanan yang lain.
Di belakang dan di sampingnya ada beberapa penjaga yang siap siaga menembak kepala mereka yang berontak atau mencoba kabur.
"Cepat jalan!!!'' bentak mereka.
Para tahanan masuk ke dalam sebuah ruangan, mereka dibagi seragam khusus tahanan, selimut dan juga peralatan lain untuk digunakan selama berada di dalam penjara.
Mereka berbaris berjajar untuk menerima perlengkapan itu. Kepala sipir dengan tongkat di tangannya meminta mereka melepas semua pakaian mereka.
Al yang geram bak diperlakukan seperti binatang di dalam sana mendesis kesal. Dia bukan orang berdosa yang pantas mendapat perlakuan seperti itu. Kedua mata sipir itu melotot seperti mau melompat keluar dari tempatnya. Para tahanan yang lain semua menunduk dan mulai melepas pakaian mereka satu persatu, kecuali Al yang berani menatap mata pria dihadapannya.
__ADS_1
Kenapa harus takut?
Al menatap tajam ke arah pria itu.
"Dasar anjing!! Cepat lepas pakaian kamu, mau aku pukul, hah?! Jangan melotot ke saya!'' bentak kepala sipir dan hendak memukul kepala Al dengan sebatang tongkat yang sedari tadi ia pegang. Al menangkap tongkat itu dan dengan sigap memukul kepala sipir dengan sekali tonjokan sudah membuat sudut kepala sipir berdarah.
"Kamu jangan macam macam ke saya. Kamu mau lagi, hah?! Sini maju! Ayo maju lawan saya!! Dasar sialan!!'' sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut Al sambil kakinya ditendang tendangankan ke depan. Dia protes dan tidak ingin terjebak dalam permainan kotor mereka.
Andai mereka mau uang, Al akan memberikannya. Dia kaya raya meski tanpa rumah sakit itu. Jika bukan karena menghormati keinginan almarhum sang ayah,
Al sudah lama mengubur rumah sakit itu. Dia terlalu lelah.
"Aish! Dasar bajingan! Hajar dia!! Dan masukkan ke dalam ruangan isolasi!'' perintah kepala kepada beberapa ank buahnya.
Al sudah memasang kuda kuda, dia cekatan dan tegas, tapi posisi tangannya yang di borgol dan perkelahian yang tidak seimbang karena main keroyok membuat dia lengah dan sebuah tongkat berhasil dipukulkan ke kepalanya hingga darah mengalir dari pelipisnya.
Semuanya menjadi gelap. Al pingsan. Kepala sipir itu hanya tersenyum sinis dan menatap Al dengan tatapan remeh.
******
Yesline dah Hans sampai di rutan dimana Al ditempatkan. Hans dan Yesline melapor untuk melakukan kunjungan dengan Al tapi kata pihak sana Al menolak semua jenis kunjungan.
"Bagaimana bisa menolak, Pak? Saya istrinya. Tidak mungkin suami saya menolak saya kunjungi." protes Yesline, air matanya sudah hampir jatuh. Namun, mereka tetap menolak dan mengatakan kalo Al memang menolak semua jenis kunjungan meski itu dari istrinya sendiri.
Dengan terpaksa Yesline mengikuti Hans untuk keluar dari rutan itu dengan perasan kecewa. Yesline duduk di tangga depan rutan.
Dia menekuk kedua lututnya dan menangis.
"Kenapa Mas Al menolak untuk menemuiku, Hans?" tangisnya.
__ADS_1