
Assalamualaikum pengantin baru,
Selamat berbahagia, ya..... Selamat bersuka cita bersama,
Mengarungi bahtera rumah tangga tanpa ujung dengan terus menggandeng tangan Hans.
Oh ya, aku ada hadiah spesial buat kamu, calon pengantin xixixi....
Tahu, kan..... Apa artinya calon pengantin?
Meriam memutar bola matanya dengan malas. "Iya tahu, malam pertama kan?'' balas Meriam seakan akan berbicara dengan si pemberi hadiah secara langsung. Tapi, sebenarnya Meriam menelan ludahnya berkali kali. Bilang siap, nyatanya masih super gugup.
Nah,
Kalau sudah tahu, silahkan dipilih mau yang mana, mau yang merah menantang, kuning, puntih, hitam atau....?
Lengkap deh, sudah kuborong semua model yang ada di mal wkwkwk...
Maaf ya, cantik. Teman lo ini kurang adab.
Pokoknya bahagia selalu buat sahabatku Meriam dan Hans.
Allah menjaga dan meridhoi kalian.
Walaikumsalam.
Leni.
Meriam geleng geleng kepala melihat tingkah Leni, Bumil cantik yang baik hati. Meriam melipat kertas itu kembali dan mulai memilih, mungkin ada satu yang sedikit lebih simpel modelnya tapi tetap menantang?
Meriam mengambil yang warna merah, dia berdiri di depan cermin dan menempelkan lingerie itu di badannya.
"Bagus gak sih, aku pakai ini? Seksi di depan suami sangat diharuskan, jadi gak apa apa lah, pilih yang lebih menantang. Biar suami gantengku langsung kalap.'' Meriam cekikikan, dia mengambil warna merah tapi dengan model potongan yang lebih hot dan seksi. Bayangkan sendiri, ya.
Dengan potongan leher terbuka, membelah hingga menampakkan belahan dada yang indah, memamerkan perutnya yang datar dan mulus. Dengan segitiga tipis berenda menantang.
Meriam mamatut dirinya beberapa saat di depan cermin, lalu ia memperbaiki riasannya, tidak terlalu menor, tapi simpel dan cantik, tak lupa ia semprotkan wewangian khusus bikin suami kelaparan katanya. Meriam mendekatkan pucuk botol minyak wangi ke hidungnya, baunya wangi, kalem, tapi memang saat indra penciuman kita menyesapnya, ada seperti dorongan yang mendorong diri ini untuk melakukan hal hal yang panas, bikin terangsang.
Duh, malam ini hawanya panas.
__ADS_1
Sekali lagi, Meriam mengecek riasan dan tampilan tubuhnya, sudah menggoda belum?
Duh! Berasa jadi wanita gak benar aku. Tapi, gak apa apa yang ini adalah kewajiban dan mendatangkan pahala untuk kita. Bismillah, Kamu pasti bisa Meriam, semangat!!!!
Meriam menarik nafas berkali kali. Mencoba mengumpulkan seluruh semangatnya.
Huh! Hah!
Dari luar Hans berjalan beriringan dengan Ayahnya Meriam pulang ke rumah, mereka baru saja selesai menemani para tamu mengobrol.
"Ayah titip Meriam sama kamu ya, Bimbing dia, perlakukan dia dengan lembut dan tegur dia dengan pelan jika dia melakukan kesalahan.'' wejangan Ayah Meriam kepada Hans, Beliau menepuk pundak menantunya yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.
"Baik, Ayah.'' ucap Hans pelan.
Mereka masuk ke dalam rumah.
Hati Meriam sangat tidak karuan ketika mendengar suara pintu utama dibuka, dia kembali melihat riasannya berkali kali ke arah kaca. Meriam semakin lebih gugup. Entah apa yang Meriam pikirkan, sehingga ia memiliki pikiran untuk menawarkan dirinya lebih dulu kepada suaminya.
Ceklek!
"Assalamualaikum,'' ucap Hans pelan.
Hans masuk ke dalam kamar, Meriam kaget, dia membalikkan badannya merasa malu. Meriam dengan cepat naik ke atas kasur, menata kaki dan gestur tubuhnya sedemikian rupa, seperti pengantin india di malam pertama mereka. Dengan memamerkan belahan dada dan juga kulit mulus indahnya, nyatanya hanya di dalam bayangannya saja, yang terjadi adalah Meriam saat ini berbaring di atas kasur dengan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga ke leher.
Hans menggigit bibir, menahan tawa. Sejujurnya hatinya bergetar, mulai terasa tidak enak. Namun tingkah aneh Meriam membuat Hans tak tahan untuk tidak ketawa.
Hans melepas peci dan menggantungkannya di balik pintu, begitu juga baju takwanya. Kini hanya menyisakan badan Hans yang terlihat kekar dan proporsional, dadanya bisang dan .... Ah, mirip sekali seperti model model.
Meriam mengintip dari balik selimut, Hans berjalan menghampirinya. Dan duduk di dekat Meriam.
"Kamu kenapa, sayang? Mas malah kepanasan, Mas berbaring disini ya?'' celoteh Hans yang dengan entengnya langsung berbaring di samping Meriam. Sebenarnya dia juga bingung harus melakukan apa, karena Hans juga merasa gugup malam ini.
"Eh, iya, Mas.'' Meriam menjawab dengan gugup.
"Gak apa apa ya kalau Mas peluk. Kamu gak marah kan?'' selidik Hans, dengan pelan Meriam menggeleng. Mana mungkin dia marah? Dia hanya gugup.
Hans memeluk Meriam dari samping.
"Kamu takut? Tubuh kamu bergetar, Mas bisa dengar detak jantung kamu.'' Hans terkekeh.
__ADS_1
Meriam membeku, saat Hans mengukunng tubuhnya, mata Hans menatap ke dalam mata Meriam, menyusuri setiap hal yang sulit diartikan dari sorot matanya.
Meriam menelan salivanya berkali kali. Sesulit inikah mnegontrol detak jantungnya sendiri?
Dada bidang Hans membuatnya ingin menutup mata tapi akhirnya, melek merem, melihat semuanya.
Meriam merinding saat jari jemari Hans membelai pipinya, lalu tanpa Meriam sadari, Hans mendekatkan bibirnya ke bibir Meriam. Sedikit lebih lama, saling menempel, Meriam mencengkeram lengan Hans.
Bibir Hans manis dan lembut.
Bau aroma tubuhnya, hmmmm..... Dia suka.
Seperti bau mawar bercampur sesuatu yang lebih tegas.
"Apa kamu sudah siap, Mas melakukannya malam ini? Hm?'' tanya Hans hati hati, dia membelai garis pipi Meriam. Dan perlahan menarik selimut yang menutupi tubuh Meriam. Alangkah terkejutnya Hans melihat pemandangan di depannya. Dia tersenyum. Tapi juga menelan salivanya berkali kali.
Sesuatu yang indah tengah terhidangkan di depannya.
"Kamu sudah siap?'' tanya Hans lagi, dengan mata terpejam, Meriam hanya menganggukkan kepala malu malu.
"Tapi aku takut, Mas.'' Meriam mengatakannya dengan pelan.
"Tidak apa apa. Mas pelan pelan. Kamu cantik sekali, Mas gak kuat kalau kamu dandan kayak gini, sebenarnya tadi Mas mau sabar nunggu sampai kamu siap, bahkan sebelum Mas masuk kamar.'' Hans terkekeh.
"Aku hanya ingin memberikan hakmu dengan segera, Mas. Tapi, nyatanya tubuhku dari tadi masih gemetaran.'' Meriam membela dirinya sambil tertawa kecil.
Hans masih tidak percaya dengan Meriam yang mengenakan pakaian hot seperti ini, dia mulai penasaran. "Kamu dapat baju ini darimana, sayang? Gak mungkin beli sendiri kan?''
"Dari Mbak Leni, Mas.''
"Wah, Dia nekat juga ya kasih kamu beginian.'' Hans menjawil renda yang menutupi dada Meriam.
"Ada banyak tuh, sekoper. Mas bisa request mau aku pakai yang mana.'' kelekar Meriam. Mata Hans mengikuti arah mata Meriam memandang. Di sudut kamarnya memang ada koper besar berwarna hitam.
"Leni.... Leni..... Kamu memang usil tapi keusilanmu menguntungkan aku," batin Hans.
"Mas, lebih suka kamu gak pakai baju. Tapi sebelum ini kita sholat sunah dulu yuk, sayang. Biar lebih sah, dan kelak anak anak kita bisa jadi anak anak yang sholeh dan sholehah.'' ajak Hans kepada Meriam.
:Astaghfirullah. Iya Mas, aku lupa untuk sholat dulu gara gara lingerie ini. Hehehe.'' jawab Meriam.
__ADS_1
Hans dan Meriam pun melaksanakan sholat sunah berjamaa. Setelah selesai mereka menjalankan kegiatan malam pertama mereka. Meski Hans sangat gugup tapi kenyataannya, ia benar benar pria kuat yang terus menggempur tubuh Meriam. Meriam yang awalnya sedikit meringis karena pembobolan yang dilakukan Hans, perlahan mampu mengimbangi permainan Hans. Biar bagaimanapun Meriam adalah seprang dokter, ia sangat paham berbau hal hal biologi.