Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 179


__ADS_3

Pagi yang cerah. Terlihat perempuan cantik yang tampak tidak bersemangat. Perempuan itu terus memegangi kepalanya yabg terasa pusing. Tidak hanya pusing, tubuhnya juga lemas.


" Hari ini aneh, ya? Padahal aku tidak salah makan apapun. " ujar Leni kebingungan. Tak biasanya dia begini. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya ini?


Ah, mungkin saja karena dirinya yang kelelahan karena menghadiri acara pesta pernikahan Clinton. Ya, pasti karena itu. Leni begitu yakin.


Gabriel yang baru saja selesai mandi mengerutkan keningnya kebingungan melihat sang istri masih berada di tempat tidur. Padahal, Leni tak biasanya begitu. Istrinya itu pasti sudah berada di dapur menyiapkan sarapan terbaik untuknya.


Sebelum mandi tadi, sebenarnya Gabriel sudah kebingungan dengan Leni yang terlambat bangun. Ia yang melihat tidur sang istri yang begitu damai, tentu tidak tega membangunkannya.


" Mas, maaf ya. Aku baru bangun. " kata Leni merasa sedikit bersalah.


Gabriel tersenyum dan menggeleng. " Gak apa apa, sayang. Aku maklum, kok. Kamu sebaiknya istirahat saja. " Gabriel mengusap usap rambutnya yang basah. Hal itu tentu membuatnya kelihatan semakin tampan saja di mata Leni.


Leni sampai terperangah melihat aksi suami yang tanpa sadar tersenyum lebar.


Merasa di pandangi oleh istri tercinta. Gabriel merasa geli sendiri. " Sayang, hari ini kamu sedikit aneh. Tapi, aku suka. " Gabriel duduk di tepi ranjang. Wajahnya dan sang istri saling berdekatan.


Cup.


Kecupan sekilas, Gabriel daratkan ke bibir mungil itu. Leni tentu tersipu malu.


" Semakin hari, aku merasa kamu semakin cantik aja, sayang. " Gabriel membelai rambut Leni, tak lupa juga merapikan anak rambut Leni yang sedikit berantakan.


Leni bahkan belum cuci muka sama sekali. Namun, di mata Gabriel sang istri terlihat begitu cantik.


" Mas, kamu hari ini kerja ya? " tanya Leni tiba tiba.


" Tentu saja. " jawab Gabriel. Pertanyaan Leni sungguh membingungkan dan mengherankan. Jelas jelas perempuan itu begitu tahu jadwalnya.


" Bisa gak kalau hari ini kamu cuti aja? "


Hah?


Mata Gabriel mengerjap lucu saking kagetnya dengan permintaan sang istri yang begitu tak lazim baginya. Sejak kapan Leni bersikap begitu?


" Aku ingin kamu di rumah aja nemenin aku. " kata Leni lagi.


Gabriel tampak terdiam. Otaknya masih mulai mencerna apa yang sedang terjadi sekarang.


Hingga beberapa menit kemudian, Gabriel tersenyum sambil mengangguk. " Baiklah. Aku akan bolos kerja untuk menemani istriku yang cantik ini. " Gabriel mencolek hidung Leni.


Leni tersenyum senang. Ia merasa bahagia karena sang suami mau menuruti keinginannya ini. Leni bahkan tidak tahu kenapa dirinya begini.

__ADS_1


****


Nicho terlihat keheranan melihat notifikasi ponselnya yang terus terdengar. Sepertinya banyak pesan yang masuk. Segera ia mengambil ponsel miliknya itu.


Betapa terkejutnya ketika ia melihat Mami yang mengirimnya banyak pesan. Tak berapa lama kemudian, ponselnya berdering. Dan itu panggilan dari Mami mantan pemilik Klub Alexiz.


Nicho tercekat dibuatnya. Bukankah Mami sedang ditahan? Kenapa bisa menelponnya begini?


Ia pun memutuskan untuk membaca pesan itu, sebelum mengangkat panggilannya. Nicho membacanya dengan seksama.


Nafasnya begitu tercekat tatkala membaca isi pesan yang mengatakan kalau sang penelepon sudah bebas. Gawat! Nicho tentu panik dibuatnya. Kenapa bisa bebas secepat itu? Celaka!


" Aku harus menghubungi Hans sekarang juga. " ujarnya.


Tidak ingin membuang waktu, Nicho pun langsung menghubungi Hans.


Panggilan pertama tidak terangkat. Sepertinya Hans sibuk.


Panggilan ke dua juga sibuk.


" Ayolah, Hans. Tolong diangkat teleponku. " Nicho menggigit bibirnya lumayan kuat untuk mengurangi rasa gugupnya.


Panggilan ketiga masih nihil. Namun, Nicho tidak menyerah begitu saja. Ia terus menghubungi sang sahabat.


Akhirnya di dering panggilan ke empat, Hans mengangkat telepon Nicho. Wajah Nicho terlihat sumringah sekali.


" Maaf, Bro. Ponselnya saya silent. Jadi gak tahu kalau kamu lagi nelpon. "


" Ngomong ngomong ada apa? Tumben bangat, ada masalah? " tebak Hans.


Nicho tak langsung menyahut. Ternyata Hans bisa menebak dengan akurat.


" Iya. Ada masalah sedikit. Bisa siang ini kita ketemu? "


" Masalah apa?! " Terdengar begitu jelas suara kaget dan kekhawatiran yang mendalam dari Hans.


" Ini berkaitan dengan Mami. "


" Hah? Mami? " Hans sangat kaget karena dia sudah tahu mami yang dimaksud pasti mantan pemilik club alexiz.


" Nanti aku jelasin, ya. Gak enak kalau ngomong lewat telepon gini. "


" Okelah. Sekarang aja kita ketemuannya. Biar aku share lock lokasi ketemuannya, ya. "

__ADS_1


" Kamu yakin gak sibuk, Hans? "


" Gak, kok. Ya udah kamu gerak sekarang ya. "


" Okelah. " Nicho mengangguk.


Panggilan telepon pun berakhir. Nicho bisa tebak kalau Hans juga begitu penasaran.


Akhirnya setelah menempuh waktu sekitar satu jam kurang lebih, Nicho pun tiba di sebuah kafe. Kafe pilihan Hans.


Nicho menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Hans.


" Nicho, di sini. " panggil Hans melambaikan tangannya memanggil Nicho.


Bisa Nicho lihat kalau Hans duduk di dekat kaca jendela. Ia pun langsung menghampiri pria tampan yang masih berstatus jomblo itu padahal usianya sudah matang.


" Sudah lama menunggunya? " tanya Nicho.


Hans mengangguk pelan. " Lumayan. "


" Sorry, Bro. Tempatnya lumayan jauh dari apartemen saya. "


Hans terkekeh pelan. " Iya, aku tahu. Udah santai aja. "


" Oh ya, mau pesan apa? " tanya Hans.


" Apa aja boleh. " jawab Nicho.


Tujuannya ke kafe hanyalah ingin memberi tahu Hans saja. Bukan bermaksud ingin makan, minum dan sebagainya.


Tapi, ya sudahlah. Sekalian saja. Perutnya juga dari tadi belum terisi makanan sama sekali.


Hans mengangguk paham dan mulai memesan makanan untuk mereka berdua. Selagi menunggu pesanan datang, Nicho langsung bercerita.


" Hans, Saya langsung aja. Gini, Mami udah keluar. "


" Kok bisa? Seharusnya kan belum? "


" Nah, itu dia, aku juga gak tau. "


" Pasti ada yang tidak beres. " Hans berujar.


" Apa yang tidak beres? "

__ADS_1


Degh!


Keduanya tercekat mendengar suara yang begitu mereka kenali. Hans dan Nicho saling melempar pandang. Deru nafas keduanya memburu. Begitu tidak menyangka kalau orang itu akan datang di waktu yang tidak tepat begini.


__ADS_2