
Al cemberut, bibirnya maju beberapa centi. Dia melengos, membelakangi istrinya. Yseline bangun dan duduk. Dia menarik lengan Al untuk kembali menghadapnya.
"Mas, itu kenapa bibir maju gitu? Marah? Mas marah sama aku? Gak mau nurutin kemauan ngidam aku? kamu tega ih, masa gitu sama calon anaknya, Egois!" sentak Yesline, ngambek. Mata Al membulat, kenapa jadi Yesline yang marah?
"Sayang, kok malah kamu yang marah? Harusnya Mas, Mana ada istri ngidam pengen lihat wajah laki orang!" bantah Al.
Ya, kamu benar Mas. Memang mintaku rada aneh, sih. Tapi ini bukan kemauanku.
Yesline berbalik, Menatap mata Al dengan tajam.
"Bukan salahku, Mas. Ngidam mana bisa request, kalau laper baru bisa pesan mau makan apa, makan di restoran terkenal atau di pedagang kaki lima. Kalau boleh milih, aku maunya pergi ke korea aja, Lihatin wajah Oppa Lee Jung Suk!'' ujar Yesline berbinar. "Tapi anakmu malah sukanya yang lokal,'' lanjut Yesline yang tidak sadar kalau wajah Al sudah memanas.
Mata Al semakin terbelalak lebar. "Kenapa malah milih artis, aku kira kalau boleh milih, kamu bakalan lihatin wajah Mas tiap hari, Kamu bikin Mas kecewa," protes Al lagi. Bibirnya yang mengerucut nampak lucu. Yesline sekuat tenaga mengempiskan perut menahan tawa. Lama lama dia juga tidak mau melihat Al manyun seperti itu. Dia beringsut mendekati Al, menyentuh tangan suaminya dan mengelus punggung tangan Al dengan lembut.
"Mas.... Jangan marah, ya. Aku tuh gak bisa lihat kamu marah, Aku sayang bangat sama kamu, tapi masalahnya perasaan ini benar benar kuat, aku pengen sekali lihat Hans dari jarak dekat. Tapi, kalau kamu gak bisa nurunin ego kamu demi nurutin mauku, ya udah deh, aku tahan, Nanti Adiknya Azka ileran juga bodo amat! Yang penting kamu gak marah deh," ucap Yesline memasang wajah melas, sedih. Tapi dia tau, dia yang mengalah malah biasanya Al akan luluh.
Kita tunggu saja. Dalam hati Yesline sudah menghitung mundur.
Satu..... dua.... tig.....
"Kamu sedih? Jangan sedih ya, sayang. Aku juga paling gak bisa lihat kamu cemberut gitu, ya udah deh. Oke. Aku anterin kamu ke Jogja sekarang. Sini, senyum dulu...." seru Al mengalah. Mata Yesline langsung berbinar, dia tersenyum puas. Benarkan, memang pawang suami itu ya istrinya sendiri. Yesline tersenyum lebar, mengunyel nguyel rambut Al dan menciumi pipi dan bibir Al tanpa henti.
Al hanya tertawa geli tapi juga senang diperlakukan Yesline seperti itu.
Meski dalam hatinya nyesek, menyadari Yesline yang sebahagia itu karena diizinin Al untuk ketemu Hans.
Untung si tukang caper itu udah nikah, minimal ada Meriam yang jagain tingkah Yesline.
Yesline terlihat melompat dari kasur untuk mengambil ponselnya. Al panik.
__ADS_1
"Sayang, jangan lompat lompat gitu, kamu itu lagi hamil." Al ikut berdiri menangkap tubuh Yesline.
Yesline hanya nyengir.
Lalu menyerahkan ponselnya ke Al, "Hubungi Hans sekarang, Mas,'' pintanya tak sabar.
Al mendengus kesal, tapi tetap menerima ponsel pemberian Yesline.
Sabar, Al. Demi anak dan istri, kamu harus berjuang mengalah. Nanti gantinya kamu minta tambahan jatah ke Yesline.
Hati Al berbicara sendiri.
*********
Meriam terlihat duduk di atas ranjangnya. Dia sedang bingung memilih mau honeymoon kemana. Hans disampingnya hanya berbaring di pangkuan Meriam sambil membelai pipi Meriam.
"Enaknya kita kemana dulu ya, Mas? Kak Gabriel ngasih tiketnya banyak dan tempatnya bagus bagus. Belum kak Al yang ngasih cek kosong, boleh kita gunakan semau kita buat liburan, berasa jadi anak sultan aku." celetuk Meriam kegirangan.
Sahabatnya itu memang orang kaya suka menghamburkan uang buat sahabatnya. Tapi uangnya gak habis habis. Meriam yang mendengar cerita Hans ikut tertawa.
"Mereka memang orang baik ya, Mas. Suka berbagi tanpa pamrih. Orangnya asik asik dan solid. Kamu beruntung punya kawan seperti mereka." Meriam mengomentari. Dia mengambil satu tiket honeymoon ke korea dan menunjukkan ke suaminya.
"Kalau kita kesini dulu gimana, Mas?" tanya Meriam.
"Boleh. Aku sih kemana aja, oke. Yang penting kan perginya sama ayang,'' goda Hans. Dia menciumi perut Meriam membuatnya geli.
"Mas, geli tau. Oke deh, kita ke korea dulu ya?" kata Meriam dengan semangat.
"Oke. Berangkat sekarang?'' tanya Hans menanggapi.
__ADS_1
Meriam kaget. ''Bukannya kita perlu lihat jadwal penerbangan dan beli tiket pesawat dulu ya, Mas?''
"Gak perlu. Kemarin Gabriel bilang, kita boleh pakai jet pribadinya. Kapan pun kita butuh. Oh ya, Mas lupa. Kemarin Al nawarin Mas kalau kita mau umroh ngajak ibu sama ayah, Al mau bayarin semuanya. Katanya ucapan terima kasih karena jamuan kemarin." kata Hans.
Meriam melongo, itu uang atau daun? Kenapa di kasih ke banyak orang begitu saja? sesaat jiwanya meronta ronta. Kehidupan Meriam dari kecil tidak pernah kekurangan dan terbilang lebih. Tapi dia belum pernah lihat orang milyader yang buang buang uang setiap hari.
"Apa kita umroh bareng ibu dan ayah aja, Mas? Dari Kak Gabriel ada tiket ke Mekkah juga sih, terus ke Turki. Bingung aku tuh...."
"Iya, apa mau kamu Mas turutin, kita siap siap aja, nanti langsung berangkat. Mas kabari Gabriel nanti." Hans tersenyum, meraih punggung tangan Meriam dan mengecupnya dengan lembut.
Bukan lebay ya, Memang Al dan Gabriel memang seperti itu. Mereka terlalu baik hingga mungkin Tuhan memberikan mereka rejeki yang tak pernah surut.
Perbanyak sedekah, maka bertambah rejekimu, bukan malah berkurang. Berapa pun yang kau beri, Tuhan selalu mengembalikannya dengan kontan bahkan berlipat lipat ganda.
Meriam melihat ponsel Hans bergetar di atas nakas. Dia mencondongkan sedikit tubuhnya dan mengambil ponsel Hans.
"Mas, ada telepon." katanya.
"Siapa sayang?'' Hans bangkit untuk duduk. Dia menerima ponsel itu dan melihat nama Al terpampang di layar ponselnya.
Hans menerima panggilan dari Al.
"Iya Al, ada apa? Sudah kangen ya?'' canda Hans.
"Sialan kamu! Kamu udah nikah masih aja ganggu istriku,'' cecar Al kesal.
Yesline yang duduk di samping Al mencubit gemas perut suaminya. Kalau ngomong gak bisa dikontrol.
Kini Hans yang tersentak kaget dengan apa yang Al katakan. Apalagi tadi dia sudah ubah ke mode keras suara panggilannya. Meriam menatap bingung ke arah Hans penuh selidik. Hans sedikit panik, masa baru hari kedua nikah sudah mau kena omel.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Al?''