
Al menghentikan mobilnya di depan rumah. Dua garis bibirnya tertarik membentuk senyuman, Al mengusap pucuk kepala Azka saat Azka mencium tangannya dan turun dari mobil. Yesline menunggu, Azka sudah berlari masuk ke rumah bersama pengasuhnya. Sedangkan Yesline beringsut mendekati Al, Yesline merebahkan kepalanya di pundak Al.
"Mas, mau olahraga enggak?" tanya Yesline tiba tiba dan Al langsung menoleh terkejut.
"Kenapa tiba tiba nawari, Mas?" pura pura terkejut, padahal tangan Al sudah mulai membuka kancing blouse Yesline setelah dia menutup seluruh kaca mobil dan menyalakan AC nya. Malam itu Al menerima tawaran Yesline.
Yesline tersenyum senang. Dia tahu Al sedang tidak enak hati, jadi olahraga adalah cara ampuh untuk menghilangkan emosinya yang sempat tegang.
Al sudah menanggalkan blouse Yesline dan menikmati tubuh Yesline setiap incinya. Al menikmati olahraganya malam itu. Dia benar benar merasa bisa lebih baikan. Dia harus segera ke rumah sakit, ada operasi yang harus ia lakukan atas permintaan pasien sendiri.
Al mengecup kening Yesline.
Setelah Yesline turun, Al langsung mengejar waktu menuju rumah sakit. Dia akan mandi dulu nanti di rumah sakit.
********
Hari itu Gabriel memilih pulang cepat dari rumah sakit, dia ingin menemui Leni, ingin olahraga ranjang juga. Sepanjang perjalanan Gabriel sudah senyam senyum sendiri, dia membelikan Leni hadiah gaun malam yang baru, juga parfum dan buket bunga. Ia berniat mengajak Leni untuk dinner plus plus malam nanti.
Sebelum melewati belokan di depannya, dia dapat pesan singkat dari nomor Ayah mertuanya. Gabriel memutuskan untuk berhenti sejenak untuk membalas pesan dari ayah mertuanya itu.
Mobil Gabriel berhenti di depan rumah Mertuanya itu, dia turun dari mobil membawa semua hadiahnya.
"Semoga Leni suka. Tapi kenapa Leni ke rumah ayah lagi ya?" sambil jalan Gabriel memikirkan alasan Leni datang mengunjungi ayahnya lagi, Gabriel suka ngeri kalo disuruh kesini sering sering. Jantungnya bisa penyakitan.
Gabriel berjalan perlahan menengok di depan rumah ada ayah mertuanya atau tidak, kalo tidak ada berarti aman. Karena kemarin saat Gabriel ada salah dan Leni ngambek, Mertuanya sudah menunggu di depan rumah dengan membawa senjata apinya.
Gabriel mengetuk pintu, dan saat pintu terbuka alangkah terkejutnya dia melihat Leni sedang menangis di samping ayahnya.
"Mati aku!! Bikin salah apa lagi kamu, Gabr?!"
Terancam gagal olahraga ranjang, malah akan olahraga senjata api ini!
**********
Pagi itu Chloe terlihat kebingungan, dia menyeret tasnya dari kamar menuju dapur mencari Callista.
"Mama,'' panggil Chloe.
Callista yang baru selesai mencuci piring dan mengelap tangannya menggunakan kain lap, langsung berjongkok memenuhi panggilan Chloe.
__ADS_1
"Ada apa sayang?'' sahut Callista lembut.
"Kemarin Chloe dapat tugas mewarnai dari Bu Guru, Chloe sudah gambar tadi malam tapi pagi ini Chloe cari kertasnya gak ada di kamar. Mama tahu gak kertas Chloe dimana?" terang Chloe dengan wajah sedih. Dia sudah menggambar dengan bagus kemarin, masa hilang begitu saja.
Baru Callista hendak menjawab tiba tiba bel apartemennya bunyi. Callista bangkit mengandeng tangan Chloe dan mengajaknya untuk berjalan ke pintu depan, membuka pintu.
"Siapa, Ma?'' Chloe bertanya kepada Callista sambil mendongakkan kepalanya.
Callista menjawab dengan menjentikkan bahunya seraya membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Azka, Yesline dan Al. Callista terkejut. Tumben datangnya rombongan.
"Assalamualaikum," seru Yesline dengan senyum lebar, menyapa Chloe yang sudah cantik dengan rambut kepang dua. Azka membalas dengan senyuman saat Chloe melambai kearahnya dengan antusias. Padahal wajah Chloe tadi sedih tapi jadi langsung bersemangat saat melihat ada Azka.
"Masuk, Yes." Callista membimbing mereka untuk masuk. Azka digandeng Chloe di ajak ke taman, mereka duduk di ayunan di halaman rumah mereka.
"Kakak, sengaja jemput aku?" Chloe memiringkan kepalanya menatap lekat Azka. Pria kecil tampan yang begitu manis.
"Sengaja lewat, tapi gak sengaja jemput," Chloe mengayunkan kedua kakinya.
"Ish, Nyebelin."
"Sudah lama gak berangkat bareng, jadi gak apa apalah aku buat kamu senang pagi ini," imbuhnya.
"Jangan cengeng lagi. Kamu habis nangis kan tadi?" celetuk Azka saat melihat bola mata Chloe memerah.
Chloe menyeka ujung matanya.
"Kertas mewarnai ku hilang. Takut dimarahi Bu Guru," keluh Chloe dengan sedih.
"Kamu ceroboh sih, harusnya habis gambar disimpan di tas. Kamu taruh dimana emang?" Azka mulai judesnya.
Chloe mecebikkan bibir, melihat Azka yang dari manis berubah jadi judes.
"Di kamar." Chloe menjawab sekenanya. Azka kalo lagi marah dan melotot seperti itu jadi menakutkan.
Chloe selalu bisa melupakan kesedihannya jika ada Azka.
"Kak Azka tau aja kalo Chloe lagi sedih." Chloe kembali merubah raut wajahnya kembali sedih. Azka memutar tubuhnya untuk menatap Chloe.
"Memang kenapa?'' Azka balik bertanya.
__ADS_1
"Chloe kehilangan kerta menggambar Chloe. Nanti bisa diledek sama teman teman di sekolah." Chloe cemberut.
"Siapa emang yang berani meledek kamu?" Azka turun dari ayunan, menatap ke arah Chloe.
"Kamu lain kali kalo ada yang ngeledek, kamu diamin aja. Nanti bilang Bu Guru kalo sudah ngerjain tapi hilang. Beres kan? Gak usah cengeng!''
Chloe mengangkat kepalanya menghadap Azka yang meninggalkannya dan pergi masuk ke dalam rumah.
"Kak, tunggu!'' gadis kecil itu berlari mengejar Azka. Bukannya berhenti Azka malah berlari semakin jauh meninggalkan Chloe di belakangnya.
"Dasar lelet!" cicit Azka kepada Chloe yang ngos ngosan di belakang.
Sementara di dalam rumah,
"Mas, ada Yesline dan Al,'' Callista berteriak memanggil Nicho yang masih di kamarnya bersiap siap.
"Mau minum apa, Al, Yes?" Callista duduk di kursi disebelah Yesline. Dia tersenyum manis dan menyambut mereka dengan ramah. Yesline membalas dengan tersenyum. "Apa aja deh, Cal." Yesline menjawab sekenanya.
"Kamu, Al?" Callista beralih bertanya kepada Al.
"Jus jeruk ada gak?'' tanya Al.
"Ada, Aku buatkan yang dingin nanti. Tunggu disini dulu ya, aku buatkan minum dulu." Callista pergi ke dapur. Nicho baru saja turun dari tangga dan langsung menghampiri Al juga Yesline. Nicho sudah siap untuk berangkat kerja.
"Hai, Al. Tumben kesini pagi pagi sekali. Ada apa?'' Nicho duduk disamping Al.
"Sengaja mampir biar bisa berangkat bareng ke sekolah tuh si Azka sama Chloe. Aku juga ada urusan sebentar sama kamu. Nanti kita bareng ke rumah sakit. Yesline biar semobil sama Callista."
Nicho mengernyitkan dahinya. "Ada masalah apa nih?" Dia sudah penasaran. Al memasang wajah serius.
"Nanti aku kasih tahu kalo sudah di rumah sakit,"
Callista datang menyuguhkan minuman, dibantu Yesline untuk menyodorkan minuman itu ke Al dan juga Nicho.
"Ada masalah serius ya? Sampai kamu datang sendiri? Harusnya kan bisa lewat telepon?" Callista ikut nimbrung.
"Kamu kan tahu, aku gak suka bahas hal penting lewat telepon."
Mereka ngobrol sampai jam 7.00 pagi.
__ADS_1
Nicho berangkat menggunakan mobil Al dan Callista bersama Yesline berangkat berdua dengan mobil Callista.