
Tapi.
Baru saja langkah kakinya hendak diayunkan ke depan, Nisa merasakan ada yang bergetar di dalam tasnya. Wanita itu buru buru membuka tas dan mengambil ponselnya. Ada pesan masuk dari Rizky.
Sesaat kedua garis sudut bibirnya langsung membentuk garis senyuman.
"Aish, selalu saja muncul di detik detik terakhir," Nisa mendengus kesal. Matanya melotot membaca pesan yang di ponselnya.
Aku sudah kirim sopir bust jemput kamu. Datang ke Apartemen sekarang. Aku butuh bantuan.
"Dasar! Selalu saja suka seenaknya sendiri." Nisa dengan cepat membalas.
Mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa, saya sedang dalam perjalanan menuju Bandara.
Setelah mengirim balasan untuk pesan itu, Nisa kembali langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia berlari kecil ke mobil dan masuk ke dalam.
Tadi, dia ingin kepergiannya dihentikan oleh Rizky, ini sudah diminta ke apartemennya, malah gak mau. Aneh memang. Nisa sendiri pun juga merasa aneh pada dirinya yang plinplan.
Dia hanya tidak suka dengan cara Rizky yang terlalu memerintah dan cenderung memaksa.
Setelah Nisa masuk dan duduk, taksi mulai melaju dan meninggalkan hotel.
Sementara di tempat lain, Rizky yang membaca pesan Nisa malah menjadi kesal.
"Sok jual mahal!''
"Wanita itu benar benar tidak bisa ditebak. Kadang keras, kadang lembek. Ah, sialan kamu Nisa."
Rizky merasa nyeri pada bagian panggulnya.
Beberapa menit yang lalu, Rizky sedang di kamar mandi dan tiba tiba ada yang memencet tombol rumahnya. Dia ingat di tengah hujan malam itu, dia lapar dan telah memesan makanan online, mungkin itu kurir pengantar makanan nya. Rizky yang baru selesai mandi dan memakai handuk berjalan dengan langkah cepat sehingga membuatnya terpeleset dan jatuh. Seketika itu juga pinggangnya terasa nyeri. Alhasil, Rizky yang kesusahan berdiri, membuat kurir menunggu lama dan akhirnya pergi begitu saja. Handuk yang di pakainya terjatuh dan buru buru ia perbaiki lagi, lalu dia teringat Nisa, mungkin dia bisa melihat apa yang terjadi pada pinggangnya.
Tapi, melihat jawaban Nisa, Rizky menyesal karena sudah merendahkan dirinya meminta bantuan dari wanita itu.
__ADS_1
"Awas kamu, Nis."
Dengan sedikit meringis dan penuh usaha, Rizky bangkit dari posisi duduknya. Dia berjalan menuju walk in closed, dia segera berpakaian dan berniat mengejar Nisa. Gadis itu tidak boleh pergi sebelum berpamitan dengannya.
"Gadis jutek, tapi tidak rela aja kalo dia pergi."
"Argh!!!! Apa apaan sih kamu, Rizky. Harusnya bukan dia tipe kamu."
Suara suara kasar keluar dari dalam diri Rizky yang lain. Ya, mungkin.
Di Bandara.
Nisa baru sampai. Setelah membayar tip ke sopir taksi, dia turun dan menuju ke dalam bandara, tapi tiba tiba ada yang menarik tangannya, sampai tubuhnya menabrak dada laki laki di depannya.
"Aw!!'' pekik Nisa memegangi kepalanya. Laki laki itu mengusap bagian kepala yang dianggap Nisa nyeri, lalu perlahan meniupnya, sementara satu tangannya yang lain mengunci pinggang Nisa.
Wanita itu mendongak menatap laki laki di hadapannya.
"Lepasin aku, Rizky. Kamu kenapa bisa cepat sampai disini?" protes Nisa.
"Kenapa kamu kesini? Mau ngelarang aku balik ke Jakarta? Iya kan, pasti? Ngaku aja, gak usah sok jaim," tukas Nisa. Dia bertanya dia sendiri juga yang jawab.
"Hahaha, kepedean kamu. Aku kesini juga karena mau ke Jakarta. Ada urusan mendadak di rumah." dusta Rizky, tapi dengan biasanya mata itu menatap balik mata Nisa yang sedari tadi menatapnya.
Ada debar debar tak menentu yang sedari tadi membuat Rizky merasakan hawa panas dingin secara bergantian.
Dia mendorong dada Rizky menjauhi dirinya tapi tubuhnya malah memantul ke depan. Menabrak dada Rizky lagi, laki laki kehilangan keseimbangan dan membuat tubuh mereka sama jatuh, saling menindih. Untuk beberapa detik tidak ada yang terjadi kecuali mata mereka saling menatap satu sama lain, dengan getaran aneh yang mengusik hatinya. Selain matanya yang berbicara, bibirnya juga menyunggingkan senyum bahagia yang aneh.
"Nisa, aku baru tahu wajah kamu ternyata cantik." dalam batin Rizky sudah ketir ketir memuji Nisa. Meski nyatanya bibirnya masih tertutup rapat.
Begitu juga Nisa yang masih tak berkedip melihat bibir merah Rizky, wajah tampan Rizky, jarak sedekat itu bisa membuat saraf saraf dalam otaknya menari nari kegirangan. Jantungnya juga tak kalah terkejutnya, tidak bisa menguasai debaran debaran aneh yang membuat ritme detak jantungnya meningkat.
Hampir semua pengunjung menatap adegan itu.
__ADS_1
Yang pertama kali sadar dari adegan saling tatap dan menikmati wajah satu sama lain adalah momen romantis yang tak mudah dilakukan.
Nisa berusaha bangkit, dan bangkit dari atas tubuh Rizky.
"Maaf," bisiknya dengan sedikit nada ketus.
Rizky juga bangkit, dia tersenyum miring menatap Nia yang masih membenahi bajunya dengan bibir cemberut.
"Rizky!!! Semua ini gara gara kamu! Malu aku!! Dasar laki laki mesum!!'' teriak Nisa.
"Jangan nuduh sembarangan, tadi cuma kecelakaan dan aku juga gak ngapa ngapain kamu. Jangan ngarep aku apa apain. Enggak bakalan terjadi." Rizky menatap lekat ke arah mata Nisa. Membuat wanita itu salah tingkah.
"Hidup aku sial jika ketemu kamu, Ky. Menjauh kami dari aku. Aku permisi, aku gak mau ketinggalan pesawat!'' Nisa meraih kopernya dan menyeretnya menjauhi Rizky. Laki laki itu masih tak menanggapi, selain hanya menatap Nisa penuh arti.
Terlihat lucu, Pipi Nisa terlihat mengembang seperti bakpao. Sebelum dia benar benar pergi meninggalkan Rizky. Nisa sekuat tenaga melawan keinginan hati kecilnya.
Kalo jodoh pasti tidak akan kemana kan? Yakin saja.
Rizky berjalan dengan santai di belakang Nisa. Dia terpaksa harus ke Jakarta. Ada urusan mendesak, urusan Nisa Aulia Ratih.
*********
Al masih menatap kesal ke arah laki laki bertubuh kekar itu. Laki laki itu masuk ke dalam kolam pemandian sedangkan Al bangun dan naik ke permukaan. Dia meraih handuk mengelap tubuhnya. Nicho yang melihat Al sudah mentas mulai penasaran dan bertanya.
"Kamu udahan? Cepat bangat sih, masih nyaman juga." Nicho melihat ke arah Al sebentar lalu teringat laki laki yang baru datang dan bergabung di pemandian mereka, dari situ raut wajah Al langsung berubah. Memangnya dia siapa? Nicho yang sangat penasaran ikut naik dan mendekati Al.
Gabriel dan Hans, mereka berada di tempat berbeda, masih satu pemandian cuma berpencar jadi tidak berdekatan, cuma Nicho yang kebetulan berada di dekat Al.
Hans terlihat menyandarkan punggung dan meletakkan kepalanya dengan nyaman di atas tepian kolam. Dan matanya terpejam.
Sedangkan Gabriel berada di tengah tengah kolam dengan posisi duduk dengan melipat kedua kakinya, kolam pemandian itu tidak terlalu dalam, hanya sedalam pusar laki laki dewasa.
Mendengar pertanyaan dari Nicho, Al melirik ke arah laki laki itu berada. Dia tenang tak berdosa, bibirnya tersenyum meremehkan.
__ADS_1
Si sombong yang rese!