Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 176


__ADS_3

Perlahan, Clara menarik tangan Clinton dan menyatukan dengan tangan Marni dan Budiman.


" Kamu harus mencobanya, Mas. Berikan contoh yang baik kepada calon anak kita kelak. Bahwa papanya memiliki hati yang begitu besar. Dia pasti bangga. Aku juga bangga sama kamu. "


Clinton menghela nafasnya sejenak. Dia membiarkan Clara melakukan apapun yang dia mau. Clinton akan berbuat apapun demi Clara. Karena permintaan Clara, Clinton bersedia menjabat tangan mereka. Meski manik Clinton, masih terlihat memburam.


" Aku mencintaimu, sayang. Tapi, aku belum bisa menerima mereka. " Clinton hendak membalikkan badan tapi di tahan oleh Clara.


" Mas, jangan menghindar lagi. Maafkan mereka, ya? Kita buka lembaran baru, jika kamu tidak melewati proses itu, kamu tidak bertemu denganku, Mas. Jadi berdamailah dengan keadaan. "


Perlahan Clinton mendekati Budiman dengan canggung. Namun, belum sampai langkah Clinton kepada mereka, Budiman sudah menarik tubuh Clinton. Memeluknya dengan erat.


" Maafkan papa, Nak. " Budiman sungguh sungguh mengatakannya.


Tanpa terasa Clinton ikut meneteskan air mata. Pelukan itu terasa begitu hangat.


" Kenapa kamu tidak pernah pulang? " tanya Budiman.


" Papa tidak menghiraukanku. Meninggalkan mama dan pergi, seolah aku tidak ada atau bahkan tidak kalian inginkan. "


" Kamu menghukum papamu itu dengan begitu tegas, Nak. Jika papa tidak menemuimu, Lantas kamu yang harus menemui papa. Kenapa kamu tidak pernah datang? Dasar anak nakal. " Budiman tergugu. Marni juga menangis.


Clinton menatap lekat Budiman dan Marni. Sejujurnya Clinton merindukan sosok itu. Tapi dia belum bisa memaafkan mereka.


" Aku perlu waktu sepenuhnya untuk menerima kalian lagi. Tapi aku akan mencoba. "


Al membungkuk kepada Marni dan Budiman yang hanya terdiam. Mereka tampak bersedih karena sampai sekarang Clinton belum mau memberikan maafnya. Jangankan maaf, Clinton sepertinya tidak akan berniat menghilangkan rasa bencinya tersebut.


" Om, Tan. Sebaiknya kalian masuk dulu. " ujar Al.


" Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian beristirahat. " Al menambahi.


Al memberikan kode kepada sang istri untuk membawa Marni dan Budiman masuk. Dirinya harus menenangkan Clinton terlebih dulu.


" Mari Om, Tan. Saya antar ke dalam. " ucap Yesline sopan. Yesline melirik ke arah Clinton yang tampak membuang muka.

__ADS_1


Yesline begitu penasaran kenapa Clinton begitu membenci kedua orang tuanya. Ia hanya tahu kalau Clinton memang memiliki hubungan yang buruk dengan orang tuanya karena itu tinggal dengan sang nenek.


Marni dan Budiman mengangguk setuju. Keduanya mengikuti langkah Yesline sesekali melirik sosok Clinton. Marni dan Budiman diundang langsung oleh Al. Al mengundang keduanya dengan tujuan agar bisa memperbaiki hubungan anak dan orang tua yang memburuk itu.


Clinton yang moodnya sudah rusak akibat kehadiran orang tuanya, seketika memutuskan untuk pergi. Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Entah akan kemana tujuan pria yang baru saja dikerjai habis habisan oleh para sahabatnya itu.


Gabriel dan Hans yang melihatnya tentu langsung mengikuti langkah Clinton. Mereka takut jika Clinton melakukan hal yang tidak terduga.


Sedangkan Clara tampak kebingungan mencari sosok kekasih yang tidak kelihatan.


" Mas Clinton dimana, ya? " batin Clara yang netranya terus menelusuri tempat yang tampak begitu indah karena sudah di dekor sedemikian rupa.


Clara tadinya berpamitan untuk pergi ke toilet. Ia sedikit gugup tampil dengan penampilan mewah dan elegan begini. Ia ingin terlihat pantas bersanding dengan Clinton. Apalagi hari ini adalah hari yang spesial untuk kekasih hatinya itu, atau lebih tepatnya calon suaminya.


Mengingat sebutan calon suami, Clara menjadi geli sendiri. Tidak menyangka ia akan menikah juga dengan Clinton sebentar lagi, hanya tinggal menghitung waktu.


Tak butuh waktu lama, Gabriel dan Hans sudah membawa Clinton kembali. Mereka segera memulai pesta malam itu. Mereka tidak membiarkan temannya itu bersedih. Memaksanya untuk ikut bergoyang, bersenang senang.


****


Hari ini, Chloe sudah diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya sudah cukup membaik. Hal itu tentu membuat Callista senang, akhirnya anaknya sudah membaik juga. Ketika sang anak terserang demam panas, Callista sangat panik dan takut.


" Ma, papa mana? " tanya Chloe kepada sang mama yang terlihat sibuk berkemas.


" Papa masih di jalan menuju kemari untuk menjemput kita. Kamu sabar ya, sayang. " Callista tersenyum lembut.


Mendengarnya, bocah empat tahun itu langsung mengangguk.


" Bilangin sama papa untuk jangan lama lama ya, Ma. "


Callista tertawa kecil. Kelihatan sekali sang anak sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat yang mempunyai aroma khas bau obat obatan.


Hingga tak lama kemudian, sosok yang ditunggu tunggu oleh Chloe yang menggemaskan tiba juga. Ia adalah sang papa tercinta, Nicho.


" Papa. " ujar Chloe begitu ceria.

__ADS_1


Nicho tersenyum lembut dan langsung berhambur ke arah sang putri.


Nicho dan Chloe berpelukan begitu erat. Callista yang melihatnya turut tersenyum. Melihat pemandangan seperti itu, hatinya menjadi tersentuh. Ia merasa bahagia dengan keluarganya yang harmonis begini. Nicho adalah sosok ayah yang begitu penyayang kepada keluarganya.


****


Callista dan Nicho tengah bersiap siap untuk pergi ke pesta pernikahan Clinton. Mereka sangat yakin kalau pesta pernikahan Clinton diadakan begitu mewah. Hal itu wajar dikarenakan Clinton termasuk orang yabg berpengaruh atu kaya.


Callista dan Nicho pergi tanpa putrinya. Putrinya dititipkan kepada sang kakek dan neneknya, orang tua Nicho.


" Penampilanku sudah oke, kan? " katanya pada diri sendiri. Callista mematut dirinya di depan cermin.


" Sepertinya make up nya kurang rata. "


Callista kembali memakai make up nya. Dirinya harus terlihat sempurna.


Ini adalah pesta yang begitu penting. Ia tidak boleh kalah cantik di sana nanti.


" Sempurna. " Callista menyunggingkan senyum tatkala melihat riasannya yang menurutnya sudah pas itu. Namun, sekarang Callista merasa kalau tatanan rambutnya sedikit aneh.


" Aku ganti model rambutnya aja, deh. Masih sempat, kok. " melirik sekilas ke jam dinding.


Berbeda dengan Callista yang masih berada di dalam kamar. Nicho sudah siap terlebih dulu dan kini berada di ruang utama.


Beberapa detik kemudian, Callista yang masih terus membenahi penampilannya tiba tiba saja dikejutkan dengan ponsel sang suami yang berdering menandakan ada yang menelpon.


Karena hal itu termasuk privasi, Callista pun mengabaikannya. Namun ternyata, lagi lagi ponsel Nicho masih berdering, Callista masih mengabaikannya.


Hingga, Callista mulai penasaran karena ponsel Nicho yang tak kunjung berhenti berdering.


" Sebenarnya siapa sih yang menelpon? " lirihnya.


Ting!


Bunyi notifikasi ponsel yang menandakan ada pesan masuk. Callista yang sudah tidak dapat membendung rasa penasarannya lagi, akhirnya meraih ponsel tersebut.

__ADS_1


Callista melihat sekilas isi pesan itu.


" Sombong sekali sih, Kamu? Apa kamu sudah melupakanku? "


__ADS_2