Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 279


__ADS_3

Malam ini Azka sungguh merasa bosan dengan apa yang ada di depan mata. Azka tidak tau bahwa mama dan papanya tengah bertengkar dan saling diam diaman hanya karena panggilan misterius yang masuk ke nomor Yesline.


Selain itu, Azka kecil hanya bingung. Di meja makan tidak ada yang bercanda, bahkan tidak ada yang mengajak Azka bicara. Azka jadi jenuh.


"Ma, mau udang," pinta Azka bosan.


Yesline terlihat agak kaku seraya menyendokkan udang dari piring. "Em, iya." begitu komentar Yesline.


Mamanya memang mau mengambilkan. Hanya saja yang Yesline lakukan hanya usaha untuk menggugurkan kewajiban. Padahal, Azka ingin lebih dari itu. Ingin diambilkan, suapi, lalu diajak bicara seperti kata kata manis seperti, "Iya, Sayang." atau disuapi. "Aa... Pintar." sayangnya, malam ini sama sekali tidak ada adegan seperti itu.


"Haduh. Mama sama papa Azka kenapa sih? Azka jadi bosan deh lihatnya," keluh Azka dalam hati.


Mau bagaimanapun, seorang anak memanglah memiliki perasaan yang peka. Jika orang tua saling mendiamkan seperti ini, tanpa tau bahwa masalah sebenarnya ada di orang tua, tentu saja, anak akan merasa tak nyaman walaupun tak disakiti.


Bahkan, Azka yang sengaja tidak mau menyendok makanan pun hanya dibiarkan begitu saja. Padahal biasanya, baik Yesline ataupun Al pasti buru hur membujuk Azka untuk makan dengan lahap. Bahkan, sekarang papanya sudah bangkit sendiri, membawa piring dan sendok kotor sendiri lalu mencucinya sendiri.


Sampai agak malam, kurang lebih setengah sembilan malam, Al dan Yesline masih terdiam satu sama lain. Azka yang sudah menguap pun diabaikan. Seakan, mereka lupa bahwa Azka masih butuh pendampingan saat tidur. Paling tidak, dibacakan dongeng lah. Apalagi, kali ini tugas Al yang membacakan untuknya.


"Apa yang harus Azka lakukan ya? Biar mama dan papa Azka segera baikan,'' pikir anak kecil itu.


Aha! Azka seakan seketika mendapat ide cemerlang. Melihat mama dan papanya yang sama sama duduk dipinggiran ranjang yang berbeda, Azka sepertinya mendapatkan cara untuk menyatukan mereka. Yaitu, membuat sang papa secara terpaksa melakukan kewajibannya.


"Pa, bacakan cerita untuk Azka dong. Azka tidak bisa tidur, Pa." pinta Azka lembut.


Al hanya diam sehingga Azka bingung apakah usahanya untuk menyadarkan ayahnya tidak bekerja? Tapi tidak! Azka harus membuat mama dan papanya saling bicara. Jadi, Azka mulai menuntut lagi.


"Papa, Azka tidak bisa tidur," ujar Azka mulai bosan.


Papanya tidak menoleh sama sekali melainkan hanya bergumam. "Hmm?''


Lelaki itu sungguh tak sadar bahwa gumaman dirinya telah membangkitkan emosi Yesline karena Al tidak bisa berperan sebagai ayah yang baik untuk Azka. Segera saja, Yesline menoleh secara sinis kepada Al.


"Diajak ngomong anaknya saja suaranya diirit iritin. Giliran di ajak ngomong cewek atau diajak chatting an sampai berbusa busa saja semangatnya minta ampun," sindir Yesline.

__ADS_1


Sindiran tersebut tentu saja membangkitkan amarah Al yang merasa tak kalah kesal.


"Halah. Sama aja kayak yang ngomong. Tidak sadar diri, tidak tau malu, mau juga nuntut orang. Sadar diri tuh, telepon misterius kemarin dari siapa! Jangan jangan dari selingkuhan. Cih!'' balas Al tak kalah kesal.


Yesline yang sudah kesal itu seketika berbalik kepada sang suami. Kali ini dengan alasan lain.


"Gitu aja terus kamu ya, Mas! Seharusnya sebagai suami, kamu itu harus sadar diri. Aku tuh gak selingkuh ya! Lagian mulutnya itu dijaga. Paling enggak, kurangilah bicara yang tidak baik seperti itu. Selingkuh, selingkuh. Cuma ayah yang gak punya hati yang berani bahas topik begitu di depan anak."


Amukan Yesline seketika membangkitkan amarah Al juga. Sekarang, mereka berhadapan satu sama lain.


"Ya emang kamu waras? Udah tau anaknya butuh perhatian bukannya dikasih perhatian malah nyindir nyindir suami!''


"Stop, Ma, Pa,'' pekik Azka di sela sela pertengkaran ayah dan mamanya.


Tetapi tetap saja, pertengkaran dan perdebatan itu sama sekali tidak berkurang bahkan semakin beringas dengan gerakan gerakan tangan yang mencuat kemana mana.


"Iya teruskan saja, Mas!''


"Kamu itu yang harus terusin biar----"


"Aww, sakit! Huhuhu...."


"Astaga, Azka!'' teriak Yesline gugup.


Pertengkaran kedua orang dewasa itu menyebabkan gerakan gerakan refleks yang tanpa sengaja menyenggol Azka hingga jatuh dari ranjang. Orang tua yang pertama secara spontan menggendong Azka adalah Yesline. Perempuan itu segera menimang nimang Azka di atas perutnya yang membesar seraya mengelus elus kepala Azka yang tadinya terjungkal terlebih dahulu. Selain itu, kepalanya juga agak memar walaupun jatuhnya tidak terlalu tinggi.


"Huhuhu. Sakit, Ma." keluh Azka.


Yesline terlihat semakin panik dan merasa bersalah karena secara tidak langsung, dia dan Al lah penyebab Azka terluka.


"Iya, Sayang. Cup, ya. Maafkan, Mama," ujar Yesline menenangkan.


Melihat sang istri yang dengan sabar menggendong Azka dan menenangkan putranya, perasaan bersalah itu ikut menyusup. Kalo saja tadi dia tidak mengutamakan egonya, tentu saja barangkali putranya sudah bisa tertidur dengan lelap. Segera, Al mendekat kepada Yesline seraya mendekati Azka. Sayangnya, baru mau menyentuh, Yesline sudah menjauh.

__ADS_1


"Sayang, cup. Sayang...." hibur Al sekali lagi.


Sayangnya, Yesline malah semakin kesal karena tangan Al mengenainya. "Apaan, sih?''


Al memutuskan untuk tidak terpancing emosi lagi. Lelaki itu mencoba tenang lalu ikut membujuk sang istri. Sebelum istrinya merasa nyaman dengannya, sampai kapanpun Azka tidak akan boleh disentuh. Al jamin itu.


"Sayang, maafin aku. Aku ngaku salah deh, udah keasyikan main handphone sendiri saat quality time sama kamu."


"Enggak peduli!" sungut Yesline kesal.


**********##


Al mendekati Yesline lagi. Sayangnya, tubuh Yesline terus menerus berpindah dari satu posisi ke posisi lain guna menghindari sentuhannya. Padahal, Jika pria tahu, terkadang semakin perempuan gengsi, biasanya semakin ingin di sayang.


"Sayang, Ayolah, Maafkan, Mas. Azka juga ya, Sayang. Maafkan Papa. Nanti papa bacakan dongen sampai Azka tidur. Oke?''


Sayangnya, Azka masih saja merengek kesakitan. "Enggak mau, Papa jahat!''


"Iya, Sayang. Maafkan, Papa ya. Habis ini, papa tidak akan jahat lagi sama Azka, oke?''


Duh, sungguh! Sungguh sulit sekali menghadapi mood istri dan anak. Karena sudah berbagai bujukan dan sentuhan sama sekali tidak membuahkan hasil, barulah Al ingat, terkadang Yesline sangat mudah di bujuk. Yakni dengan hanya kelembutan dan kasih sayang.


Bep!


Segera, Al memeluk sang putra dan istri dengan lembut sampai kedua manusia itu terkungkung sempurna dalam pelukannya. Yesline awalnya tentu saja masih mengutarakan kekesalan baik secara verbal yang terus menerus mengeluh maupun secara fisik yang terus menerus berusaha melepaskan diri.


"Lepasin! Enak aja sentuh sentuh."


Kurang lebih begitu ocehannya. Untung saja, Al bermuka bebal. Semakin Yesline mencoba melepaskan diri, semakin erat pula pelukan Al. Selian itu, pria itu sengaja meletakkan kepalanya disela sela pundak kanan Yesline.


Sementara pundak kiri Yesline adalah tempat Azka merebahkan kepalanya.


Sungguh, kedua pria ini seperti dua anak Yesline yang berbeda usia. Menyadari betapa tulus dan lembutnya Al, Yesline lambat laun berhenti protes sementara dia juga ikut nyaman sampai terdiam.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih, sudah menerima Mas kembali. Mas sayang kamu," ujar Al lembut disela sela pelukan mereka yang nyaman.


__ADS_2