
Malam itu, Leni sudah tertidur pulas. Tapi tiba tiba perutnya lapar. Disampingnya Gabriel masih mendengkur halus. Leni bangun dan duduk. Tangannya menggoyang goyangkan tubuh Gabriel.
"Mas, Bangun...... Mas....."
Tapi suaminya itu tak bergeming.
Akhirnya Leni terbesit cara jail untuk mengjailinya.
"Sayang, ada kecoa di bajunya, Ih....kecoa, sayang.... Bangun!!!" jerit Leni.
Gabriel gelagapan, bangun dengan tangannya meninju ke segala arah, kakinya mencak mencak dan dia meloncat sembunyi di belakang Leni. Wanita itu tertawa terbahak bahak.
"Mana sayang? Mana kecoanya? Kamu ambil, gih. Kan mas takut kecoa." rengeknya sangat lucu.
Melihat istrinya yang hanya tertawa, dia tahu sedang dikerjai.
"Kamu ngerjain mas? Hmm? tega kamu ya!" protes Leni, dengan memeluk Leni dari belakang dan berniat untuk tidur lagi.
__ADS_1
"Eh, jangan tidur lagi mas. Aku laper."
"Mas, ngantuk. Kamu mau makan apa? Mie instan? Atau ada roti dan buah di kulkas. Mas ambilkan." sahut Gabriel dengan mata terpejam.
Leni malah kesal sama suaminya yang gak peka. Meski memang saat itu masih pukul 12 malam.
"Aku mau nasi goreng yang di dekat rumah Papa, Mas." Leni merengek. Dia benar benar ingin makan nasi goreng pak Muh langganannya dulu.
Mata Gabriel langsung terbuka lebar, dia juga langsung bangun dan duduk, menghadap Leni.
"Sayang, rumah Papa kan ada di simpang lima sana. Jauh sekali dari sini. Mas aja yang buatin nasi gorengnya ya? Pasti enak kok. Dijamin, Hm?'' kata Gabriel berharap Leni mau dan segera meng iyakan nya.
"Aku maunya nasi goreng di sana, Mas. Buruan bangun, belikan. Aku ngambek nih, kalau gak mau. Nanti anak kamu ileran loh----"
Gabriel menghembuskan nafas dengan berat. "Iya, iya...." jawab Gabriel memotong perkataan Leni.
Tapi akhirnya dia tetap bangun. Berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka.
__ADS_1
"Cepetan ya Mas...." Leni berteriak lagi dengan mimik wajah yabg ceria dan senang, karena keinginannya dituruti.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di pesantren Meriam.
"Kami malu punya anak sepertimu, Nak. Kamu sudah mencoreng nama orang tuamu ini. Bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti itu dan terlebih di depan orang tuamu dan bahkan orang banyak?!" isak ibu Wisnu, yang sedang melihat anaknya sedang diikat didudukkan pada sebuah kursi di dalam ruangan kelas.
Aksinya kemarin yang memegang tangan Meriam dan hendak membawanya kabur untung saja langsung dihentikan oleh ratusan santri, dia sampai di gebukin. Dan tidak ada yang menolong. Dia sudah lancang mencoreng nama baik Neng Meriam.
Sekarang kedua orang tuanya pun, tidak bisa berbuat apa apa. Membiarkan semua keputusan diambil oleh Kyai.
Hans yang mendapat kabar seperti itu langsung terbang dari Jakarta ke Yogyakarta.
Meriam masih menangis di dalam kamarnya. Dia merasa jijik dan ternodai, meski hanya tangannya yang disentuh. Dia benar benar membenci laki laki itu.
Di televisi sedang ada berita, sebuah pesawat jurusan yogyakarta mengalami kecelakaan. Meriam menghapus air matanya dan langsung kepikiran sama Hans.
"Mas Hans kan masih dalam perjalanan. Ya Allah lindungilah calon imamku, bibirnya bergetar, dia menyambar jilbabnya, memakainya dan berlari keluar kamar untuk menemui Ayah dan Ibunya.
__ADS_1
Dia masih sangat berharap, itu bukan pesawat yang Hans naiki. Dia akan ke bandara untuk memastikannya.
Hans!