
Nicho sedang meremas sebuah kertas dengan perasaan yang sangat marah, dia melempar kertas itu ke ujung ruangannya. Itu berisi ancaman dan teror dari mami yang ia dapatkan beberapa hari belakangan ini. Nicho benar benar hampir frustasi. Keadaan ini membuatnya terpojok dan tidak bisa bergerak bebas. Dia pun masih menyembunyikan masalah ini dari Callista. Padahal sebelumnya dia tidak pernah bisa membohongi Callista.
Mami gencar mengirimkan semacam teror. Tapi untungnya sampai saati itu Nicho bisa menutupinya dari sang istri.
"Sialan! Saya bunuh kamu sekalian. Hidup kamu bikin saya gak tenang. Biarkan saya jadi pembunuh sekalian. Sebelum kamu yang lebih duluan membunuh keluarga saya." Nicho mengepalkan tangannya dan meninju meja berkali kali.
Tiba tiba ada yang datang mengetuk pintu ruangannya. Nicho meminta sekretarisnya masuk.
"Ada apa?'' tanyanya datar.
"Ada paket, Pak." Sekretarisnya meletakkan sebuah paket yang lumayan besar di atas meja, lalu pergi setelah minta ijin.
Jam kerja sudah hampir selesai. Nicho membawa kotak itu ke dalam mobil tanpa ada rasa curiga. Dia meninggalkan kantor dan hendak pulang, ingin melihat Callista dan anaknya.
Di dalam mobil, ia memikirkan apa gerangan dan rencana yang mami lakukan sekarang. Sepertinya hari itu dia libur menganggu Nicho. Laki laki itu mendengus kesal.
Mobil berhenti di sebuah apartemen mewah. Nicho memarkir mobilnya di parkiran biasanya dan langsung masuk ke dalam bangunan itu. Menenteng kardus yang lumayan besar yang pengirimnya entah dari siapa.
Pintu lift terbuka, dia berjalan beberapa langkah dan berbelok ke ujung koridor, disanalah apartemennya. Nicho mengeluarkan kartu akses untuk membuka pintu, dia masuk kedalam apartemen dengan wajah yang berseri.
"Selamat datang keluarga kecil." lirihnya dalam hati saat melihat Callista sudah menyambutnya. Nicho langsung memeluk Callista dan menciumi wajah sang istri.
"Loh ....loh ...loh... baru pulang kok sud----" Baru juga Callista mau bicara tapi bibir Nicho sudah melingkupi bibirnya.
__ADS_1
Callista diam saja.
Sampai Nicho teringat kotak itu dan ingin membukanya. Mereka duduk di ruang tamu. Callista mengambil gunting dan Nicho mulai membuka paket itu.
Tapi, saat kardus terbuka.
"AAAaaaa!!!!!" jerit Callista histeris. Dia menutupi kedua telinganya dan mundur beberapa langkah, merapatkan tubuhnya ke dinding. Tak terasa matanya sudah banjir dengan air mata.
"Apa itu Nicho? Dari mana kamu mendapatkan itu! Kamu mengerjai ku? Gak lucu!!!" Callista berteriak.
Nicho masih terdiam membisu.
Di dalam dus itu berisi empat bangkai tikus dengan penuh darah yang sudah dimutilasi. Seluruh anggota tubuhnya sudah terpisah.
"Apa mas? Mami? Dia yang melakukan semua ini? A-apa dia sudah bebas?Hah?!" Callista terus berteriak. Dia syok dan juga terkejut.
Nicho hanya menganggukkan kepala dengan lesu.
"Kenapa kamu tidak memberi tahuku, Mas? Kenapa kamu tidak mau berterus terang? Kamu melanggar kesepakatan yang kamu buat sendiri untuk hubungan kita. Kamu tidak mempercayaiku, kan?" desakan Callista.
Nicho menggeleng cepat dan menatap Callista dengan lembut.
"Mas, hanya ingin kamu tidak kepikiran dan teringat kembali dengan masa lalu kamu. Aku sudah meminta bantuan teman teman untuk menghalau uler keket itu, tapi dia tidak kapok." Nicho menjelaskan semuanya. Sepertinya mami harus diberi pelajaran yang lebih lagi.
__ADS_1
Nicho mengambil kotak itu dan membuangnya ke tong sampah. Dia menghampiri Callista yang masih tersedu.
"Ini semua salahku, Mas. Aku di masa lalu begitu jahat. Mami tidak terima kan karena aku yang belum menjalankan hukuman seperti yang mereka dapatkan. Mungkin aku harus menjalankan hukuman itu, Mas." Bibir Callista bergetar.bm Hukuman yang tidak pernah ia bayangkan akan ia alami.
"Tidak!!! Yesline saja sudah memaafkan mu, begitu juga dengan Al. Mami tidak ber hak mengambil kamu dariku dan anak kita. Kita akan melawan dia bersama sama. Kamu tidak sendirian." Nicho merengkuh wajah istrinya.
"Tidak, Mas. Aku tidak ingin membahayakan banyak orang lagi. Kamu jangan membuat mereka menjadi tumbal hanya untuk menyelamatkan aku, aku paham betul bagaimana watak wanita itu. Dia tidak akan berhenti sampai mencapai tujuannya."
Nicho tidak tahu harus berkata apa lagi. Callista benar benar bersikukuh.
Tiba tiba ponsel Nicho berdering, dia mengangkat telepon itu dengan posisi masih mengukung tubuh Callista.
"Ya, hallo." sapa Nicho setelah tahu kalau itu adalah Gabriel.
"Bro, saya mau konsultasi sama kamu masalah keharmonisan dalam rumah tangga. Kamu bisa kan ajari aku?" tanya Gabriel diseberang telepon.
Nicho yang kesal langsung menyentak Gabriel.
"Saya aja lagi berantem sama istri saya, kamu malah nanya sama saya soal keharmonisan dalam rumah tangga!!!"
Panggilan pun langsung diputus oleh Nicho, tanpa menunggu jawaban dari Gabriel.
"Hah!!! Sumpah Nicho galak bangat. Hari ini pada kenapa sih, enggak Leni, enggak Al, enggak Nicho pada marah marah terus!! Ini mereka yang aneh atau saya yang sial, sih?" gerutu Gabriel dalam hatinya.
__ADS_1