Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Bab 222


__ADS_3

Hans duduk di dekat Yesline tapi berjarak, Meriam juga langsung duduk berdempetan dengan Yesline, merangkulnya, terlihat sekali sedang menenangkan Yesline yang masih sesunggukan.


"Ada yang mau cerita gak, kenapa sebenarnya ini? Aku baru datang dan melihat semua ini, aku bingung." terang Hans. Pandangannya tertuju ke arah Meriam dan Yesline secara bergantian.


"Kemana Mas Al, Hans? Kenapa kamu baliknya cuma sendiri?" tanya Yesline dengan nada ketus, dia tidak menjawab pertanyaan Hans.


Yesline mendongak, menatap lekat ke arah Hans berada. Meriam mengusap usap lengan Yesline. Ekspresi wajah Meriam juga sulit untuk diartikan. Sebagai istri, dia tahu sedikit apa yang Yesline rasakan.


"Aku kirain Al sudah pulang, Yes. Bukan cuma Al tapi ada Clinton, Nicho dan Gabriel, Mereka semua aku kira sudah pulang, karena itu aku langsung pulang naik taksi, mereka berempat sudah tidak ada di klub." Hans menjelaskan sedetail mungkin, mungkin dia mulai panik, apa ada yang terjadi dan dia tidak tahu?


"Kamu habis dari klub, Mas?" sela Meriam kaget.


"Iya, sayang. Hanya menemani teman teman ngumpul. Gak melakukan hal hal yang aneh kok, minum minum juga gak. Klub itu milik Clinton teman Mas, jadi kami ngumpul di sana."


"Gak melakukan apa apa katamu, Hans?" sergah Yesline penuh emosi sambil menunjukkan sebuah foto kepada Hans. Mata Hans terbelalak terkejut dengan apa yang ia lihat. Itu Al? dengan siapa? Tapi bagaimana mungkin itu terjadi? Tadi, mereka.....


"Mereka ninggalin kamu untuk ini," lanjut Yesline parau, air matanya yang keluar dari matanya tak kunjung kering, masih terus mengalir dari sejak Hans pulang.


Hans tercekat, dia tidak tahu apa yang dia lihat, benar atau tidak. Karena jika dipikir secara logika, itu semua mustahil terjadi.

__ADS_1


Beberapa kali Hans mengerjap ngerjapkan matanya. Dia ingin menghalau gambar itu dari matanya. Apa Meriam yang kelihatan sedih juga sempat memikirkan hal yang sama?


"Mas Al, tega! kejam! Padahal meski aku hamil, aku gak pernah kurang kasih jatah, kenapa sampai dia tega jajan wanita di luar? Wanitanya jelek! Cantikan aku! Argh!!!! Sialan! Aku benci kamu, Mas!" umpat Yesline frustasi, untung Azka sudah tidur, Jadi teriakan Yesline tidak terdengar sampai ke telinga Azka.


"Mas, apa yang terjadi sebenarnya? Seharusnya kamu tau kan?" tukas Meriam tiba tiba, matanya menghakimi Hans yang masih kebingungan.


"Mas gak tau apa apa, sayang. Tapi ini ada yang aneh deh. Masa kamu percaya gitu aja kalau Al memang melakukan seperti itu?" Hans bertanya kepada Yesline. Hans yang awalnya menatap Meriam kini beralih menatap Yesline. Matanya tajam menanti kepastian dan jawaban, untuk menggunakan otak selain hati.


"Mau gak percaya, tapi di foto ini memang Mas Al sedang di..... Ah, aku benci Hans, seumur umur baru ini terjadi, katanya cinta mati sama aku, cinta mati, ndasmu! Buaya, dasar buaya, dasar pembohong!!!'' jerit Yesline lagi, dia menutup kedua telinganya, seperti menutupi dari hal hal buruk yang tiba tiba terdengar nyaring di telinganya.


Laksana kidung kematian yang bertiup menyapu bulu kudukku .


Merinding.


Kau cincang dan kau remuk remukkan cinta ini hingga tak berbentuk.


Jangan harap bisa kau pungut lain kali, karena tidak ada lain kali setelah hari ini, Mas.


Yesline kembali menangis, mengeluarkan segala sesak yang menggumpal di dadanya yang terasa ringkih. Cinta dan bahagia itu sirna malam itu, berganti tangis darah yang tak berwarna merah.

__ADS_1


Yesline terluka.


#####


Leni yang baru saja selesai menerima telepon dari Papanya, berniat untuk menelpon Gabriel yang tak kunjung pulang padahal malam sudah begitu larut. Meski asyik ngumpul bareng sama teman kan harusnya ingat jam pulang. Laki laki pada umumnya kan begitu, tapi seharusnya bukan Gabriel.


Satu, dua, tiga sampai lima kali, Leni mencoba menghubungi nomor Gabriel, tapi tak ada jawaban. Hanya ada pemberitahuan bahwa nomor yang dituju sedang tidak bisa dihubungi.


Leni mulai kesal, dia melempar punggungnya menabrak sandaran sofa, dengan matanya tetap menatap layar ponsel. Dia mengetik pesan lalu mengirim ke nomor Gabriel. Dia termasuk tipe istri yang tidak senang dan tidak bisa membiarkan suaminya berlama lama nongkrong di luar.


Sampai mata Leni menangkap satu pesan dari nomor baru yang sudah lama ia abaikan. Pesan yang sepertinya mengirimkan beberapa foto. Leni belum membukanya, Nomor itu sudah mengirim pesan itu sekitar 30 menit lalu. Karena sibuk teleponan dengan ayahnya dan juga sibuk menelpon Gabriel, Leni belum sempat membuka nomor itu.


Kini, demi mengalihkan sedikit kekesalannya karena Gabriel tidak bisa dihubungi. Dia ingin dan mulai penasaran dengan isi dari pesan itu.


Leni membuka pesan itu.


Alangkah terkejutnya dia melihat foto itu adalah foto Gabriel yang sedang memeluk seorang wanita dalam satu selimut, sepertinya mereka sama sama tidak berpakaian.


Jantung Leni sempat berhenti berdetak, rasa sesak menghujam, menekan paru parunya dan menyulitkan dirinya untuk mengambil satu tarikan nafas. Masih tak percaya dengan foto yang ia lihat, Leni sampai men download semua foto dan men zoom nya satu per satu. Dia tidak semudah itu mungkin percaya. Leni menelpon nomor tidak dikenal itu dan yang mengangkat adalah seorang wanita.

__ADS_1


Degh.


Leni hampir roboh, seluruh persendiannya lemas, dia memegangi dadanya dan juga perutnya yang tiba tiba keram.


__ADS_2