Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 242


__ADS_3

Sudah hari kedua Nisa berada di Singapura. Dan selama dua hari ini pun semua kegiatan selalu nampak membosankan. Pekerjaan yang diulang ulang, dan materi pembahasan yang sudah dia dengar berkali kali. Sebagai Dokter bedah syaraf dia perlu fokus, ketangkasan dan konsentrasi yang tak mudah pecah. Dengan gaya rambut yang diikat satu keatas dan kerli di bagian bawah, Nisa berjalan ke semua ballroom rumah sakit, bersama dengan para dokter lainnya. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku snelinya. Berjalan perlahan bersama dokter dokter yang mulai memadati ballroom.


Untuk mengusir rasa kantuk, Nisa memilih duduk di barisan paling depan. Dia duduk di kursi dengan bantalan berwarna merah, di atas permadani warna ungu muda. Selama berada di rumah sakit ini, Nisa menilai kalo rumah sakit ini memiliki bangunan yang modern, dengan fasilitas kesehatan yang super lengkap. Kalo emang dia ada kesempatan di promosikan di rumah sakit ini, dia tidak akan menolak. Daripada di Indonesia, dia justru akan selalu makan hati.


Seminar dimulai dengan salah satu MC muncul dan menyambut mereka semua, sebagai peserta seminar. Sebagai tanda memeriahkan acara itu, para peserta seminar pun bertepuk tangan.


"Terima kasih, Bapak dan Ibu yang telah menyempatkan waktunya untuk mengikuti seminar ini." ucap si MC pria itu yang memakai setelan jas yang rapih. "Sebagai pembuka, akan ada sambutan dan beberapa patah kata dari pemilik rumah sakit. Untuk Bapak Rizky, kami persilahkan."


Mendengar nama Rizky disebut, jantung Nisa lantas berdenyut. Dia tidak salah dengar kan? Rizky? Pasti bukan Rizky yang dia kenal. Pasti Rizky dari belahan bumi mana. Di dunia ini nama Rizky bukan cuma dia saja yang memilikinya. Tapi, sepertinya takdir sedang mempermainkannya.


Nisa menahan nafasnya. Astaga! Apa itu? Nisa membatin.


Jantung Nisa berdebar begitu sangat kencang, tubuhnya hampir saja limbung jika tangannya tidak memegang pada ujung kursi. Rasanya Nisa mau pingsan saja, saat pria yang menyilaukan mata itu berdiri tepat di depan podium, memasang senyum menawan bak Calvin Klein Model.


Kepalanya sukses berdenyut.


Bagaimana bisa Rizky yang dia kenal, Pria yang selalu memenuhi otaknya nyaris membuatnya tidak waras, muncul di depan wajah Nisa laksana bunga mawar yang tumbuh di antara duri duri yang tajam atau laksana fajar yang timbul menyingsing dari tengah kegelapan yang mencekam.


Nisa nyaris berdiri tegak, tepat saat retina Rizky menatap tajam ke arahnya. Dan dia yakin, bahwa baru saja dia melihat Rizky menyeringai kepadanya.


"Astaga!'' Nisa membuang nafasnya.

__ADS_1


Dan selama Rizky berbicara di depan podium dengan sangat gagah, menyambut para peserta seminar dan bicara lain sebagainya yang Nisa tidak sepenuhnya mendengar. Karena dia nyaris kehilangan oksigen.


*******


Entah apa yang dilakukan Rizky, dia tiba tiba duduk dihadapan Nisa, mengunyah toast dengan santai. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin rumah sakit itu, yang lebih pantas disebut restoran mewah dibanding kantin rumah sakit.


"Aku gak ngerti, Bisa bisanya kamu nguntitin aku sampai kesini. Sebegitu penasarannya sama aku?''


Nisa mendengus, dan menyemburkan tawa meremehkan. "Apa kamu bilang? Aku nguntitin kamu sampai kesini?" Nisa menekan nekan ujung jarinya di atas permukaan meja. "Kamu pikir aku orang yang gak punya kerjaan, yang hidupnya dipenuhi sama kamu? Aku tau kamu ada disini aja, Enggak,!"


Nisa bicara dengan nada sewot, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia mengalihkan perhatiannya dari Rizky, yang membuat jantungnya saat ini beringsatan.


"Nih," Rizky menyodorkan satu toast kehadapan Nisa. "Enggak usah senang dulu, hari ini lagi ada promo. Buy one get one. Perut aku cuma bisa nampung satu toast doang."


Nisa melirik toast itu sekilas. "Promo? Disini?'' Rizky mengangguk sekali. Lalu, diam diam Nisa mencari kantin yang menjual toast. Di ujung kantin itu memang ada kedai kopi. Mungkin di sana tempatnya di jual.


"Thanks."


Dalam hati Nisa, dia bersorak gembira, tapi tidak mungkin dia tunjukkan di depan Rizky secara gamblang.


"Kamu yang punya rumah sakit ini?" tanya Nisa, dia tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Kamu gak dengar, tadi aku ngomong apa?''


Nisa berdecak. Apa Rizky tidak bisa berbicara lebih ramah sedikit padanya. Atau Rizky tidak tahu namanya apa itu basa basi.


"Aku kan cuma memastikan aja," gerutu Nisa.


"Iya," jawab Rizky pada akhirnya. "Kalo kamu mau ngelamar kesini juga boleh." lanjut Rizky. Kemudian pria itu lanjut berdiri, dan pergi dari hadapan Nisa tanpa pamit.


"Dia ngajak aku lamaran?'' Nisa menggaruk kepalanya. "Eh, apa sih dia bilang? Lamaran gitu kan? Duh, ya ampun, benar kan aku jadi lemot gini kalo di depan Rizky."


Nisa mengedikkan kedua bahunya, lalu menghilang dengan toast pemberian Rizky dan hengkang dari meja itu. Dia berniat akan pergi dari kantin. Dia melewati kedai kopi yang menjajakan toast itu dan berhenti sejenak. Melihat papan menu di sana, tapi sejauh mata memandang tidak ada tulisan iklan gratis, atau promo makanan apa apa.


"Permisi, Mas. Toast nya lagi promo ya? Beli satu gratis satu?" tanya Nisa pada pelayan kedai itu.


"Mohon maaf, Mbak. Hari ini sedang tidak ada


promo. Semua yang ada disini harga normal."


Jawaban si pelayan kedai itu membuat Nisa kebingungan sendiri. Dan tak ingin bertanya lebih lanjut, dia pergi menggantungkan jawaban.


Sekali lagi, Rizky tidak pernah tahu bagaimana caranya menunjukkan perhatian pada Nisa secara terang terangan. Dalam dirinya pun bercokol rasa penyesalan. Merasa menjadi seorang pria pecundang.

__ADS_1


__ADS_2