
Gabriel kebetulan sedang istirahat di ruang kerjanya, di rumah sakit. Kebiasaannya adalah membuka web penilaian beberapa rumah sakit di waktu senggangnya. Dia bisa melihat dari penilaian itu, rumah sakit siapa yang terbaik. Rumah sakitnya atau rumah sakit Al. Karena terakhir beberapa tahun terakhir, rumah sakit Al yang menduduki tingkat pertama. Meski pelayanan rumah sakitnya sudah ia tingkatkan, tetap belum bisa membalikkan penilaian. Entah apa bedanya, Gabriel tidak menemukan celah. Namun, kali ini saat ia hendak membaca hasil penilaian, dirinya dikejutkan oleh hasil penilaian yang menempatkan rumah sakitnya menjadi rumah sakit pertama yang bisa menyaingi rumah sakit milik Al. Grafik penilaiannya tidak naik, masih sama jika dibandingkan bulan lalu, tapi kenapa bisa duduk diperingkat pertama? Setelah Gabriel teliti lagi ternyata grafik penilaian rumah sakit Al yang menurun.
Gabriel ingi merasa senang, tapi melihat status Al masih sahabatnya, tidak etis jika dia bahagia diatas penderitaan Al. Ya, jelas sekali Al sedih dan kecewa jika tahu rating pelayanan di rumah sakitnya menurun.
Gabriel segera meraih ponsel miliknya dan langsung menelpon nomor Al. Beberapa menit kemudian Al mengangkat telepon dari Gabriel.
"Al, kamu sudah lihat hasil penilaian tentang kinerja rumah sakit kamu di web?" tanya Gabriel langsung pada intinya.
Al diseberang terdengar syok. Ini kali pertama rumah sakitnya anjlok. Dan memperoleh peringkat kedua dan dikalahkan oleh rumah sakit Gabriel dengan selisih lima persen.
"Aku belum lihat, hari ini super sibuk, banyak masalah yang tiba tiba saja terjadi. Aku keluar dari ruang rapat, aku benar benar pusing, Gabr," keluh Al.
Terdengar suara riuh dari luar kantor Al. Suara itu sampai terdengar ke suara Gabriel. Intinya ada sesuatu hal yang tidak beres.
Al berusaha mengabaikannya, kepalanya sudah mau pecah rasanya. Tapi Gabriel semakin penasaran.
"Itu apa, Al? Ada rame rame di kuar ruangan kamu?''
Tidak ada jawaban.
Gabriel melanjutkan, ''Rating rumah sakit kamu juga turun, Al. Aku mau kasih tau kamu soal ini bukan niat untuk ngehina atau ngejatuhin rumah sakit kamu, tapi memang di web tadi aku lihat rumah sakitku naik jadi peringkat satu dan rumah sakit kamu turun ke nomor dua. Sebenarnya apa yang terjadi?''
Baru setelah itu terdengar Al menjawab, "Sial!!''
__ADS_1
"Kutu kupret!!''
"Siapan!!''
Brakk!!
Brakk!!
Al menggebrak meja kerjanya karena emosi. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Gabriel kaget karena mendengar Al mengumpat, terdengar lantang di telinganya. Dan suara meja yang digebrak kuat pun mengganggunya. Dia merasa seakan Al menyalahkannya, dan mengira dia yang memanipulasi berita tentang rumah sakitnya. Karena Gabriel lah saingan rumah sakitnya Al. Tapi sumpah, Gabriel berani bersumpah kalo dia bukanlah pelakunya.
"Jangan marah sama aku, Al. Aku cuma ngasih tau kamu. Aku gak tau apa apa soal isu rumah sakit kamu." Gabriel sudah lebih dulu menjelaskan apa yang dia ketahui, dia tidak tau apa apa soal isu pelayanan rumah sakit Al yang menurun hingga menuai banyak protes.
"Jika kamu bukan sahabatku, aku sudah pasti sudah curiga dan menyeret kamu ke penjara karena isu palsu ini, Gabr. Sayangnya, kamu temanku. Dan aku tau kamu tidak mungkin memanipulasi semua ini. Benar kan?'' balas Al membuat Gabriel senang sekaligus terharu, tapi juga kasihan karena Al menghadapi hal semacam ini.
Dari arah ruangan Al yang membuat keributan adalah salah satu anggota keluarga pasien ada yang melakukan protes. Al yang berusaha mengabaikan suara sumbang mereka akhirnya tidak kuat juga. Al menutup panggilan teleponnya tanpa memberi tahu Gabriel, Al bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pintu lalu membukanya. Di luar sudah ada beberapa dokter juga satpam yang menghalangi mereka.
Al dengan gagahnya berdiri di depan mereka tanpa rasa takut juga gentar.
"Woi, Pak Direktur! Karena pelayanan rumah sakit anda yang tidak becus ngurus pasien, penyakit anak saya semakin parah!" teriak salah satu dari mereka.
Al masih diam dan mendengarkan.
__ADS_1
"Operasi yang ditangani dokter bedah anda juga membuat anak saya mengalami pendarahan di bagian pusarnya, dia sampai kencing darah. Saya minta tanggung jawabnya!!''
Banyak yang dengan terang terangan mengatakan kalimat protes itu ke Al.
Dari salah satu dokter yang menghadang tadi mendekat dan membisikkan sesuatu ke Al.
"Maaf, Dok. Kami sudah berusaha melerai dan menghalangi mereka untuk menemui dokter. Tapi, mereka ngotot dan membawa bala bantuan. Di luar rumah sakit juga banyak wartawan yang menunggu. Tapi kami sudah melakukan penjagaan di luar rumah sakit agar tidak menganggu kenyamanan pasien yang lain."
"Ya, biarkan mereka keluarkan unek unek mereka sampai mereka puas. Saya akan menghadapinya."
Al menjawab dengan tenang.
Dia yakin, tidak ada kesalahan seperti itu yang terjadi. Yang mereka keluhkan semuanya belum terbukti. Mereka hanya berusaha membuat kehebohan saja.
#######
Di tempat lain, seringaian seorang pria terlihat mengerikan. Dia menonton kehebohan yang terjadi di dalam rumah sakit Al dari kamera tersembunyi. Tawanya siratkan kepuasan setelah melihat Al terpojok. Rumah sakit ternama dengan rating bagus dan pelayanan yang dikenal begitu apik, akan segera hancur. Tinggal isu itu semakin digodok, dan dibakar sampai menyulut api besar yang akan membakar rumah sakit Al. Orang itu akan tertawa paling kencang jika semua itu bisa terjadi.
"Kamu memang handal, aku akan kasih kamu bonus karena berhasil membuat Al terpojok, tidak sia sia aku sewa kamu dengan harga mahal. Ternyata kamu memang bisa menjalankan peran ini dengan baik. Terus lakukan tipu muslihat ini, sampai aku bisa melihat bisnis dan keluarga mereka hancur. Seperti mereka menghancurkan kebahagiaanku."
Orang yang diajak bicara hanya ikut tersenyum puas. Dia hanya melakukan tugasnya, berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlibat terlalu jauh dalam hal emosi. Ya, dia hanya diminta untuk berpura pura menjadi seseorang, dan dia akan melakukan itu sebaik mungkin.
"Terima kasih, Tuan."
__ADS_1
Pandangan orang jahat itu terus menatap ke layar ipadnya. Dia bisa melihat semua yang terjadi dari benda pipih itu.
"Tunggu pembalasan aku, Al Gunawan!!" desisnya.