
"Akhirnya..... Misi pertama terselesaikan." Clinton menguap.
"Iya, sekarang lanjut ke misi yang paling menakutkan. Kamu sudah punya strategi belum?'' tanya Nicho.
Mata Clinton membulat sempurna.
"Strategi? Belum, kepalaku rasanya mau pecah, kalau bisa aku gak mau pulang, nunggu kondisi membaik, tapi kalo gak pulang malah nambah parah nanti ngamuknya. Aku bingung...." Clinton mengacak rambutnya sendiri.
"Kita beli kembang tujuh rupa aja gimana? Sebagai bukti pembersihan diri, kali aja mereka gak mau disentuh karena kita habis seranjang sama cewek kurang belaian, wkwkwk...." Nicho tertawa kencang. Clinton ikut tertawa, dia jadi ingat, dada wanita itu tak sebesar milik Clara, tapi kenapa waktu itu yang menyadarkannya dari bius adalah masalah ukuran dada? Clinton tidak habis pikir dengan otaknya sendiri.
Perutnya sampai kaku karena tertawa.
Tapi, Clinton mencerna kalimat Nicho. Boleh juga sarannya Nicho.
Mereka berjalan keluar klub dengan pikiran masing masing, sampai mereka mencari di sosial media cara menjinakkan singa ngamuk.
Eh, Istri ngamuk maksudnya.
######
Jantung Al berdegup kencang, hatinya benar benar tidak tenang. Sebentar lagi ia merasa akan mendapatkan musibah yang akan menimpa dirinya. Dengan perlahan sambil melafalkan kata kata untuk mencari alasan terbaik demi keselamatan dirinya.
Al mulai membuka pintu utama rumahnya dan dari arah ruang tamu dirinya bisa melihat Yesline yang sedang menangis, ditemani Meriam disampingnya. Hati Al menciut, melihat Yesline menangis. Al paling tidak tega melihat Yesline menangis.
"S-sayang...." panggil Al lirih sambil berjalan pelan menghampiri Yesline.
Meriam dan Yesline menoleh secara bersamaan, kala mendengar suara Al. Namun Yesline segera memalingkan wajahnya kembali, seakan enggan melihat wajah suaminya itu. Sementara Meriam ia merasa tidak enak berada diantara sepasang suami istri yang sedang bertengkar ini. Meriam pun sedikit mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan kembali ke kamar, agar bisa memberikan ruang untuk Yesline dan Al berbicara.
Tetapi baru saja Meriam bergerak, tiba tiba Yesline menahan tangan Meriam.
"Kamu disini aja, Mer. Aku lagi gak mau dengar kucing garong mengeong." ucap Yesline kepada Meriam sambil menyindir Al.
Al hanya bisa menelan salivanya, mendengar ucapan Yesline. Sedangkan posisi Meriam benar benar membuatnya serba salah, Meriam hanya berharap Hans segera kembali ke rumah Al.
__ADS_1
"S-sayang, itu semua salah paham aja. Itu kerjaan mami, Sayang! Kalo kamu gak percaya kamu bisa tanya Hans, Clinton, Nicho dan Gabriel deh, Mas itu gak ngapa ngapain. Kita cuma dijebak." bela Al di depan Yesline.
"Meriam," panggil Yesline.
"Iya, Kak. Kenapa?'' jawab Meriam langsung lugas dengan panggilan Yesline.
"Kamu tolong bilangin sama kucing garong yang tadi mengeong, mana ada orang dijebak tapi nikmat bangat meluk wanitanya," perintah Yesline kepada Meriam. Hal itu malah membuat Meriam semakin bingung dan merasa tidak nyaman.
"Hm... Kak Al. Itu kata Yesline udah dengar kan tadi," ucap Meriam perlahan ragu.
"Ya ampun sayang, namanya juga gak sadar mana aku tahu yang aku peluk wanita lain, dan aku pikir itu tadi kamu, tapi pas aku sadar aku langsung tendang tuh cewek sialan, beneran deh!!! Suerr, gak boong!!!'' bela Al kembali.
Yesline mendengkus marah. Tidak percaya begitu saja dengan apa yang Al katakan barusan.
"Meriam," panggil Yesline lagi, tanpa menatap Meriam.
Meriam menoleh, dia berasa jadi tukang pos jarak dekat.
"Iya, kak Yesline." mau gak mau, Meriam harus jadi adek yang baik di tengah tengah para kakaknya yang sedang adu mulut.
"Tolong kasih tau lagi sama laki laki plin plan itu, masa sudah bertahun tahun sama istri, enggak bisa ngebedain itu yang dipeluk istrinya atau bukan! Aku aja dari jarak puluhan meter sudah tahu bunyi langkah kaki suamiku kalau pulang. Ini meluk loh, harusnya kan merasakan hal yang beda, dari bentuk tubuh, tekstur kulit, dan aroma tubuhnya. Ah, entahlah. Memang kalo plin plan itu omongannya enggak bisa dipegang! Besok besok kalo tiba tiba mati lampu, nanti pembantu dikira aku lagi!" Yesline terus ngedumel, enggak ada jeda dan enggak habis kalimat untuk memaki Al. Ibarat dari satu kesalahan jadi seribu makian.
Meriam menghembuskan nafas dengan sedikit berat. Kini dia beringsut memutar tubuhnya menghadap Al.
"Kak, sudah dengar kan ya? Aku gak perlu ngulangi lagi, Hehehe," Meriam nyengir. Ini haru kedua pernikahannya yang paling absurd.
Al ingin langsung membopong Yesline dan membawanya ke kamar, tapi kalo dipaksa pasti bakalan mencak mencak itu kaki, nendang kemana mana, kasihan dedek bayi yang ada di dalam perut Yesline nanti.
"Sayang, Mas itu dibius. Tahu kan, kalo dibius itu langsung pingsan. Mana sempat Mas nyium aroma tubuh wanita ular keket itu, atau merasakan bentuk tubuhnya, yang ada juga Mas kayak orang mati. Baju dilepas aja gak sadar. Apalagi bedain dia kamu atau gak. Mer, sampaikan ya ke Ratu, kalo Raja beneran dijebak gak bohong." Al ikut ikutan menggunakan jasa kirim pesan lewat Meriam. Baru Meriam menoleh ke Al, Yesline sudah memanggilnya lagi.
"Mer, jangan mau. Biarkan dia ngomong sendiri sama tembok. Aku gak sudi dekat dekat sama dia yang bekas dipeluk wanita enggak benar. Kecuali sudah mensucikan diri, diamplas sekalian," gerutu Yesline lagi.
"Oke, kalau kamu mau Mas bersuci dulu, nanti Mas mandi kembang tujuh rupa, apapun yang kamu mau Mas turutin. Tapi maafin Mas, ya?''
__ADS_1
Yesline diam tidak memberikan respon. Dia duduk memunggungi Al.
"Mer, tolong bilang sama Yesline, bujuk dia biar gak marah lagi. Nanti aku kasih kamu hadiah rumah baru deh sama Hans ya?'' bujuk Al.
Waow, rumah baru.
Mata Meriam berbinar, tapi....
"Jangan mau Mer, kalo kamu sayang sama aku. Jangan dengerin omongan dia," Yesline menoleh dan menarik tubuh Meriam menjauh dari Al.
"Sayang, jangan gitu dong. Aku lagi ikhtiar supaya kamu gak marah. Aku gak bisa kalo kamu marah gini. Kasihan dedek bayi juga, nanti ikutan sedih." Al beringsut mendekat.
Meriam jadi bingung.
Dia terdiam, karena Yesline memeluknya dengan erat. Pokoknya Meriam gak boleh dimintain tolong Al untuk membujuk dia.
"Meriam, kamu mau mobil juga? atau apartemen? atau rumah sakit pribadi? Apapun deh, tapi bujukin Yesline ya?''
Pikiran Meriam sudah melayang ke langit tujuh, semua tawaran Al menggiurkan.
"O-----" baru Meriam mau buka mulut. Yesline sudah menyela.
"No! Jangan Meriam. Aku gak mau ngomong lagi sama kamu kalo kamu belain dia."
Duh, gimana sih?
"Ini aku harus gimana? Aku pergi nyusul Mas Hans aja deh, kak." Meriam berdiri, mulai jengah, tapi tangannya di tarik lagi sama Yesline, disuruh duduk.
Dari arah pintu terbuka Hans datang. Dia melihat Meriam berada di tengah tenga Yesline dan Al sedang diperebutkan.
Membuat Hans merasa kasihan dan geram dengan kedua sahabatnya itu. Masa istrinya yang cantik dijadikan tumbal pertengkaran mereka.
Hans berjalan mendekati mereka ke ruang tamu. Melihat Hans datang, Yesline dan Al sedikit terkejut. Ekspresi Meriam berubah lega, pangeran kuda putihnya sudah datang untuk menyelamatkannya. Hans menarik tangan Meriam dan membawanya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kalian ini apa apan, sih!!"