
Apa memang perlu Aku menyelidiki semuanya sendiri ???" gumam Gabriel bimbang. Rasa hutang budinya pada Erwin menekan empatinya untuk melakukan balas dendam itu.
Erwin ingin Gabriel mendapatkan Rumah Sakit dan harta Callista kembali. Dengan mudah tanpa sepengetahuan Al dan Callista, Dia sudah mendapatkan keduanya. Tapi yang membuatnya ragu adalah ..... Apa yang Dia lakukan sudah benar ???
Tentu benar jika membalas budi Ayahnya. Setan dalam dirinya berbisik lembut. Tapi apakah tidak ada cara balas budi yang lain ??? Selain balas dendam ??? Hati nurai Gabriel mulai meronta.
" Arrghh !!! Sialan. Masa gara gara omongan Wanita ini, Aku jadi goyah !! Gak !!! Aku gak boleh goyah !!! "
Suara jentikan jari Leni mengagetkannya, membuyarkan kegundahan hatinya.
" Apa sih ??? " Gabriel menepis tangan Leni.
" Kebanyakan melamun, entar kesambet loh !! Buruan, jangan lelet !! Aku harus kerja !! " sergah Leni sambil menatap jam tangannya. Entah kenapa di depan Gabriel jiwa galaknya kumat. Kalau di depan Hans kalam kalam saja. Apalagi di depan Clinton yang sok jaim. Mungkin lawan main dalam berbicara bisa berpengaruh juga.
" Gak sabaran banget sih !! Tinggal belokan depan juga sudah sampai !! " sebelah tangan Gabriel menunjuk ke depan. Menatap kesal ke arah Leni.
" Cantik cantik, tapi jutek !! " gumam Gabriel.
Tipe Wanitanya memang suka Wanita yang tangguh dan petarung seperti Leni. Tapi Dia juga belum tau kalau Leni jago dalam bela diri. Dia hanya melihat dari gayanya yang seperti persis tipenya itu. Cantik, manis, cool dan semua deh persis Wanita yang Dia mau.
****
Yesline sedang duduk di sofa, mengelus elus perutnya yang sudah besar. Perkiraan persalinannya hanya menghitung hari saja. Dia merasa gugup. Deg deg an. Dari arah dapur Al beberapa kali melirik ke arahnya sambil tangannya mengaduk susu yang sedang Dia siapkan untuk Yesline. Al berjalan mendekati Yesline.
" Kenapa Sayang ??? " tanya Al kepada Yesline yang kelihatan sedang memikirkan sesuatu. Dia berjongkok di depan Istrinya. Memberikan susu yang sudah dibuatnya untuk Yesline.
Yesline tersenyum. Berusaha tenang. Tangannya menerima susu dari Al, Lalu meminumnya hingga habis. Setelah gelasnya kosong, Dia memberikannya kepada Al.
" Terima kasih Mas. Aku gak kenapa napa kok. " jawabnya dengan mantap. Al mendekatkan wajahnya, menempel pada permukaan perut Yesline yang sudah besar itu.
" Yang pinter ya Nak. Jagain Mama. Papa kerja dulu. " bibir Al bergerak maju mencium perut Yesline dengan penuh kelembutan.
" Masa Calon Anak Kita doang yang di cium ??? " protes Yesline. Matanya mengerling manja.
Al bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengecup Istrinya. Al mencium kening Yesline dengan sedikit lebih lama.
" Aku mencintaimu. " lirihnya.
__ADS_1
Sudut bibir Yesline tertarik mengulas senyuman manisnya yang jadi candu buat Al. Wajah cantik Yesline begitu menenangkan. Hidungnya yang mancung dan matanya yang indah. Pipinya merah merona saat Al beralih mencium bibirnya lebih lama. Setelah puas bermain main dengan ciuman Yesline, Dia lalu berlalu menuju meja kerjanya yang tak jauh dari tempat duduk Yesline saat ini.
Baru saja Al duduk di kursi dan membuka laptopnya. Tiba tiba Yesline meringis menahan sakit, tangannya bergerak mengelus elus perutnya.
" Aduh .... Duh .... Sakit, Mas !!! " pekiknha membuat Al terkesiap. Dia langsung berhambur menghampiri Yesline.
" Kenapa Sayang ??? " tanyanya panik.
" Aduh, sakit Mas. Sepertinya kontraksi. " pekik Yesline membuat Al semakin panik.
" Apa ??? Masa sudah mau lahiran, Sayang ??? " Al masih tidak yakin karena perkiraannya masih minggu depan beberapa hari lagi. Al tidak tau harus berbuat apa, saat melihat Yesline yang semakin merintih kesakitan.
" Ma, Mama ???? " panggilnya. Suara Al begith keras dan lantang sampai terdengar ke dalam kamat Mamanya.
" Iya, Al. Ada apa ??? " sahut Mamanya yang langsung keluar dari kamarnya.
" Kamu bikin panik Mama saja !! " protes Mamanya yang mendengar suara Al begitu mengagetkan.
" Yesline sepertinya mau lahiran, Ma. " Al mendekati Mamanya dan memegangnya untuk berjalan lebih cepat menghampiri Yesline. Mamanya tergopoh gopoh mengikuti langkah Al yang begitu cepat. Wajah tenangnya berubah jadi waspada.
Mamanya langsung duduk disamping Yesline dan meminta Al untuk langsung menyiapkan mobil, Mereka harus segera ke Rumah Sakit. Al menurut dan langsung berlari ke arah garasi.
Mamanya kembali ketempat Yesline duduk dengan membawa satu koper penuh perlengkapan untuk lahiran.
" Mobil sudah siap, Ma. " kata Al memdekati Yesline dan langsung membopong tubuh Yesline. Al tahu rasa sakit yang dirasakan Yesline membuatnya kesusahan untuk berjalan. Sedari tadi Yesline hanya mendesis, menggigit sisi bibirnya menahan rasa sakit.
Al pernah membaca saat kontraksi sebelum melahirkan, rasa sakit yang dirasakan Seorang Ibu sama seperti tulang rusuknya yang dipatahkan semua secara bersamaan.
" Yang kuat ya Sayang ... " bibir Al bergetar, Dia benar benar takut. Ini pengalaman pertamanya. Meski Dia sudah berkali kali membaca artikel dan menonton youtobe tentang pengalaman Suami yang mendampingi Istrinya melahirkan harus ini dan itu, Tapi tetap saja Dia masih takut dan gugup.
Setelah Yesline dan Mamanya masuk ke mobil, Al langsung menancap gas mobilnya dengan cepat. Al memakai earphonenya. Dia menghubungi Rumah Sakit untuk menyiapkan ruangan persalinan untuk Yesline. Dan juga memastikan Gabriel selalu ada di Rumah Sakit.
Tapi info dari Perawat, Dokter Gabriel belum datang. Al geram.
" Bisa bisanya Dia keluyuran disaat jam kerja seperti ini !!! " geram Al. tangannya meninju kemudi mobil.
Akhirnya Dia memutuskan untuk menghubungi Gabriel sendiri, Al meminta nomor Gabriel dari Sekretarisnya.
__ADS_1
Andai Gabriel ada di depannya, mungkin sudah ditonjok Al berkali kali. Al langsung menelpon Gabriel dan setelah diangkat,
" Woy, Dimana Kamu ??? Yesline mau lahiran !!! " cetus Al bertanya dengan bentakan.
" Oke, Aku kesana sekarang juga. " jawab Gabriel tanpa berniat menjawab pertanyaan Al itu.
Al kembali fokus ke kemudi, Dia harus segera sampai di Rumah Sakit. Matanya beberapa kali melirik dari spion untuk melihat Yesline.
Bibirnya masih mendesis, menahan rasa sakit yang membuat Seorang Ibu mempertaruhkan segalanya. Antara hidup dan mati.
" Kamu harus kuat Sayang ''
******
Fokus Callista sudah berubah, Dia kini sedang berusaha menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Dia bangun pagi dan langsung pergi ke dapur untuk membuat dan menyiapkan sarapan. Dia bingung harus membalas kebaikan Nicho dengan apa. Jadi Dia pikir mungkin dengan merawatnya setiap hari bisa membuatnya sedikit lebih lega.
Callista membuka kulkas, isi di dalam kulkas Nicho sangat lengkap, membuatnya bingung harus masak apa.
" Masak apa ya ??? "
" Bikin omlet ajah deh. "
Callista mengambil beberapa telor, menaruhnya diatas pantry. Lalu Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya. Dia langsung mencari tutorial membuat omlet dari youtobe.
Ini kali pertama Callista belajar memasak, Dia mengikuti step demi step yang Dia tonton itu. Callista begitu kewalahan saat membuka telor dan beberapa telor tecampur dengan cangkangnya dan beberapa telor bercampur dengan cangkangnya semua.
" Yah .... Susah amat sih !!! " geramnya.
Tiba tiba sudah ada yang melingkarkan tangan di perutnya. Nicho memeluknya dari belakang, gemas melihat tingkah Callista yang lucu. Bibirnya mengerucut menatap semua telur yang berantakan itu.
" Semuanya gagal, padahal Aku mau bikin omlet. " sesalnya.
" Tidak apa apa. Yang penting sudah punya niat mau bikinin Aku sarapan, Sini biar Aku ajah yang masak. Ibu hamil harus banyak istirahat, tidak boleh capek. "
Nicho menganggkat tubuh Callista dan mendudukkannya di kursi. Setelah itu, Dia mulai beraksi menggantikan Callista membuatkan sarapan.
Wajah Callista tersipu malu, campur senang. Semakin kesini, Nicho semakin membuatnya kagum.
__ADS_1
" Terima kasih. " lirihnya sangat pelan sampai Nicho tidak bisa mendengarnya.