Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 153


__ADS_3

" Kamu masa kagak bisa ngambil hati cewek sih? Masih perlu saha ajari bagaimana cairan menaklukkan hati wanita yang sedang marah? hm?? " ledek Al dengan entengnya. Membuat Clinton mencebikkan bibirnya dengan kesal.


" Oke deh, sepertinya cara kamu yang paling masuk akal. Aku akan coba. " Clinton berbinar binar.


" Cih! senang amat ekspresi itu, sudah gak sabar melepas keperjakaan kamu? Jangan jangan berkarat karena gak pernah digunain?? " Al tertawa lebar, menyindir Clinton membuatnya bahagia. Clinton memukul lengan Al dengan kuat. Tidak terima dikatain karatan.


" Enak aja kamu! Masih suci ini dan kuat perkasa! Punya kamu mah lewat. "


" Sialan kamu! Punya saya mah sudah terbukti, Punya kamu mah belum, latihan dulu gih sana!! "


" Kamu kira mau lomba, kamu minta latihan. Tapi suwer saya deg deg an." Clinton terkekeh, memegangi jantungnya yang berdetak begitu cepat.


Memikirkan usul Al yang sedikit gila itu tidak berhenti membuatnya tersenyum, tidak sabar untuk eksekusi.


" Jahat gak sih kalau Aku ngelakuin begitu?? " batinnya sedikit bimbang. Lalu lagi lagi kata Al meyakinkannya, ini demi Clara mau menikah dengannya. Dan membebaskan pikirannya dari prinsipnya yang childfree.


Al sendiri malah tertawa terbahak bahak karena melihat tampang lugu Clinton yang belum pernah sama sekali melakukan olahraga ranjang. Apa memang seperti itu ya? Kalau ingin, Apa cuma senam jari gitu??


Al geleng geleng kepala, tidak habis pikir dengan sahabatnya yang ternyata memang masih perjaka ting ting.


Perut Al terasa kaku karena terus saja tertawa, Clinton menatapnya tidak suka.


******

__ADS_1


" Bagaimana kabarmu? " tanya Nicho pada Rizky.


Sudah hampir 5 tahun lebih mereka tidak ketemu. Hubungan kakak adik yang cuma bertahan pada dokumen kelurahan dan dokumen kartu keluarga. Mereka tidak pernah begitu dekat, Entah apa yang membuat jurang diantara mereka kian saja suram dan dalam.


Tapi setelah lima tahun berlalu, Nicho bisa melihat wajah Rizky yang lebih tenang dan enak dilihat, auranya berbeda. Apa kekejaman hidup di dalam penjara membuatnya berubah sedemikian drastis?


" Saya baik baik saja, Bang. " Rizky tersenyum, matanya menatap tangannya yang masih di borgol. Namun, tatapan itu sulit diartikan. Mungkin dia mensyukuri waktunya yang Dia habiskan beberapa tahun ini di dalam penjara.


" Syukurlah. " jawab Nicho.


Hening.


Tidak ada yang memulai percakapan, Mungkin bingung harus mengatakan apa. Setelah begitu banyak hal yang terjadi.


" Kami akan menunggu kepulanganmu, Papa titip salam, Dia sudah tidak sabar menunggumu pulang. " akhirnya hanya kalimat itu yang Nicho ucapkan. Lalu dia pamit undur diri. Ada Callista dan Putrinya Cleo yang menunggu di mobil.


Di sisi lain, Nicho memasuki mobilnya dengan perasaan yang campur aduk, berharap semoga kelak Rizky benar benar sudah bertobat dan tidak akan berbuat jahat lagi.


" Bagaimana Sayang? " tanya Callista yang penasaran dengan apa yang terjadi setelah memperhatikan raut wajah Nicho yang sedikit terdiam beberapa saat lalu.


" Tidak apa apa, Sayang. Aku hanya khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti jika Rizky sudah dibebaskan. "


" Bukankah katamu Rizky sudah berubah? Lalu apa yang kamu khawatirkan? Seperti aku yang memulai kehidupan baru maka Rizky juga akan seperti itu bukan? Setiap orang memiliki kesempatan kedua dalam hidupnya untuk memperbaiki kesalahan - kesalahannya di masa lalu, Tugas kita hanya memberikan dukungan kepada mereka untuk menjalani awal kehidupan barunya. Kamu adalah laki laki yang baik juga merupakan kakak yang baik. Jadi jangan khawatirkan apapun, oke? " Callista menyentuh tangan Nicho dan menggenggamnya.

__ADS_1


" Percayalah padanya, Cho. Seperti kau percaya samaku. Aku bersyukur memilikimu, Rizky juga pasti bersyukur memiliki abang yang hebat seperti kamu. Anak kita juga bangga memiliki papa seperti kamu. Teruslah jadi orang baik, tanpa takut apapun lagi. "


Nicho tersenyum mantap. Dia mengecup punggung tangan Callista dan menatapnya dengan penuh cinta.


" Aku yang beruntung karena memilikimu, Sayang. I love you ... " katanya dengan lembut, membuat Callista tersipu malu.


" Mama dan Papa, so sweet sekali. " kata Cloe senyum senyum menatap Mama dan Papanya secara bergantian. Callista dan Nicho beralih menatap putrinya itu dan tersenyum bersama.


" Sudah siap ke rumah Azka, kak? " tanya Callista yang langsung diangguki oleh Cloe. Gadis itu sangat antusias. Dia biasanya hanya melihat wajah Azka dari balik layar ponsel atau ipadnya saat vidio call. Sekarang dia bisa melihat wajah tampan Azka secara langsung.


Rambut lurus panjang tapi dibawahnya ikal seperti di kriwil kriwil Chloe bergerak kesana kemari karena gadis kecil itu sedang menari menirukan gaya artis yang dia lihat di sebuah aplikasi di ipadnya.


" Baik, Ayo kita berangkat ke rumah Azka sekarang. "


Nicho sudah siap. Dia menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah Azka. Selama perjalanan, Callista dan putrinya terus saja menyanyi, membuat suasana begitu rame tapi Nicho tampak senang mendengarkan kedua wanitanya bahagia dan selalu ceria. Sudah lima tahun berjalan, Dia akan kembali bertemu teman lamanya. Ada rasa yang berbeda.


Nicho menepikan mobilnya saat sudah memasuki gerbang rumah Azka. Dia keluar dari dalam mobil begitu juga Callista yang sudah dibantu Nicho untuk membukakan pintu. Wanita itu keluar dan langsung membukakan pintu penumpang, membantu Chloe untuk turun.


Sebelum ke Indonesia, tadi mereka sudah menyempatkan untuk membeli oleh oleh buat Azka dan juga Yesline.


Nicho menatap bangunan besar itu, ada memori yang tak bisa dilupakan setiap kali dia menatapnya. Setiap sudut ada kenangan yang masih jelas tersimpan di dalam otaknya. Begitu juga dengan Callista. Setelah sekian tahun, akhirnya dia kembali menginjakkan kakinya ke rumah ini, ke keluarga ini dengan status dan kehidupan yang berbeda.


Callista terlihat sedang mengisi rongga dadanya dengan beberapa kali tarikan nafas, Dia butuh banyak oksigen. Dia sudah tidak memiliki perasaan apa apa terhadap Al, hanya saja datang kesini membuatnya kembali mengingat semuanya.

__ADS_1


Dia merasakan tangan Nicho yang menggenggam tangannya dengan lembut, Callista menatap netra Nicho yang begitu teduh dan menenangkan. Dia selalu tau jika istrinya merasa gugup. Dia akan selalu ada untuk menemani Callista, dimanapun dan kapanpun itu. Itu yang membuat Callista bertekuk lutut hingga sekarang. Dia rela melepas seluruh karirnya hanya demi menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk Nicho dan putri cantiknya.


Nicho memencet bel, dan beberapa detik kemudian pintu terbuka, menyembul wajah Yesline dari balik celah pintu yang semakin melebar sempurna. Di bawahnya ada Azka yang nampak terkejut dan berusaha mengingat ingat ketika matanya menatap Chloe.


__ADS_2