
Meriam berjalan sebisa mungkin mendekati Ayahnya yang duduk di dalam kelas, masih memandangi Wisnu. Laki laki tidak waras itu. Melihat Meriam memasuki ruangan, mata Wisnu mengedar memperhatikan gerak gerik Meriam yang membungkuk di dekat sang ayah dengan membisikkan sesuatu.
Ayah Meriam terperanjat kaget.
" Ya sudah, kamu minta pak Iron untuk menyiapkan mobil, kita berangkat sekarang. Biar urusan disini di pegang sama para Uztad dulu." Beliau bangkit, meninggalkan ruangan.
Namun wisnu kembali berteriak dengan tidak sopan.
"Meriam, lepasin aku. Kenapa kamu begitu tega, aku sudah rela menunggumu bertahun tahun. Dari kamu masih sekolah, aku berusaha menjadi yang terbaik buat kamu, tapi kamu mengabaikan ku hingga sekarang. Kamu wanita yang tidak berperasaan!!!'' teriak Wisnu frustasi, dia menangisi dirinya sendiri.
Mamanya hanya bisa ikut menangis melihat nasib putranya yang berakhir seperti ini dengan rasa malu yang sudah sampai ke ubun ubun.
Meriam dan Ayahnya hanya menatap sini ke arah Wisnu, lalu berlalu pergi tanpa berkata apa apa lagi. Mereka terlalu terburu buru. Meriam memberi tahu mamanya dan mereka segera berangkat ke bandara.
Di dalam mobil, beberapa kali Meriam mencoba menghubungi Hans tapi tidak ada juga jawaban. Dia benar benar cemas. Beberala kali mengucap istighfar meredakan kekhawatiran yang kian mengusiknya.
"Bagaimana jika Hans ikut kecelakaan? Bagaimana jika Hans tidak tertolong? Bagaimana jika aku tidak bisa melihatnya lagi? Bagaimana aku akan kembali mengikhlaskan orang yang kucinta dan bangkit berjuang untuk memupuk perasaan itu kembali? bagaimana aku bisa?''
__ADS_1
"Nduk, cah ayu, jangan takut, berdoalah. Jika takdir pasti akan terjadi, kamu tidak usah terlalu banyak berpikir tentang apa yang belum tentu terjadi. Berdoa ya, Nduk. Berdoa..." Mamanya mengelus kepala Meriam dengan penuh perasaan. Wanita paruh baya itu juga cemas. Tapi dia hanya ingin mengingatkan anaknya bahwa ada Tuhan sang maha agung yang memutuskan segala apa yang akan terjadi dan tidak terjadi. Jadi kita perlu berdoa sebagai hamba yang lemah.
Meriam hanya mengangguk di dalam dekapan Mamanya.
Sesampainya mereka di bandara, di sana sudah ramai di penuhi oleh banyak orang yang juga ingin tahu bagaimana keadaan keluarganya yang termasuk dalam penumpang pesawat itu. Ada beberapa polisi yang mengamankan situasi di sana.
Meriam benar benar tidak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri. Dia bahkan seperti mau ambruk, saat melihat sudah ada beberapa korban dengan tandu dimasukkan ke dalam mobil ambulance.
Sendi sendi pada kakinya melemas, dia runtuh seruntuh runtuhnya saat melihat beberapa pakaian korban yang ditumpuk jadi satu dalam sebuah wadah. Tangan Meriam bergetar. Dia pernah melihat kemeja itu dipakai oleh Hans, dan jam tangan itu..... Tubuhnya lemas seketika. Dia pingsan di tengah tengah keramaian itu, Ayah dan Mamanya panik.
Keadaan begitu kacau dan ramai.
Sementara di tempat lain, Seorang laki laki sedang mengumpat marah karena tiba tiba ban mobilnya yang kempes di sekitaran jalan tol Trans- Jawa.
Karena terburu buru, baterai ponselnya juga lowbat. Dia tidak bisa melakukan apapun, kecuali menunggu ada mobil yang berhenti untuk membantu.
*******
__ADS_1
Al baru saja selesai melakukan operasi, dia berniat untuk melihat keadaan. Yesline yang dari kemarin masih sabar menunggu Suzan di dalam kamarnya. Wanita itu memang sedang koma. Karena mengalami pendarahan di otaknya. Al melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam ruangan dengan menggunakan pakaian khusus.
Dia berbisik di telinga Yesline.
"Sayang, makan dulu ya? Kamu belum sarapan, bahkan belum mau makan dari kemarin. Kalau sakit bagaimana nanti? Hm? Mas gak mau kamu sakit, makan ya?'' ajak Al dengan lembut.
Yesline masih sembab, dia masih saja menangisi keadaan Suzan yang semakin parah. Dia merasa menjadi sahabat yang tidak berguna. Di pangkuannya, ia dekap tas Suzan. Beberapa kali ia pandang beberapa peralatan milik Suzan di dalam tas nya. Di dalam dompet Suzan, ada foto Yesline dengan dirinya dulu waktu masih bekerja. Al berkutat di dekat Yesline, namun matanya terlihat oleh lembaran kertas yang berisi surat perjanjian penyerahan club alexiz.
Al membulatkan matanya.
"Sayang, sebentar. Mas, pinjam ya?"
Netranya memperhatikan dengan seksama.
"Ini? Kok bisa?''
Al menatap bingung. Apa yang sebenarnya terjadi sebelum kecelakaan menimpa Suzan???
__ADS_1