Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 211


__ADS_3

Beberapa saat kemudian ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Nicho langusng mendekati pintu utama dan membukanya lebar lebar. Itu Hans.


"Eh, kamu Hans. Ada apa? Mau ikut kita balik ke Jakarta?" kelakar Nicho. Hans hanya tersenyum, di belakangnya Meriam baru menyusul dengan membawa beberapa santri yang membantu membawakan bingkisan untuk teman temannya Hans.


"Ini, Aku lupa kasih kalian bingkisan pernikahan, hehehe. Semoga bermanfaat ya dan aku sama Meriam juga mau nganterin kalian ke bandara.'' Hans berjalan masuk ke dalam rumah, dirangkul Nicho.


Meriam meminta tiga orang santri untuk meletakkan bingkisannya di atas sofa. Lalu mereka pamit undur diri. Meriam menghampiri para wanita di rumah itu, dia duduk di dekat Yesline.


"Aku dengar kakak muntah muntah ya? Mungkin memang akan ada junioe baru.'' Meriam berkata sambil menyentuh perut Yesline.


"Iya, kah?'' sontak Yesline berbinar. Iya, dia memang sudah menanti kehamilan itu setelah pernah keguguran.


Meriam mengangguk.


"Kamu, benaran mau nganterin kita?'' tanya Clinton memastikan.


"Iya, lah. Masa bohong.''


"Bukankah pengantin baru belom beleh keluar ya?'' Al menyahut.


"Boleh, dekat aja kok.'' Hans kembali meyakinkan teman temannya.


"Kita udah sewa mobil, kamu gak usah repot, sungkan kita ganggu kamu.'' Gabriel menimpali.


"Aish, kalian ini. Kenapa menolak kebaikan aku sih?'' heran Hans.

__ADS_1


"Biar kamu bisa berduaan dengan Meriam lah, gimana sih.'' Nicho duduk disamping Hans, menyenggol lengannya.


"Kamu buka aja hadiah dari kita kita, biar ada tambahan acara. Belum kamu buka kan?'' Clinton mengingatkan.


Hans nyengir. ''Baru dari Leni yang di buka.'' jawabnya.


Leni tertawa. "Ampuh kan?'' matanya melirik ke arah Meriam berada, yang tersipu malu.


Para lelaki menatap aneh ke arah Leni dan Hans juga Meriam. hanya mereka bertiga yang tahu.


"Emang, kamu ngasih Meriam dan Hans apa, sayang?'' Gabriel penasaran.


Leni hanya tersenyum sambil berujar, "Rahasia.''


"Nah, ini udah datang kendaraannya. Buruan gih keluar,'' perintah Gabriel. Al membopong tubuh Yesline, sementara yang lainnya membantu membawakan peralatan si Al dan juga Yesline.


Saat semua sedang melangkah keluar. Tiba tiba terdengar suara dentuman keras, seperti sesuatu yang meledak begitu hebat. Gabriel berlari ke luar dengan cepat, disusul Clinton, Hans dan juga Nicho.


"Astaga!!'' pekiknya terkejut, ketika melihat, ada api dan asap mengepul dari bangunan asrama tamu.


******


Masih ada kah yang ingat sama Wisnu? Dimana dia disaat dan setelah Meriam juga Hans menikah?


Suara ledakan itu membuat geger satu pesantren. Para santri yang sedang belajar kelas liqoul mufrodat berbondong bondong keluar dari kelas mereka dengan panik. Begitu juga Kyai sang Ayah Meriam yang saat itu sedang mengajar kitab di mesjid langsung berteriak memanggil para ustad pondok juga santri putra untuk segera melihat lokasi dan memadamkan api.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini, Mas kesana dulu bantuin yang lain ya, sayang?'' kata Hans kepada Meriam, istrinya mengangguk, Hans melepaskan genggaman tangan Meriam dan berlari ke asrama tamu.


"Ada ada aja sih, kamu duduk disini dulu ya, sayang. Mas ikut ngecek dulu.'' sambung Al, dia mendudukkan Yesline di kursi di depan rumah. Callista memeluk Chloe, dan Leni mendekap Azka yang memeluk Yesline. Sedangkan Clara mendekat ke Yesline, mereka juga panik harus membiarkan para suami mereka ikut memadamkan api.


Clinton, Nicho, Gabriel dan Al berlari menyusul Hans. Hans menuju kamar mandi putra, mencari bak dan juga gayung, dia isi penuh bak atau ember dengan air.


"Kamu! kesini bantu saya angkat ini.'' panggil Hans pada salah seorang santri yang berdiri mematung di samping mesjid.


"Enggeh, Gus.'' santri itu berjalan ke arah Hans.


Dia membantu hans mengangkat bak berisi air penuh itu. Sedangkan Kyai memegangi dadanya yang berdenyut nyeri, kejadian pagi ini membuatnya syok.


"Duduk dulu, Kyai.'' seorang Ustad mengambilkan kursi dan meminta Kyai untuk duduk saja, biarkan yang lebih muda yang memadamkan api.


Di depan asrama tamu, Al membantu menyiramkan api yang sudah membakar pintu masuk ke asrama. Gabriel dan temannya yang lain juga membantu di dekatnya.


"Kenapa bisa meledak gitu, ya?'' gumam Clinton.


"Mungkin tabung gas meledak,'' sahut Gabriel yang ikut sibuk mondar mandir mengambil air.


"Ini peringatan buat kita para suami, jangan biarkan istrimu masak, lebih baik beli aja biar aman dari ledakan tabung gas,'' seloroh Nicho.


"Ya kali seumur hidup enggak masak, asal ngomong aja kamu ini!'' tegur Gabriel.


"Ish, hanya saran.'' Nicho mengelak.

__ADS_1


__ADS_2