Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 145


__ADS_3

Hening. Semua terdiam. Yang kemudian Papanya tertawa ringan untuk memecah keheningan. Dia hendak menjawabnya mewakili Keluarganya. Ada Wanita cantik juga sholehah yang tertarik dengan Putranya kenapa tidak diterima ???


" Em ---- " Perkataan Papanya tiba tiba terpotong karena Hans tiba tiba menyelanya.


" Gak, Pa. Masa kenal ajah belum, sudah ngajak taaruf ?? " kata Hans menolak, berjalan mendekati Wanita itu, Dia sepertinya tidak mengingat siapa Wanita yang kini berdiri di depannya itu.


Hans menatap kesal ke Wanita yang terus saja tersenyum dengan mata menatapnya.


" Saya menyukai Anda. Karena itu Saya ingin mengajak taaruf agar bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius. Tanpa pacaran. "


Senyum Wanita itu mengembang begitu indah. Warna bibirnya pink natural alami. Cantik. Dan wajahnya hanya menggunakan make up tipis, benar benar indah dan sangat terjaga. Tutur katanya halus, membuat siapa saja yang mendengarnya akan terhipnotis.


Hans belum sadar kalau Tuhan sudah menurunkan satu bidadari surga ke bumi untuk menyempurnakan Agamanya.


Laki Laki itu masih saja jengkel karena tiba tiba di ajak taaruf oleh Wanita yang beberapa menit lalu bertemu.


" Dasar Wanita aneh !! " geramnya.


" Kamu melukai harga dirimu sendiri karena mengajak Seorang Pria yang baru Kamu kenal untuk taaruf. Apa Kamu tidak malu ??? " tanya Hans masih jengkel dengan sifat bar bar Dokter yang menangani Papanya. Yesline dan Leni yang penampilannya terbuka saja tidak se bar bar itu.


Wanita itu malah tersenyum dengan sangat manis membuat Hans merasa heran.

__ADS_1


" Mohon maaf siapa nama Anda ?? " tanyanya ke Hans.


Hans enggan menjawab. Dia melongos begitu saja. Membuang pandangannya ke arah lain.


Mamanya yang menjawab pertanyaan Dokter tadi. Wanita paruh baya itu sudah menaruh perhatian dengan Dokter cantik yang menangani Suaminya. Meski Dia juga belum tau siapa nama Wanita itu.


" Nama Putra Saya Hans, Dokter. Dia memang agak pemalu. " ucap Mamanya, sedikit menahan ketawa saat melihat Hans yang hendak mau protes kenapa Mamanya malah memberitahukan namanya.


" Oke, Baik Bu. Terima kasih sudah membiarkan Saya tau. Kenalkan nama Saya Meriam Hawa. Calon Ibu mertua boleh panggil Saya Meriam. " katanya kepada Mama Hans yang langsung membuat Mamanya tertawa senang karena di panggil calon Ibu mertua. Papanya pun juga ikut tersenyum senang.


" Baik Bu Dokter Meriam. Mertua mana yang tidak senang memiliki menantu cantik, sholehah dan juga pintar seperti Bu Dokter. " kata Mama Hans dengan tersenyum, yang kini berdiri di dekat Suaminya. Matanya sesekali melirik ke arah Hans.


Pandangan Meriam kembali terarah kepada Hans yang masih membuang pandangannya.


" Kamu terlalu percaya diri, Saya gak mau ta'aruf sama Kamu, Dasar cewek bar bar. "


" Pikirkan dulu, sebelum Anda menyesal. " ucapnya dengan tenang dan halus. Meski di dalam hatinya sedang berperang hebat antara hati dan otaknya. Dia hanya tidak ingin kejadian menyakitkan itu terulang lagi dan lagi, di tinggal menikah oleh Orang yang dicintainya karena tidak berani menyatakan niat taaruf terlebih dahulu. Padahal sebenarnya Laki Laki yang Dia cintai juga mencintainya, Hanya karena sama sama tidak berani mengajak taaruf terlebih dahulu, Mereka tidak bisa bersama.


Meriam adalah Wanita cerdas dengan sejuta prestasi. Dia menjadi Dokter spesialis di usianya yang masih terbilang muda. Mana ada Laki Laki yang berani melamarnya jika tidak memiliki title yang lebih tinggi darinya.


Karena itu, saat bertemu Hans beberapa tahun yang lalu, Dia pernah berkata dalam hatinya, Jika Mereka di pertemukan kembali lagi oleh takdir, maka Dia menganggap Hans adalah jodohnya dan Dia akan memberanikan dirinya mengajak taaruf lebih dulu, karena Dia tidak mau pacaran.

__ADS_1


Meriam kembali tersenyum dan meninggalkan Hans yang mematung, sementara itu di belakangnya, Mamanya dan Papanya hanya terkekeh melihat tingkah Putranya.


" Sial !!! Bikin emosi aja. Ada ya Wanita seperti itu ??? Gak malu mengajak taaruf duluan, Padahal malunya Seorang Wanita itu bagian dari Iman. " Hans duduk di sofa dengan mulutnya yang masih menggerutu.


Mamanya menyentuh bahu Papanya, meminta Laki Laki itu untuk menjalankan perannya.


" Tidak ada yang salah, Nak. Benar apa yang di katakan Dokter Meriam. Dia tidak menyalahi aturan, Dia tidak menggodamu bahkan menyentuhmu. Dia hanya menyatakan niatnya untuk mengajak taaruf. Kenapa Kamu begitu marah ??? Kamu gak tau kan, dulu Mamamu juga yang ngajak Papa taaruf duluan meski lewat surat yang dititipkan di Mbak Mbak pondok. Tapi memang tidak ada salahnya jika Wanita yang mengajak duluan, asal dengan cara yang benar. "


Hans masih terdiam. Mendengarkan perkataan Papanya yang menurutnya memang masuk akal. Tapi tetap saja, Dia merasa risih jika diperlakukan seperti itu.


Hans memilih diam dan tidak menyahut perkataan Papanya. Batinnya bergejolak, sedang otaknya tidak lepas dari bayangan dari wajah Dokter itu yang begitu cantik, Bahkan sudut terdalam otaknya mengakui jika kecantikan Yesline dan Leni serta Clara kalah. Hans mengusap kasar wajahnya. Berusaha mengusir bayangan Dokter Meriam yang terus berkelana di dalam hatinya.


********


Clinton baru saja menyelesaikan pekerjaannya, sekarang sudah waktunya makan siang. Dia meraih ponselnya dan hendak menghubungi Clara. Clinton dan Clara juga sudah bertunangan.


Clinton menghargai keputusan Clara yang belum ingin menikah karena Dia masih memiliki banyak target dalam hidupnya yang belum Dia capai.


Laki Laki itu membulatkan matanya saat tau beberapa waktu yang lalu ternyata Clara sudah meneleponnya dan mengirim pesan singkat. Hans langsung membuka pesan dari tunangannya itu.


" Mas, Clinton. Aku tadi sebenarnya mau ijin, ada salah satu klien yang minta meeting dilakukan di luar kantor. Tapi, ternyata Mas sibuk jadi Aku WhatsApp aja. Nanti Aku share lokasi meetingku ya. Untuk siang ini, Maaf gak bisa menemani makan siang. Love You Cinta, Dari calon Istrimu yang paling cantik. "

__ADS_1


" Kenapa harus meeting keluar sih ?? Harusnya tadi Kamu tolak aja Sayang. " gerutu Clinton berbicara sendiri menatap layar ponselnya.


__ADS_2