
Al dan Yesline juga Azka baru saja selesaiĀ makan di restoran. Seorang pelayan datang untuk menyerahkan nota tagihan yang perlu pengunjung bayar. Al merogoh saku celananya, dia hendak mengambil dompetnya tapi tidak ada apapun di sakunya. Semua saku kosong. Al kelimpungan, dengan wajah panik dan bingung Al menatap Yesline dan pelayan itu bergantian. Azka masih memakan makanannya yang belum habis. Dia tidak ikut berkomentar melihat sang ayah kebingungan.
"Kenapa, Mas?'' tanya Yesline yang mulai menyimpulkan bahwa sedang ada yang tidak baik baik saja.
Al masih mencoba menelisik tiap saku celananya yang tidak bolong.
"Kamu gak bawa dompet?'' tanya Yesline lagi dengan setengah berbisik.
"Sepertinya ketinggalan di rumah sakit, Sayang.'' Al menjawab dengan berbisik pula.
Mendengar itu membuat Yesline langsung menghadap pelayan tadi.
"Maaf, Mbak. Domper suami saya ketinggalan di rumah sakit, apa boleh bayar dengan barang?'' tanya Yesline mencari solusi.
"Dengan apa, Bu?'' tanya pelayan itu dengan muka yang sudah tidak ramah.
Yesline berusaha melihat barang apa yang bisa digunakan untuk membayar. Karena Yesline tipe wanita yang enggak pernah bawa uang sendiri, apalagi dia kelluar dengan Al, kecuali dia keluar sendiri baru bawa uang.
Yesline hendak melepas cincin yang ada di jari tengahnya. Tapi buru buru di cegah sama Al.
"Jangan, Sayang. Kamu mau apa? Masa istrinya Al mau pakai cincin buat bayar makanan? Enggak lucu, Yes.'' Al mulai ngomel. Tapi nyatanya memang enggak ada yang bisa dipakai buat bayar. Karena kebetulan restoran mahal yang satu makanan saja harnganya bisa hampir jutaan.
"Terus mau bayar pake apa? Kamu kan gak bawa dompet, Mas. Nanti kalo dompetmu ketemu, kamu belikan aku cincin baru yang lebih mahal lagi,'' Yesline tetap melepaskan cincinnya. Dan hendak memberikan cincin itu kepada pelayan.
Tapi dengan cepat Al merebutnya lagi sebelum diterima pelayan itu. Al terpikirkan untuk meminta bantuan. Tapi siapa yang bisa datang dengan cepat?
"Bagaimana ini, Bu? Apa perlu saya panggilkan pemilik restoran ini kebetulan bapak ada disini, jadi bisa meminta keringanan." Pelayan itu memberikan opsi lain. Tapi mendengar itu malah membuat Al berapi api.
__ADS_1
"Hei! Kamu menghina kami? Apa maksud kamu bilang meminta keringanan? Restoran ini bisa aku beli, kamu jangan ngerendahin istri saya!'' sentak Al.
Pelayan itu kesal dan memaki Al.
"Enggak punya uang tapi makan di tempat mahal, sok berpenampilan orang kaya tapi dompet aja gak ada, pura pura gak bawa lagi. Bangun dari mimpi, Pak,'' cibir pelayan itu.
"Wah, nyolot nih anak. Saya memang ornag kaya. Anda saja yang gak kenal saya,'' bantah Al bersikeras. Dia memang kaya, cuma dia bukan artis yang dikenal banyak orang.
Dari arah berlawanan datang seseorang menghampiri meja mereka. Yesline yang melihat siapa orang itu langsung melongo, dia sampai menutup mulutnya.
"Pak sutradara? Anda kebetulan juga ada disini?'' tanya Yesline yang super kaget.
Apalagi, Al. Tatapan sinisnya sudah ia tujukan untuk sutradara itu.
"Kamu pasti ngikutin kami. Dasar penguntit,'' kesal Al.
"Pak, ini mereka sudah makan porsi banya malah enggak mau bayar, dengan alasan dompetnya ketinggalan.'' lapor pelayan tadi.
"Biarkan saya yang menangani ini, Kamu kembali kerja,'' kata sutradara itu kepada pekerjanya. Pelayan itu mengangguk dan pergi melayani tamu yang lain.
"Saya adalah pemilik restoran ini, tagihan kalian gak usah dibayar gak apa apa. Sudah saya anggap hal biasa,'' cakapnya dengan enteng.
"Enggak, enggak mau. Kami bukan ornag miskin,'' sanggah Al.
Sutradara itu tertawa.
Sebelum Al berulah lagi, Yesline buru buru menjawab.
__ADS_1
"Baik, Pak. Terima kasih atas kemurahan hatinya. Nanti kami akan kembali kesini untuk bayar tagihannya,'' kata Yesline sambil mengajak Al dan Azka untuk pergi. Meski bisa Yesline lihat dengan jelas, kalo mereka masih memperhatikan kepergian Yesline.
Di mobil Al masih marah marah, enggak terima. Tapi, Yesline menjelaskan yang penting mereka keluar dulu, nanti bisa dibayar kalo sudah ambil dompet.
#######
Di rumah sakir Gabriel saat Al dan Yesline kembali ke sana untuk mengambil dompet, tiba tiba melihat Clinton dan Clara baru saja keluar dari ruangan Gabriel. Al terkejut dan ingin tahu sedang apa mereka ada disini?
"Clinton,'' panggil Al yang sudah berdiri tepat di belakang Clinton. Laki laki itu menoleh. "Iya,''
Clinton juga terkejut waktu tahu tiba tiba Al ada di sana. Clinton juga berubah jadi tak enak dengan pertemuan mereka ini. Pasti akan ada cekcok.
"Kamu ngapain disini?'' tanya Al, sementara Yesline masuk ke dalam ruangan Gabriel untuk mencari dompet.
"Oh, si CLara lagi menjalankan program kehamilan, Al.'' Clinton menjawan dengan hati hati.
Al, sudah mau meledak.
"Kenapa disini? Kenapa bukan di rumah sakitku? Kamu sahabat terdekatku juga menghianatiku?'' sungut Al.
Clinton jadi merasa bersalah, begitu juga Clara.
"Maaf, Al. Tapi gak tahu kenapa Clara pengennya disini,'' jelas Clinton.
"Ya kak Al, Clara cuma mikir kalo Kak Gabriel kan Dokter kandungan hebat jadi lebih memilih yang memang kenal dan dekat aja. Tidak bermaksud apa apa, Kak.'' Clara ikut membujuk tapi Al menepis semua itu dan melongos pergi begitu saja, ketika Yesline sudah kembali membawa dompetnya.
"Hah!! Hebat, dia pikir Dokter kandungan di rumah sakitku, enggak hebat?'' batin Al.
__ADS_1
"Dokter kandungan di rumah sakitku, juga hebat hebat!!'' sahut Al yang langsung meninggalkan mereka.
"Ayo pulang sekarang,'' kata Al kepada Yesline. Melihat Al yang tiba tiba jutek membuat Yesline bingung, tapi bertanya kepada Al disaat seperti itu juga tidak mungkin dijawab. Clinton dan Clara saling bertukar pandang, Dia merasa tidak enak dengan Al.