Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 291


__ADS_3

Nisa berjalan ke arah ruangan Meriam, dia membawa buket bunga mawar asli kesukaan Meriam. Nisa berniat menyambut kedatangan Meriam yang sudah mulai masuk kerja lagi. Wajah Nisa nampak sangat bahagia, sampai dia melewati sebuah ruangan yang pada dinding luarnya di pasang televisi yang di gantung sedikit lebih tinggi. Banyak para pengunjung yang melihat siaran live itu.


Nisa ikut tertarik dan menghentikan langkahnya sejenak sambil ikut menonton.


Bukankah itu rumah sakit terkenal dan paling bagus itu? Yang menjadi saingan di rumah sakit ini. Kenapa dia bilang rumah sakit itu melakukan malapraktik dan akan ditutup?


Aneh!


Nisa yang tiba tiba melihat Meriam keluar dari ruangannya dengan terburu buru langsung mengejarnya.


"Hai, mau kemana? Aku baru saja mau menyambut kamu. Lihat aku bawa bunga," kata Nisa sambil menunjukkan bunga yang ia bawa.


Meriam tersenyum, dia menerima bunga itu.


"Terima kasih ya. Tapi aku mau pergi dulu, lagi buru buru nih," seru Meriam yang menepuk pundak Nisa dan berlalu pergi.


"Mau kema----"


"Dah....."


Nisa melongo tidak mengerti, baru juga mau bertanya tapi Meriam sudah melenggang pergi. Perhatian Nisa dikejutkan oleh aksi Meriam yang tiba tiba memberikan bunga darinya ke seorang laki laki yang baru saja masuk melewati pintu lobby.


Itu Rizky.


"Meriam!!!!'' teriak Nisa kesal. Dia mengejar Meriam yang langsung berlari sambil meledek Nisa.


"Selamat bertemu dengan calon imam, Nisa!!!" canda Meriam kepada Nisa. Membuat pipi Nisa merah padam. Nisa yang sudah berdiri di depan Rizky hendak merebut bunga itu lagi. Tapi dengan sigapnya Rizky menghindar dan mengangkat tangannya yang memegangi bunga tinggi tinggi.


"Rizky, itu bukan buat kamu balikin enggak? Mau aku tonjok nih?!'' ancam Nisa, tapi bukannya takut Rizky malah dengan sengaja mendekatkan pipinya ke wajah Nisa.


"Nih, silahkan kalo mau nonjok," tantang Rizky. Dengan senyum mengejek. Nisa semakin geram. Dengan sekuat tenaga dia menginjak kaki Rizky dengan sepatu hak tingginya.

__ADS_1


Rizky meraung kesakitan, sampai matanya menyipit.


"Sial!''


"Syukurin!!! Weeekkk....," ledek Nisa sembari mengambil buket bunga itu lagi dari tangan Rizky dan berlari menjauhi Rizky.


"Aish.... Sialan kamu Nisa!" umpat Rizky kesal, sambil mengejar Nisa yang tertawa puas menyaksikan kesakitan Rizky.


********


Mungkin ini sudah siang, cahaya matahari menyelinap masuk ke dalam kamar Yesline, menyilaukan mata wanita yang tengah terbaring miring menghadap dinding kaca kamarnya. Wanita itu mengerjapkan matanya, menguceknya sesekali.


Aroma ini?


Dengan mata terpejam Yesline bisa mencium dengan jelas wewangian yang biasa ia pakai di dalam kamar pribadinya dengan Al.


Perlahan ia membuka mata, silau sinar matahari membuat matanya menyipit. Ya, ditambah warna gorden yang ia lihat, itu bukan warna gorden rumah sakit.


Namun, kepalanya yang masih terasa berat juga pusing membuatnya masih belum menyadari semua hal yang masih terasa aneh. Dia ingat semalam dia masih berada di rumah sakit, menunggu Azka yang masih tertidur, bau obat obatan di sana masih sangat menyengat meski dia sudah menyemprotkan pewangian khusus di kamar Azka.


Jika dia sekarang berada di dalam kamarnya apa itu berarti Al membawa dirinya juga Azka pulang ke rumah mereka? Apa terjadi sesuatu?


Keadaan kepalanya yang masih berat membuatnya belum bisa bergerak dengan normal. Dia menggerakkan tangannya merabah permukaan kasur di sebelahnya, berharap menemukan Al. Namun tidak ada yang ia temukan. Di sebelahnya kosong. Dia hanya menyentuh udara kosong.


Keadaan itulah ayang membuat Yesline memaksa kesadarannya untuk kembali pulih. Dia bangun dan langsung duduk. Menatap kesekeliling.


Dia memang berada di dalam kamarnya dan itu sendirian.


Yesline berlari ke kamar mandi, mungkin Al ada di sana. Tapi, tak juga ia temukan kecuali ruangan kosong.


Yesline tidak berhenti disitu. Dia berlari membuka pintu kamarnya dan berlari keluar kamar. Berlari ke samping untuk mengecek kamar Azka. Nafas Yesline tersengal sengal, dia sangat panik menyadari dirinya yang tiba tiba berada di dalam kamar tanpa Al.

__ADS_1


Dengan sekali dorongan, pintu kamar Azka terbuka dan Yesline hanya menemukan Azka yang terbaring di atas kasurnya. Matanya masih terpejam dengan tangan kanannya yang masih diinfus. Yesline menghampiri sang putra dan memastikan bahwa Azka baik baik saja. Dia memang baik baik saja, jantungnya berdetak normal dan dia hanya tertidur. Melihat kondisi Azka yang baik baik saja membuat Yesline lega.


Tapi.


Kini pikiran Yesline kembali ke Al, dimana suaminya berada? Dan siapa yang membawanya dan putranya ke rumah mereka sendiri?


"Yesline, kamu sudah sadar?" tanya sebuah suara. Yesline kaget, dia langsung menoleh dan melihat Clinton sudah berdiri di ambang pintu kamar Azka.


"Mas Clinton?!'' pekik Yesline. Dia menghampiri Clinton, menarik tangannya untuk keluar dari kamar Azka, Yesline menutup pintu, dia tidak mau tidur putranya terganggu.


"Mas, dimana Mas Al? Aku tidak melihat dia semenjak aku bangun, apa dia yang membawaku dan Azka kesini? Apa lali dia ke rumah sakit dan menitipkan kamu kepadamu Mas?!" cecar Yesline.


Belum sempat Clinton menjawab. Yesline melanjutkan spekulasinya. Yesline tertawa ringan. "Setiap masalah mendesak seperti itu Mas Al selalu merepotkanmu, Mas! Maaf ya! Aku nanti akan bicara dengan Mas Al kalo dia sudah pulang. Untuk tidak perlu lagi merepotkanmu karena sekarang kamu sudah punya Clara yang perlu kamu jaga juga, beda dengan dulu yang masih sendiri. Lebih baik sewakan bodyguard baru, gimana?'' cicit Yesline, wajah panik yang Clinton jumpai sebelum dia datang kini sudah berubah ceria lagi.


Dia sungguh tidak tega menghapus senyum ceria itu dari bibir Yesline.


Yes, ketangguhanmu selalu di uji. Tapi kali ini sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu pun tengah di uji. Mampukah dirimu bertahan, Yes? Mampukah kamu mengalahkan ketidakadilan ini dan kembali menulis kebahagiaan untuk keluarga kecilmu?


Yesline, wanita yang tangguh juga baik yang aku kenal.


Jangan menyerah dan putus asa, Yes. Kami tidak sendirian. Percayalah, kami ada saudara tak sedarahmu yang siap berkorban apapun.


Clinton membisu, lidahnya kelu dan kepalanya terasa berat untuk sekedar menatap ke arah Yesline. Sesuatu yang ingin ia sampaikan pasti akan membuat wanita itu syok.


Yesline menyadari bibir Clinton yang tertutup rapat. Kening Yesline mengerut, dia memperhatikan Clinton yang terdiam dan tidak merespon kalimat panjang yang ia utarakan.


"Mas Clinton? Apa kamu melamun? Kamu dari tadi tidak memperhatikan aku, Mas? Aish.... Apa ada sesuatu yang sedang ingin kamu katakan Mas?" selidik Yesline.


"Mas!'' Yesline sampai menggoyang lengan Clinton, dan laki laki itu hanya mengangkat kepalanya lalu perlahan menatap Yesline.


"Sebenarnya---"

__ADS_1


"Yesline!!!!" teriak sebuah suara yang langsung menarik perhatian sang pemilik nama.


__ADS_2