
Al langsung membuka ponsel itu dan melihat satu nomor yang beberapa jam lalu saling mengirim pesan dan teleponan. Al langsung screnshoot semua yang ada disana dan menyinpannya di ponselnya.
Dia mencoba menghubungi nomor itu lagi.
" Pinjam ponsel Kamu Hans ... " kata Al. Hans langsung memberikan ponselnya. Saat Mereka sibuk melihat ponsel itu, Tiba tiba Seseorang mendekat.
" Bang Al ... Dari tadi aku cariin ternyata disini ... "
Al sangat kaget dan melihat ternyata Rizky. Anak ini memang sangat suka mengikutinya dari dulu. Mata Al menatap layar ponselnya. Dia harus tau siapa bos itu.
" Ngapain Kamu nyariin Aku ??? " tanya Al ketus tanpa melihatnya. Dia sibuk menekan ponsel itu dan menghubungi nomor tadi.
" Nelpon siapa sih Bang ??? " cetus Rizky pensaran dan sedikit mengintip ke arah Al. Al mendorong tubuh Rizky dengan sigap untuk menjauh dan tangannya menaruh ponsel itu ke telinganya. Menunggu jawaban dan tidak jauh dari tempatnya berdiri terdengar suara ponsel dan getarannya.
Al dan Hans kaget karena itu begitu dekat. Reflek tangan Al meraba saku Hans dan tidak ada jawaban yang ditemui. Al sangat kecewa karena yanga ada didepan ruangan itu hanya Dia, Hans dan ....
Al dan Hans saling melihat secara bersamaan dan langsung menatap tajam sama Laki Laki didepannya itu.
" Rizky. "
Rizky sangat gelagapan saat ponselnya berdering.
" Sial !!!! " gumamnya dalam hati.
" Kenapa ponselnya bisa sama Al ??? Bisa ketauan Aku sama Al .... " gumamnya panik.
Dengan cepat tangan Rizky langsung masuk ke kantong celananya untuk berusaha meredam suaranya. dengan cekatan Rizky mengambil ponselnya menekan tombol power hingga benar benar mati dan suara getaran itu benar benar berhenti. Lalu berpura pura menerima panggilan dari Seseorang.
Dengan ekspresi yang dibuat buat seakan akan kebelet.
" Aku ke toilet dulu Bang ... Aku kebelet ... " dengan menggenggam erat ponselnya lalu mundur perlahan menjauhi Mereka.
" Iya halo ... iya iya ... Nanti Saya telepon lagi. " jawabnya lalu memutar tubuhnya dan berjalan normal layaknya seperti berbicara dengan Seseorang di telepon.
Berharap Al tidak mencurigainya. Karena Dia tidak ingin ketauan. Tujuannya masih belum tercapai. Rizky terus berjalan meninggalkan Al dan Hans.
Al kembali menelpon nomor itu. Dia ingin memastikan apakah itu benar benar Rizky.
Nomor itu masih tersambung karena dilayar ponsel Al tertulis jelas berdering berarti panggilan tersambung. Al menatap tajam ke arah Rizky begitu juga Hans.
Dari kejauahn Rizky terlihat merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Jemari Rizky tiba tiba menyentuh layar ponselnya dan panggilan terputus.
" Sial !!!! Ternyata benar, Itu Kamu !!! " cetus Al dengan emosi dan hendak melempar ponselnya tapi Hans langsung menahannya.
Al duduk lemas diruang tunggu RS itu. Hans juga sangat bingung mau berbuat apa ternyata kehidupan Al tidak seperti yang Dia bayangkan. Mau tidak mau Yesline terkena imbasnya. Tapi Hans tidak bisa melakukan apa apa.
Hans melihat Al bingung dan tidak berusaha untuk menghentikan Rizky. Padahal Dia sudah tau semuanya. Membuat Hans tidak sabar.
" Kamu mau Aku mengejarnya ,Al ??? " tanya Hans karena tidak mau hari ini berlalu begitu saja dan bagaimana jika Rizky kabur ???
Al menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya kasar.
" Biarkan saja dulu. " jawabnya dengan serasa semua yang Dia pikirkan terhadap Rizky ternyata salah besar.
" Kalau Dia kabur bagaimana ??? " bentak Hans berusaha menahan suaranya agar tidak keras.
" Aku benar benar tidak menduga bahwa Rizky terlihat, Hans. Dia selama ini baik. Hubungan Kita baik baik saja. " jawab Al.
Hans lalu duduk disamping Al.
" Abaikan emosi itu. Aku sudah terbiasa menghadapi kasus kasus seperti ini. Wajah wajah penjahat memang memiliki dua sisi dan itu biasanya yang akan mengecohmu. Kamu Laki Laki !!! Kenapa Kamu terbawa perasaan ??? Buktikan lagi, Telepon nomor itu sekarang dan jangan membiarkan kesempatan itu berlalu sekarang !!! " kata Hans sedikit geram dan memukul lengan Al dengan sedikit keras membuat Al berdiri tapi tidak marah seperti biasanya.
Entah sejak kapan, Hans menjadi sangat peduli. Berbicara dengan Al layaknya sudah berteman dan bertemu lama. Padahal sebelumnya Mereka musuhan dan baru saja menjalin kerja sama antara Klien dan Pengacara.
" Kamu tega menghianatiku, Rizky .... " kata Al geram. Dia mengepal tangannya dengan penuh emosi. Dadanya panas terbakar karena emosi yang sudah membara. Sekuat tenaga Al menahannya, Dia akan memberi Rizky pelajaran. Matanya melotot ke arah Rizky yang sudah tidak terlalu kelihatan.
" Al !!!! " bentak Hans lagi.
" Kamu harus tegas demi Yesline !!! Jika tidak Aku akan membawa Yesline dari kehidupanmu. Aku tidak mau Dia selalu berada dalam bahaya !!! '' Hans berdiri dengan berani berjalan melewati Al hendak membuka pintu kamar Leni.
" Jangan lancang Kamu Hans !!! " bentak Al. Menarik tubuh Hans menjauhi kamar itu.
Hans menatapnya heran. Dia tau cinta Al untuk Yesline begitu besar tapi terlalu banyak tekanan dan emosi yang mempermainkan hidup Al. Membuat Laki Laki itu ragu untuk mengambil langkah.
Hans hanya ingin memperingatkan Al untuk kesekian kalinya. Jika tidak, Dia mampu membawa Yesline dan menjaganya.
" Aku punya rencana sendiri. " jawab Al tegas dan mengatur nada bicaranya senormal mungkin.
" Baiklah. Apa rencanamu setelah tau Rizky terlibat ??? "
" Aku tidak berniat memberi tahumu. " cetus Al dan kembali duduk mengabaikan Hans yang masih penasaran.
**********
Erwin duduk menikmati minuman yang ada di depannya. Disekelilingnya ada beberapa pengwalnya, berdiri berjejer disetiap sudut lapangan dang pintu masuk. Begitu banyak pengawal yang Dia sewa untuk menjaganya.
__ADS_1
Salah satu pengawalnya yang juga merupaka kaki tangannya melaporakan setiap pergerakan permainan yang Dia ciptakan. Seorang Wanita dengan berpakaian ketat memperlihatkan keindahan tubuhnya yang sedang asyik menyuapi potongan buah ke mulut Erwin. Laki Laki separuh baya itu bak raja dengan banyak selir yang siap melayani semua kebutuhannya.
" Pantau Mereka terus, terutama Callista dan Papa Al, selama tindakan mereka tidak membahayakan namaku maka biarkan saja. Tapi jika sebaliknya, lakukan apa yang perlu kamu lakukan. " jawab Erwin dengan santai.
" Bagaimana dengan Dokter itu ??? Sepertinya Dia tidak mempercayai bukti bukti palsu yang Kita kirimkan. " jawab Pengawalnya itu.
" Hmm..... Tidak apa apa. Setidaknya, Dia tahu bahwa Papanya bersekongkol dengan Callista. Kita hanya perlu menuangkan minyak lagi agar api semakin membesar. " kata Erwin tertawa. Membuka sedikit pahanya, membiarkan Wanita yang berdiri disampingnya duduk manja diatas pahanya.
Wanita itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Erwin sambil menciumi bibir Erwin dengan mesra. Laki Laki itu kegirangan dan meremas dada Wanita itu. Lidahnya merasai tiap jengkal bibir mungil itu dengan nikmat.
Erwni bnagkit berdiri mengangkat tubuh ramping itu, menggendongnya denga masih tetap berciuman.
" Jika Papa Al sudah sampai, kabari segera. Saya mau bermain bentar. " kata Erwin disela seal ciumannya.
" Baik Pak. " jawabnya sambil membungkukkan badannya memberi hormat ke Tuannya itu.
Papa Al masih dalam perjalanan menuju ke tempat Erwin. Sebenarnya Dia ingin mengajak Nicho untuk menemaninya, Tapi berkali kali ditelepon tetapi tidak ada jawaban.
" Entah kemana pergi Anak itu !! " gumam Papa AL.
Akhirnya Dia memutuskan untk pergi sendiri, Erwin tidak akan terang terangan mencelakainya. Meski Papa Al sempat mencurigai Erwin atas tragedi penembakan itu. Namun, Papa Al tidak memiliki bukti. Nicho juga belum menemukan bukti apa apa, jadi Papa Al pikir siapa tau nanti ditempat Erwin Dia sedikit mendapat informasi.
" Lebih cepat sedikit Pak. " perintahnya ke Supirnya.
" Baik Pak. "
Mobil melaju sedikit kencang karena jalanan kumayan sepi juga. Setelah belok kiiri di perempatan depan, Mereka sudah sampai. Mobi; berhenti.
Lokasi lapangan golf ini berada di tepi hutan menghadap laut. pemandangan yang disuguhkan begitu indah. Setau Papa Al, disini juga disediakan penginapan.
Supirnya turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu untuk Papanya Al. Lalu lelaki paruh baya itu turun, dan meminta supirnya untuk menunggu dimobil. jika ber jam jam Dia tidak keluar, Dia memintanya untuk menelpon Polisi. dan supirnya pun mengangguk.
Papa Al berjalan menghampiri buggy car dan sudah ready untuk mengantarnya. Mobil yang khusus digunakan para pemain golf itu membawanya mengitari hamparan lapangan yang luas. Dari kejauhan, Al melihat Orang Orang Erwin berjejer rapih. Mobil itu berhenti di dekat penginapan yang memang disediakan sebagai salah satu fasilitas bagi pe golf yang ingin menikmati pemandangan laut sore hari yang indah bersama keluarga. Papa Al turun dari mobil dengan memegang tas golfnya sembari memakai sarung tangan.
Salah satu pengawal Erwin menghampirinya dan mempersilahkannya duduk.
" Silahkan tunggu sebentar, Pak Erwin akan segera datang kesini. " kata Pengawal itu. Tangannya mengangkat ponselnya untuk menyuruh Rekannya menjemput Bosnya itu.
" Oke. " jawab Papa Al singkat.
Dia tidak berniat minum minum dan duduk. Sudah lama Dia tidak meregangkan ototnya untuk bermain golf. Papa AL meletakkan tas nya disamping bangku, Dia berdiri membelakangi meja meraih tongkat dan bola golf miliknya sembari berjalan beberapa meter ke depan.
Badannya membungkuk, meletakkan bola golf itu dan sedikit menatap dan memperkirakan jarak hole di depannya. Perlahan mengayunkan tongkat golfnya bersiap dan memukul bola. Bola itu berguling ke depan dan tepat sasaran. Masuk ke dalam hole dengan sempurna.
Dari belakang tubuhnya, Seseorang bertepuk tangan.
Papa Al melihat Erwin sudah berdiri di sampingnya dengan membawa tongkat golf di tangannya. Membahas soal tembakan sepertinya Erwin sedikit menggertak Papa Al, Jika lain kali tembakan itu tidak akan meleset. Seseorang mengambilkan bola golf baru untuknya, Dia bernita untuk menembak lagi. Tidak mempedulikan Erwin.
Papa Al sudah bersiap untuk mengambil ancang ancang dan meniru seperti permainan yang dilakukan oleh pemain golf profesional dan sengaja ingin menunjukkan keahliannya ke Erwin untuk kedua kalinya bisa memasukkan bola ke dalam hole.
" Teknik terbaik hanya akan bisa dilakukan oleh para Ahli, Mereka tidak pernah salah sasaran. Yang tidak ahli, jangan pernah mencoba. Dipastikan akan selalu gagal. " cetus Papa Al membuat Erwin tertawa.
" Kamu memang hebat, Seharusnya Kamu harsu selalu bersikap baik agar bisa menikmati masa tuamu dengan bahagia. Jangan sampai tutup usia jika belum waktunya. " kata Erwin. Tangannya menepuk bahu Papa Al pelan. Namun matanya memberikan tatapan arti yang berbeda. Papa Al langsung membalas tatapan itu.
" Umurmu lebih muda dariku, Jagalah gaya hidupmu jangan terlalu banyak memakan harta haram yang mengandung kolestrol tinggi, itu bisa memicu serangan jantung. Jangan membuatku repot dikemudian hari karena harus membedah jantungmu itu. " kata Papa Al sedikit mengancam balik.
Telihat jelas Erwin tidak menyukai kata kata itu. DIa memukul bola golf dengan sangat kencang hingga melambung tinggi keluar area. Melihat itu Papa Al tersenyum.
" Sial !!!!! " gumam Erwin kesal.
" Berani juga Pak Tua ini mengancamku. Awas saja kalau waktunya tiba. Aku akan pastikan tanggal kematiannya. " gerutu Erwin dengan kesal dan sedikit marah.
Papa Al semakin yakin, memang Erwin lah yang mengancam hidupnya. Dia memang berambisi tapi tidak sejahat Erwin.
" Baiklah, Kita minum dulu. " Erwin merangkul Papa Al mengajaknya untuk duduk.
Setelah Mereka duduk berhadapan, Erwin mengangkat tangannya ke arah pelayan untuk menuangkan minuman.
" Minumlah dulu. "
Papa Al tidak menuruti Erwin, Dia memilih mengambil air mineral dari dalam tas golfnya, meneguknya hingga habis.
" Hahahaha .... Kamu takut kalau Aku akan meracunimu ??? "
" Belum waktunya. " katanya kembali disela sela tawanya itu.
" Aku sudah berhenti mengkonsumsi minuman manis. " jawabnya beralasan.
" Oke oke .... " jawab Erwin dengan masih tertawa.
" Aku ingin memberitahumu satu hal. " kata Erwin tiba tiba serius membuat Papa Al memperhatikannya.
" Aku tidak pernah gagal dalam mecapai tujuanku. Jadi ..... Bersiaplah untuk kalah !!!! " cetusnya meneguk minumannya hingga habis.
*********************
__ADS_1
Malam sudah larut dan Club Alexiz semakin ramai pengunjungnya. Tapi tidak untuk malam ini. Mami dengan dandanan menor dan seksi bersiap menyambut tamu istimewanya. Hari ini menurut Anak buahnya, ada tamu VVIP yang membooking beberapa Primadonanya. Mami sudah menyiapkan Mereka dengan sangat baik.
Menurut Info tamunya itu akan datang jam 11 malam setelah club dikosongkan. Tamu itu pun sudah membayar full biaya sewanya emmbuat Mami tidak keberatan untuk menutup clubnya lebih awal. Bagi Wanita itu yang penting adalah bayaran yang banyak dan untung yang banyak yang Dia miliki.
" Apa tamunya sudah Kamu hubungi ???? Katakan bahwa Anak Anakku sudha siap dan sudah menunggu dari tadi. " kata Mami ke salah satu pegawainya semabri melirik jam tangannya karena sudah lewat dari jam yang ditentukan.
Beberapa saat Mami merasa jenuh karena terlalu lama menunggu, Akhirnya datang beberapa Laki Laki dengan menenteng koper ditangan Mereka.Meski Mami merasa sedikit aneh tapi Dia tetap berusaha memasang sneyum indah di wajahnya. Mami langusng menghampiri Mereka dengan gaya genitnya seperti Wanita malam yang menggoda.
" Mari mari sini duduk. " Mami menuntun Mereka untuk duduk di sofa lalu meminta Pegawainya untuk membawakan minuman serta memanggil Wanita Wanita yang sudah disiapkan itu. Mata Mereka melotot Wanita Wanita seksi itu dan tidak sabar akhirnya langsung masuk ke kamar masing masing.
" Selamat bersenang senang iya .... " kata Mami semabri melambaikan tangannya.
" Siap Mi. "
Kini Mami duduk sendirian di sofa, meminta minuman pada salah satu pegawainya. Tak lama minuman itu hendak diantar, tiba tiba Seseorang menawarkan diri. " Biar Saya saja. "
Mami menoleh dan mengenali suara itu.
" Clinton????? " Mami sedikit kaget dan terkejut.
" Halo Mi .... Apa kabar ??? Saya kangen main kesini. " kata Clinton dan meletakkan minuman itu diatas meja. Dia langsung duduk dan menghadap Mami.
" Tumben Kamu main kesini ???? " tanya Mami merasa aneh.
" Saya kesepian Mi. Mami bisa temani Saya malam ini ??? " bisik Clinton ditelinga Mami sembari jari telunjuknya bergerak liar menyentuh leher Mami membuat Wanita itu sedikit memejamkan matanya dan mulai menikmati sentuhan itu.
" Oke. siapa takut. Harus bayar double iya ??? " tantang Mami mengedipkan mata dengan genit kepada Clinton.
" Siap Mi. " Clinton langsung menarik tubuh Mami lebih dekat kepadanya. Menyentuh pundak Mami dan menariknya kedalam dekapannya. Bibirnya mengecup bahu Mami dengan lembut. Clinton terus menciuminya hingga ke leher dan berakhir pada bibirnya.
" Mami gak mau ngajak Aku ke kamar ??? " goda Clinton denngan genit. Sengaja menghembuskan nafasnya di leher belakangnya membuat Mami bergelinjang.
" Ayo .... Sayang .... " Mami langsung berdiri meraih tangan Clinton dan membawanya memasuki sebuah kamar. Clinton tidak lupa membawa minuman Mami tadi.
Clinton melempar tubuhnya di atas kasur, menopanng tubuhnya dengan tangan dan memandang Mami yang sedang menari bersenang senang, melepas pakaiannya satu persatu. Tubuhnya begitu menggoda meski usia Mami sudah tidak muda lagi. Clinton menikmati goyangan Mami dan buah kembar itu terlihat sempurna. Ketika Mami mencondongkan tubuhnya kedepan, dengan posisi menunduk dan membelakangi Clinton sehingga memperlihatkan bokongnya yang menantang.
Itu telihat begitu jelas membuat milik Clinton langsung berdiri tegak. Wanita didepannya itu sengaja memainkan belahan surgawinya di depan Clinton membuat CLinton tidak tahan lagi. Dia bangkit mendekati Mami dan jemarinya menyentuh tubuh Wanita itu dan meremasnya serta menciumi dengan penuh nikmat membuat Mami mengeriang panajng, menikmati setiap permainan Clinton.
" Ahh ...... Terus Sayang .... Ayooooo ... " katanya memaksa dan sedikit menahan Clinton utnuk menikmati setiap indanya tubuhnya.
Clinton menghentikan permainannya dan memutar tubuh Mami serta membaringkannya dilantai dan memainakn buah kembar miliknya. Mami mendesah dengan brutal.
" Nikmat Mi ??? " tanya Clinton disela sela desahannya. Mami mengangguk.
" Mami minum dulu iya ??? Nanti Aku masukin. " kata Clinton yang masih mengenakan pakaiannya dan belum melepasnya sama sekali dan berbisik di telinga Mami.
" Baiklah. " jawab Mami tanpa curiga sedikit pun karena Dia sudah sangat menikmati.
Clinton berdiri dan mengambil minuman yang ada diatas meja itu dan memberikannya ke Mami. Wanita itu tidak mau menunggu lama dan meneguknya langsung hingga habis.
Sambil menunggu reaksi obat itu bekerja, Clinton kembali membaringkan tubuh Mami di lantai. Clinton sudah menaruh obat di minuman Mami dan itu akan membuat Orang yang minum itu memberikan semua informasi yang ingin Clinton ketahui tentang pembunuhan Mam Yesline. Clinton ingin mengorek informasi dari Mami.
Saat Clinton sudah mulai beraksi lagi membuat Mami terpingkal pingkal menikmatinya, Wanita di depannya itu sudah menunjukkan tanda tanda bahwa obat itu sudah bekerja. Sembari terus membuat Mami merasa nikmat, Clinton sembari menanyakan semua hal yang ingin Dia ketahui. Dan benar, Mami mangatakan semuanya. Dia terlibat dalam pembunuhan itu, Callista membayarnya untuk mengecoh Mereka yang lagi berada di kantin saat itu. Sementara Rizky sendiri yang akan menangani Mama Yesline. tapi Rizky ingin bermain aman, Dia memberikan tugas itu kepada orang lain.
Obat itu hanya bekerja beberap menit saja dan Clinton dengan sigap merekam semua perkataan Mami dengan ponselnya. Clinton memindahkan tubuh Mami ke ranjang dan DIa bergegas meninggalkan club dan membayar Seorang Pegawai club yang menghapus rekaman CCTV dan memberikan sejumlah uang dan meminta Orang itu untuk pergi dari sana. Clinton tidak ingin Mami menyadari kedatangannya.
Demi mendapat informasi itu, Clinton rela menikmati tubuh Emak Emak. Meski tubuh Mami juga masih indah tapi Dia tidak benar benar ingin melakukan itu dengannya.
***********
Ponsel Yesline tiba tiba berdering.
" Aku angkat telepon dulu iya. " katanya ke Leni dan mengerutkan keningnya saat melihat nomor baru dan Dia tidak tau itu siapa.
Yesline melempar senyum ke Leni yang dari tadi memperhatikannya. Yesline menarik nafasnya dan mengangkatnya.
" Hallo .... " kata Yesline.
" Maafkan Aku Yes .... " terdengar suara penelpon itu terisak dan sepertinya Yesline mengenali suara itu.
" Callista ..... "
" Tapi ..... Kenapa Dia tiba tiba menangis ???? Ingin memperdaya Aku lagi ???? "
" Kenapa Kamu minta maaf ??? '' tanya Yesline datar dan tidak ingin percaya dengan air mata buaya itu.
" Aku akui, AKu salah. Aku sudah melakukan banyak kesalahan sama Kamu, Aku ingin mengatakan ini langsung saat Kita berdua bisa ketemu, Tapi ..... Pasti Al tidak mengijinkannya. AKu sadar, Semua yang kulakukan sia sia, Yes .... "
" Aku ingin menerimamu, membayangakan Kita bisa hidup berdampingan bertiga dalam satu rumah. Bersama sama merawat Al, Pasti lebih membahagiakan daripada saling berselisih seperti sekarang ini. "
Mungkin yang dikatakan Callista itu sedikit bijak, seperti Istri pertama yang baik tapi kata kata itu menusuk jantung Yesline begitu dalam, Serasa nyeri sekali meski dari awal posisinya memang sebagai Istri kedua. Tapi mendengar itu, Seakan akan Dia yang berhati baik dan berlapang dada menerima Yesline sebagai Pelakor, Padahal .....
Yesline masih belum menjawab.
" Kita bisa bersama sama mencintai AL, Membuat Dia bahagia. Aku berjanji akan berubah Yes .... Tolong jangan sakit hati dengan perkataanku. AKu sudah lelah dengan semuanya, Aku baru sadar bahwa Aku juga mencintai Al. Aku tidak bisa hidup jika tanpa Dia, Yes .... Kita sama sama Wanita, Aku yakin Kamu bisa memahamiku. Maafkan Aku Yes .... Pertimbangkanlah apa yang Aku katakan. Kita bisa hidup bersama tanpa kehilangan apapun. Itu akan adil untuk semua. " kata Callista.
__ADS_1
Yesline bingung, tiba tiba air matanya mengalir dan dadanya sakit. Callista memang tidak memintanya untuk meninggalkan Al atau menggugurkan kandungannya lagi, Tapi Dia meminta satu hal yang lebih dari keduanya itu. Berbagi Suami.