Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 189


__ADS_3

Hari itu, Yesline baru saja mengantar Azka ke sekolahnya yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Yesline memiliki supir pribadi yang khusus untuk mengantar kemana pun dirinya mau pergi. Yesline membuang pandangannya ke jendela.


Entah kenapa dia tiba tiba mengingat sahabatnya, Suzan. Mereka terakhir kali ketemu sebelum Yesline lahiran dulu. Sudah lima tahun berlalu. Bagaimana kabarnya kini?


"Apa Suzan masih bekerja di klub?''


Yesline menatap jalanan kota jakarta yang saat itu masih lengang. Sampai mobil berhenti saat lampu merah. Yesline masih melihat ke luar jendala.


Yesline masih terus mengarahkan pandangannya ke luar jendela, di balik kaca itu dia bisa melihat siapa wanita yang kini tengah dibonceng oleh tukang ojek. Wanita itu mengenakan helm, namun kacanya tidak ia turunkan. Yesline mengenali wajah itu.


"Hei, Suz---!" pekiknya, Yesline berteriak memanggil Suzan tapi sepeda motor yang membawa temannya itu sudah melesat pergi karena lampu merah sudah berganti hijau. Yesline menurunkan kaca mobilnya, Dia melihat ke arah Suzan yang sudah melewati beberapa mobil di depan.


"Suzan mau kemana?'' Yesline mulai memikirkan temannya. Mereka terakhir bertemu saat Yesline bertemu Gabriel juga di klub.


"Pak, bisa kita ikuti sepeda motor yang di depan itu?'' tanya Yesline kepada supirnya sambil menunjuk sepeda motor yang ia maksud.


Supir itu mengangguk dan langsung melesatkan mobilnya, melewati beberapa mobil yang ada di depannya. Yesline memfokuskan pandangannya ke arah Suzan. Dari arah kejauhan dia bisa melihat gaun merah Suzan yang bergerak karena diterpa angin.


"Ah, Suzan, mau kemana kamu? Aku kangen." batinnya.


Mereka kembali melewati lampu merah, mobil Yesline berhenti tapi Yesline melihat Suzan menepuk pundak tukang ojek itu, lalu sepeda motor itu melaju lurus ke depan. Menerobos beberapa kendaraan yang berhenti mentaati peraturan lalu lintas.


"Sepertinya dia terburu buru." lagi lagi Yesline hanya bermonolog dengan dirinya sendiri.


Mereka kehilangan jejak.


"Sepeda motornya sudah gak kelihatan, Bu. Apa kita akan tetap cari?"


Yesline mengangguk.


"Coba kita ikutin ke arah sepeda motor tadi, Pak. Saya benar benar merindukan teman saya." ujar Yesline.


"Baik, Bu."


Mobil mengambil arah sesuai yang di ambil Suzan, Yesline menurunkan kaca mobilnya. Sembari mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Suzan. Namun, nihil. Tidak ada balasan, nomor itu tidak aktif.


Mata Yesline mengekor ke segala arah, dia ingin mencari sosok sahabatnya itu.


*****

__ADS_1


Di rumah Meriam.


Beberapa keluarga besar Wisnu sudah duduk dengan rapih di dalam ruang tamunya yang begitu luas dan mewah itu. Meriam mengintip dari balik gorden. Dia sudah didandani secantik mungkin. Seperti mau ada lamaran. Padahal dirinya sedang tidak ingin menanggapi kelakuan Wisnu.


Laki laki itu beberapa kali mengulas senyum. Wajahnya terlihat ramah, Namun saat melihatnya Meriam tidak merasakan getaran yang dia rasakan seperti saat melihat Hans.


"Hari ini, anak saya akan memberikan jawabannya, Nak Wisnu." kata Ayahnya, wajahnya nampak teduh.


Datang seorang wanita dengan balutan jilbab panjang berwarna putih. Dia menggamit lengan Meriam dan mengajaknya keluar. Meriam menurut saja sama Ibunya. Meriam didudukkan di samping Ayah dan Ibunya.


"Iya, Pak Kyai. Saya mengerti, saya akan menerima semua keputusan dari Meriam." Wisnu mengatakan itu dengan setenang mungkin.


"Silahkan, Nak." Ayahnya mulai berbicara kembali.


Meriam masih menundukkan kepalanya. Dia bingung. Beberapa detik kemudian, dia mengangkat wajahnya.


"Maafkan aku, Wisnu." Hanya itu kata kata yang lolos dari bibir Meriam. Dia sebenarnya tidak mau menyakiti hati siapa pun.


Wisnu terlihat termenung, kedua orang tua Wisnu dan keluarganya semua terkejut. Seharusnya tidak ada alasan yang membuat Meriam bisa menolak mereka. Ya, benar. Tidak ada alasan yang membuatnya menolak Wisnu kecuali Hans.


Laki laki itu memiliki pekerjaan yang mapan. Pintar dan agamanya juga bagus, kata ibunya Meriam malam kemarin saat Meriam berbincang dengan beliau.


"Maafkan, Aku. Aku sudah memiliki laki laki calon imamku sendiri, Wisnu." Meriam mengatakannya tanpa gentar.


Wisnu tertawa kecil, kini keadaannya terlihat tak teratur dan berantakan. Dari tawanya pun terlihat.


"Kamu masih menyukai laki laki itu?" Nada bicara Wisnu terlihat sedang meremehkan Hans.


"Aku mohon, mengertilah." ujar Meriam kembali.


"Nak," panggil ibu Wisnu.


"Iya, Bu." jawab Meriam ramah.


"Kini dia sepenuhnya menatap kamu, Nak. Terimalah dia, dimana kami akan menaruh muka kami karena lamaran ini kamu tolak?''


"Anak kami tidak kurang suatu apapun."


Meriam meremas ujung gamisnya.

__ADS_1


"Karena saya sudah mengajukan lamaran kepada calon imam saya, dan dia sudah menerimanya." Meriam menundukkan kepala lagi.


Tatapan di ruangan tamu itu mulai merasa aneh. Karena mendengar bahwa wanita duluan yang mengajukan lamaran untuk menikah.


"Nak Wisnu, yang akan menjalani hubungan ini adalah kedua keluarga. Jadi semua keputusan saya serahkan kepada Meriam." Ayah Meriam ikut berbicara.


"Bagaimana kalau kita adakan lomba?" tanya Wisnu.


"Lomba apa?" tanya Meriam balik.


"Lomba untuk dapetin kamu. Harusnya agar itu terasa adil bagiku yang sudah lebih dulu melamar mu, dan mengenalmu."


"Ini bukan sesuatu yang patut diperlombakan, Wisnu. Saya tidak mau." tolak Meriam.


Wisnu tersenyum sinis.


"Kamu memang sudah dari awal tidak menganggap ku. Kamu sudah berniat menolakku."


"Maaf, saya permisi. Saya sudah memberikan jawaban saya." pamit Meriam, dia mengatupkan kedua tangannya dan beranjak meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu!" suara Wisnu lantang, dia masih tidak ingin meninggalkan ruangan itu.


Sifat angkuhnya sudah mulai kelihatan.


Ayah dan Ibu Meriam, masih terdiam, membiarkan keduanya menyelesaikan masalah mereka.


Wisnu berjalan membungkuk melewati beberapa tamu dan mendekati Meriam yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Apa kamu dan Hans sudah melakukan hal tak senonoh? Hingga kamu begitu tidak bisa meninggalkannya?!" selidik Wisnu.


Meriam geram, matanya memerah, dia mengangkat tangannya dan menampar muka Wisnu di depan semua orang. Semua terkejut, menatap dua orang itu. Ayah Meriam bangkit dari duduknya. Ibunya tak sanggup putrinya dituduh seperti itu.


Wisnu meraba pipinya yang panas.


Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Meriam.


"Kamu tidak tahu apa apa. Jaga mulut busukmu itu. Aku tidak akan pernah menerimamu sebagai suamiku!'' tandas Meriam.


Mata Wisnu semakin memerah. Tanpa mempedulikan yang lain, Dia mencengkeram tangan Meriam dan membawa wanita itu pergi.

__ADS_1


"Wisnu! Lancang kamu!!" sentak Meriam, sambil berusaha terus melepas cengkeraman tangan Wisnu. Tapi ia tak berdaya. Wisnu menyeretnya ke dalam mobil. Sementara di belakang mereka, ayah dan ibunya mengejar dengan tatapan marah.


__ADS_2