Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 216


__ADS_3

"Rizky!!! Tunggu!!!" sebuah suara berteriak memanggil sosok yang duduk di ruang tunggu di bandara, di dekatnya ada Ibu dan Papanya yang juga duduk menunggu, Mereka sedang menunggu waktu penerbangan ke Singapura. Ya, Rizky hari itu akan ke Singapura.


Rizky yang memakai headset tidak menoleh maupun bergerak, Ibunya yang melihat seorang wanita terus berlari sambil tangan melambai tak henti menyebut nama putranya yang kini sibuk menatap layar ponselnya.


Ibunya gemas, Dia menarik lengan baju Rizky sampai laki laki itu menoleh menatap kearahnya.


"Ada apa, Ma?'' tanyanya dengan bingung.


"Tuh, lihat. Siapa itu yang datang...." matanya ibunya mengarah kepada wanita yang kini sudah berdiri di dekat Rizky dengan nafas ngos ngosan.


"Nisa? Ngapain kamu?"Rizky langsung menodong Nisa dengan pertanyaan menyudutkan. Ibu Rizky yang kasihan melihat Nisa, bangkit dari duduknya dan mendekati Nisa dengan membawa minuman yang masih belum ia minum.


"Makasih, Tante." ucap Nisa sambil menerima minuman dari Ibunya Rizky, Dia duduk berjongkok untuk meneguk isinya. Perlahan Nisa menarik nafas dan mengatur deru nafasnya.

__ADS_1


Sementara Rizky menatapnya dengan kesal, seperti punya penguntit yang cantik, tapi sayangnya, Rizky belum menyadari kecantikan Nisa.


Papanya yang memperhatikan muka Rizky berbisik di telinga putranya itu.


"Sepertinya, Dia naksir kamu. Kenapa wajah kamu jutek gitu? Dia cantik kok, dan sepertinya baik."


"Rizky gak nyaman di kejar kejar terus gitu, Pa."


"Ma...Maaf, Om, Tan, Bukan maksud Nisa gak sopan, Nisa cuma mau kasih ini ke Rizky. Emang Rizky mau kemana Om? Tadi saya ke rumah Om dan Tante juga Rizky pergi, Jadi aku ikutin naik ojek, tapi sempat tertinggal, untung aja si bapak pengemudinya melihat arah mobil Om dan Tante belok ke arah bandara, aku tadi cari muter muter bandara, Alhamdulillah ketemu juga," terang Nisa panjang lebar. Dia berdiri dengan tegap, berusaha mengontrol jantungnya yang belum juga normal ritme detakannya.


Ibu dan Ayahnya hanya terkekeh pelan, dipikiran mereka, Rizky butuh cewek periang ini, biar hidupnya gak kaku.


"Ish, konyol bangat kamu! Kenapa nguntit aku terus sih? Kan aku udah bilang sama kamu kalau aku gak suka sama kamu. Aku itu paling anti sama cewek yang gak tahu malu kayak kamu, pergi deh sana. Kamu itu beda dengan Meriam, jadi jangan samakan. Jangan berharap kamu bisa meluluhkan hatiku seperti Hans luluh dengan Meriam, karena sekali lagi kamu dan dia berbeda," Rizky kesal, saking kesalnya dia tidak mengontrol bicaranya yang terdengar kasar bagi Nisa atau siapapun yang mendengarnya.

__ADS_1


Ibu dan Ayah Rizky terkesiap, mereka sampai berdiri dari posisi duduknya saking terkejutnya. Nisa hampir roboh, matanya sudah basah, tapi ia seka air mata itu jangan sampai jatuh. Dia mengambil nafas dan tersenyum.


"Aku memang tidak sebaik Meriam, karena kamu juga tidak sebaik Hans. Mereka berjodoh karena memang cocok, dan kita juga cocok, karena itu Allah datangkan rasa suka ini untukku. Ya, kini masih baru aku saja yang merasakannya. Kamu belum. Terima kasih untuk kata kata mutiaranya. Akan aku ingat, kelak jika memang kita berjodoh, kita akan bertemu lagi, Rizky. Batu yang keras saja bisa berlubang hanya karena air. Apalagi hatimu yang hanya seonggok daging." tajam, mata Nisa menghujam kedalaman mata Rizky yang nampak menyesal telah mengatakan kata kata kasar itu, tangannya bergerak ingin menghentikan Nisa yang berlari membawa tangisnya. Tapi, egonya terlalu tinggi untuk sekedar memanggil nama gadis itu, lidahnya kelu.


Maafkan aku, Nisa.


Ibunya Rizky melihat ada sesuatu terjatuh dari genggaman tangan Nisa, sebuah amplop berwarna pink dengan stempel hati di depannya. Ibunya memungut amplop itu dan memberikannya kepada Rizky, karena Nisa sudah terlalu jauh menghilang di tengah hiruk pikuk pengunjung Bandara.


"Simpanlah, Baca jika kamu mau membacanya, dan kembalikan kelak kepadanya jika kamu enggan untuk tahu isinya." Ibunya menepuk pundak Rizky.


Rizky menerima amplop itu.


"Nak, terkadang kita salah menilai orang, karena keegoisan kita. Cobalah, untuk merenung dan lihat lagi, setulus apa hati yang baru saja kau lukai, dari matanya ia sangat terluka. Kamu Tau kan? Kalau kata kata itu bisa lebih tajam dari pada pedang? Jangan salah dalam berucap, ataupun bertindak, jangan sampai kamu sadar ia berharga setelah kamu kehilangannya." Ayahnya ikut menepuk pundak Rizky.

__ADS_1


__ADS_2