
Rizky mengejar Nisa yang terus berlari menghindari Rizky. Tapi laki laki itu berhasil menangkap pergelangan tangan Nisa sebelum dokter cantik itu berhasil menutup pintu ruangannya. Rizky terus menggenggam tangan Nisa sambil berjalan ke luar rumah sakit.
"Hei, lepasin tangan aku. Kamu mau bawa aku kemana?'' protes Nisa.
Semua mata pengunjung rumah sakit menatap mereka.
Konyol. Nisa menutup sebagian wajahnya dengan sebelah tangannya yang bebas. Dia malu, benar benar malu.
"Ikut aku ke suatu tempat. Enggak usah bawel!'' sentak Rizky seenaknya sendiri.
"Apa! kamu mau nyulik aku? Aku masih kerja, bisa di sp aku nanti kalo ngilang gitu aja. Lepasin!''
"Bukan nyulik. Siapa juga yang mau nyulik kamu. Aku cuma mau kamu obatin kakiku yang habis kamu injak. Kamu harus tanggung jawab. Nanti kalo saraf pada kakiku kenapa napa bagaimana hayo, kamu kan dokter saraf, mau aku tuntut karena menolak pasien dengan gangguan saraf?'' elak Rizky dengan alasan panjang lebar ngalahin rel kereta api.
What?
Nisa melongo, mendengar alasan Rizky yang tidak masuk di akal membuatnya tersenyum geli. Bagaimana mungkin orang yang terkena gangguan saraf pada kakinya bisa berjalan senormal itu?
Rizky..... Rizky.... Kamu itu ternyata lucu.
Nisa tertawa. "Bilang aja mau dekatin aku!'' Nisa menukas disertai tawa renyah miliknya.
Mereka sampai di depan mobil Rizky. Laki laki itu baru mau melepaskan genggaman tangannya. Menatap tajam ke arah Nisa.
Ditatap seperti itu membuat Nisa salah tingkah sendiri. Jantungnya melompat lompat kegirangan.
Tapi sekuat tenaga menahan pipinya untuk tetap pada warna awalnya tanpa berubah memerah serah tomat rebus. Memaksa bibirnya dengan bentuk awalnya tanpa menarik membentuk senyuman. Meski dalam hatinya dia sudah ingin merengkuh wajah itu dan menariknya semakin dekat lalu.....
Nisa dengan cepat menggelengkan kepalanya. Menghapus pikiran mesum itu.
"Kamu kenapa?'' tanya Rizky tiba tiba yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Nisa.
"Dasar aneh!!'' umpat Nisa ke Rizky.
"Mana kaki kamu biar aku obati, mau aku lihat benar kena sarafnya atau tidak. Seharusnya tadi di ruanganku aja, kenapa malah keluar rumah sakit? Semua alat kerja aku ada di sana. Kalo seperti ini, aku tidak bisa memeriksanya sampai ke dalam pusat sarafnya."
Rizky diam saja, mengabaikan kalimat panjang Nisa. Dia membukakan pintu mobil untuk Nisa dan meminta wanita itu masuk ke dalam. Tanpa bertanya banyak hal, tanpa protes dan bawel.
__ADS_1
Dengan wajah ditekuk Nisa masuk ke dalam mobil menuruti maunya si Rizky.
Rizky pun masuk ke dalam mobil juga. Dia membantu Nisa memakai sabuk pengamannya. Pandangan mereka kembali bertemu. Memaksa gelenyar aneh memasuki tubuh mereka. Gelenyar panas aneh yang membuat Rizky semakin meremang.
Rizky segera menarik tubuhnya menjauh dan melajukan mobilnya, mereka pergi ke sebuah kedai es krim, Rizky mentraktir Nisa es krim. Lalu pergi ke apotik untuk membeli obat dan kembali ke taman kota, menikmati es krim mereka sambil menunggu senja datang cukup menarik.
"Kamu takut dipecat? Gampang, kalo kamu dipecat kamu kerja di rumah sakitku aja. Dah, jangan bawel," jawab Rizky dengan enteng.
Nisa memberenggut. "Dasar sombong!''
"Kamu sengaja kesini buat nguntit aku kan?'' tukas Nisa sambil memakan es krim yang dibelikan Rizky, dia mengayunkan kedua kakinya dengan lambat.
Rizky tersenyum kecut, bisa bisanya wanita disampingnya itu menuduhnya menguntit. Mau di taruh dimana harga dirinya. Tidak ada dalam sejarah Rizky suka nguntit perempuan, dimana mana perempuan yang nguntiti dia.
Rizky kesal.
Tapi melihat Nisa yang lagi asyik menikmati es krimnya membuat dia merasa senang. Entah kenapa bersama wanita itu membuatnya senang.
"Hei! Itu dialog aku kenapa kamu yang kepedean sekarang?" Rizky menimpali. Menoleh sebentar ke arah Nisa.
"Biarin, karena memang sekarang kamu yang nguntiti aku. Kalo gak nguntit memang ada urusan apa kamu di rumah sakit ini?'' cecar Nisa sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Ck! Kepo bangat sama urusan orang." Rizky menimpali seraya bangkit dari duduknya.
"Salah menyimpulkan lagi kan kamu! Aku bukan kepo, cuma mau buktiin kalo kamu memang lagi tidak sedang menguntiti aku. Enggak nyaman tau kalo selalu diuntit," cerocos Nisa, yang menghabiskan sisa es krim terakhirnya.
"Pokoknya aku bukan penguntit. Mau kamu percaya atau tidak, ya itu urusan kamu. Aku pergi dulu." Rizky menelusupkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dia melangkah pergi meninggalkan Nisa yang tersenyum tipis.
"Iya, pergi sana! Aku juga gak betah duduk lama lama berdampingan sama kamu!'' teriak Nisa yang membuat Rizky tertawa ringan tapi tidak menoleh kebelakang lagi. Dia suka menggoda wanita itu.
Amarahnya suka meledak ledak, tapi aslinya dia cukup manis.
********
"Aku sudah makan, sekarang beritahu aku, dimana Mas Al?" desak Yesline. Dia menegak badannya dan menatap lurus ke arah Clinton yang duduk di bangku di depannya. Mereka duduk di kursi makan, saling berhadapan dan saling diam.
Hening.
__ADS_1
"Kenapa diam?''
"Al ditangkap polisi, Yesline," jawab Clinton dengan bibir sedikit bergetar.
Yesline yang masih syok tiba tiba langsung berlari menyambar jaket dan mengambil tasnya lalu keluar rumah. Dia membuka sebuah aplikasi dan memesan sebuah kendaraan dari ponselnya. Sementara Yesline berdiri di dekat gerbang rumahnya sambil menunggu kendaraan yang ia pesan datang.
Clinton dan yang lainnya mengejar dari belakang.
"Yes!!!" panggil Clinton. Yesline menoleh dan melihat Clinton yang sedang menuju ke arahnya. Namun, bertepatan dengan kendaraan yang datang Yesline langsung naik dan meninggalkan semuanya.
"Ah, sial!'' umpat Clinton kesal.
Dia jadi teringat kejadian beberapa jam lalu, saat dia baru sampai di rumah sakit dan Al digandeng dan dirangkul beberapa orang berseragam polisi dan dibawa dengan paksa dari rumah sakit tanpa menunggu kedatangan pengacaranya dan yang lainnya.
"Al!!!'' Clinton memekik dengan lantang. Dia mengejar langkah Al, dia meminta waktu sebentar dari sang polisi.
Polisi memberikan sedikit waktu. Clinton langsung memeluk Al, bagi Clinton, Al adalah lebih dekat dari sahabat. Lebih dari segalanya. Mereka sudah layaknya saudara.
"Kamu harus janji sama aku untuk jagain Yesline sama Azka juga baby aku, Clint. Aku titipkan semuanya ke kamu. Aku percaya sama kamu," ucap Al yang masih berada dalam pelukan Clinton. Tangannya yang di borgol membuatnya tidak bisa mendorong tubuh sang sahabat lalu memintanya untuk pergi menjauh.
"Bukan, jangan titipkan semuanya ke aku, kamu sendiri yang akan menjaga Yesline dan Azka juga baby kamu. Jangan menyerah, Al. Kita akan melakukan yang terbaik, mendapatkan bukti supaya kamu dibebaskan.
Kalo perlu aku beli sel penjaranya buat kamu. Kamu tenang aja."
"Terima kasih," kata Al saat Clinton melepas pelukannya dan mereka saling berhadapan.
Clinton mengangguk.
"Bawa Yesline dan Azka pulang, mereka akan lebih aman berada di rumah."
Clinton mengangguk dengan mantap.
"Maaf, waktu anda sudah habis." seru salah seorang polisi.
Clinton membiarkan Al dibawa oleh mereka. Semua tawa dan kenangan indah di masa lalu dan untuk masa depannya tiba tiba seperti menghilang dari bayangannya.
Al, akan aku tunjukkan seberapa kuat kuasa kita. Tidak akan aku biarkan kamu berlama lama di sana. Tunggu aku!
__ADS_1