
" Assalamualaikum, kamu pulang kerja jam berapa, Dokter? "
Hans mengirim pesan singkat itu dan mengirimnya ke nomor dokter Meriam. Di rumah sakit, dokter cantik itu baru saja selesai melakukan operasi, dia berada di ruangannya. Beristirahat sebentar sambil melihat beberapa laporan milik beberapa pasiennya.
Saat mengetahui ponselnya bergetar, Meriam langsung segera mengambil benda itu. Di layar depan terlihat jelas nama Hans sudah muncul di layar notifikasinya. Meriam tersenyum, dia langsung membaca pesan dari Hans dengan cengengesan.
Meriam mengetikkan balasan.
" Walaikumsalam, insyaallah satu jam lagi aku pulang, calon imam. Ada apa, mau jemput, ya? "
Sambil ngetik, sambil senyum senyum. Meriam memang kurangnya langsung to the point. Apa adanya, ceria dan energik. Kecantikan wajah, baik ilmu agama dan kepintarannya adalah nilai plus dari wanita itu.
Pesan itu langsung di kirim ke nomor Hans. Dia meletakkan kembali ponselnya di meja, mengambil kembali dokumen yang sempat ia abaikan. Namun setiap beberapa detik sekali Meriam melirik ke arah layar ponselnya, dia menunggu balasan dari Laki Laki itu. Laki laki satu itu memang begitu menarik perhatiannya. padahal dia belum terlalu tahu bagaimana karakter Hans.
" Nanti sambil berjalan aku selidiki. Aku sudah terlanjur suka sama dia. " Meriam tersipu, mengusap wajahnya berkali kali. Mencoba menghalau perasaan sukanya yang menggebu gebu. Padahal itu tidak baik.
" Suka sama siapa nih? "
" Hans ya? " celetuk sebuah suara yang tiba tiba masuk ke dalam ruangannya dan duduk di sofa panjang khusus tamu di dalam ruangannya.
Melihat siapa yang datang membuat Meriam tersenyum.
" Kamu tahu aja. " Meriam membalas.
" Aku kan bayangan kamu, jadi tahu semualah. " ujar Nisa, teman Meriam di rumah sakit itu yang juga seorang Dokter. Nisa dengan santainya membenahi make up di wajahnya.
" Kamu mau pulang bareng gak? " tanyanya kemudian.
Meriam tersenyum dan buru buru menolak. " Aku sudah ada yang mau jemput. "
Mata Meriam melirik ke arah ponselnya lagi.
__ADS_1
" Sebenarnya mau jemput atau gak, ya? Takutnya nanti aku yang kepedean. Buktinya dari tadi belum di balas." Meriam sedikit memajukan bibirnya.
" Yah .... Aku balik sendiri dong hari ini, siapa sih yang mau jemput kamu? aku ikut, ya? " tanya Nisa tanpa sungkan.
Meriam hanya mengacungkan telunjuk jarinya sambil menggerakkan ke kanan dan ke kiri, sebagai pertanda penolakan.
Nisa hanya cemberut di tempatnya, sambil memasukkan kembali alat tempurnya kedalam pouch.
Sedangkan di kantor Hans, pria itu senyum senyum sendiri membaca pesan balasan dari Meriam. Hatinya benar benar berbunga bunga, padahal baru di balas seperti itu.
" Kamu bikin aku gemas aja deh, Mer. Kita langsung nikah saja, ya? Nanti biar halal cubit pipi kamu yang cubby itu. " Hans terkekeh berbicara dengan dirinya sendiri.
" Kayak berani aja kamu, Hans! " Hans kembali menyangkal keberaniannya sendiri.
" Bismillah. Kamu harus berani, Hans. Kamu gak rela kan kalau si Wisnu yang nikahin Meriam? " pria itu masih berbicara sendiri.
Hans menggeleng cepat. " Ya, aku harus berani. " ucapnya mantap. Dia menyambar kunci mobil di atas mejanya, dan melangkahkan kaki keluar ruangan.
******
" Jangan ganggu aku kali ini, Nis. " Meriam berkata kepada Nisa tanpa melihatnya.
Gadis di belakangnya cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Iya, ya. Padahal gak mau ganggu, cuma mau nebeng doang. " kilah Nisa.
Seorang laki laki datang dari arah lift, matanya langsung bisa melihat di ujung koridor ada Meriam yang sedang celingukan mencari seseorang, tapi tidak menyadari kedatangannya.
" Hai, nungguin aku, ya? " sapanya penuh percaya diri.
Mendengar suara itu membuat Meriam menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
" Kamu lagi? Kamu gak kerja? Gak bosan kesini terus? " canda wanita itu. Di belakangnya Nisa bengong. Matanya melotot menatap laki laki tampan di depannya yang dicueki oleh temannya itu. Nisa menyenggol lengan Meriam sambil berbisik. " Kenalin dong. " pintanya sambil mengulas senyum.
Meriam terkekeh. Nisa memang seperti itu kalau melihat laki laki tampan.
" Rizky, kenalin ini temanku, namanya Nisa. " Meriam menuruti mau Nisa. Wanita itu langsung dengan semangat mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Iya. " Rizky meresponnya dengan datar. Hanya sekilas melirik ke arah Nisa tanpa membalas jabatan tangannya.
Rizky memang tidak mudah dan tidak bisa dekat dengan sembarang wanita. Dia hanya memberi pengecualian kepada wanita khusus yang sudah dipilih hatinya.
Lagi lagi Nisa cemberut, Dia menarik lagi tangannya dengan kecewa.
" Sombong bangat sih jadi, cowok! " maki Nisa kepada Rizky. Sementara Meriam masih memfokuskan pandangannya ke arah pintu lobby. Dia benar benar bersemangat dan berharap Hans benar benar datang menjemputnya.
Rizky masih mengabaikan Nisa.
" Kamu mau pulang, kan? Bareng yuk, kebetulan aku juga mau pulang. " Rizky menanggapi, matanya fokus menatap Meriam.
Meriam menatap sekilas Rizky tanpa menjawab.
" Kenapa dia sok sok an dekatin aku, ya? Aku gak bisa fokus dengan laki laki lain. Hatiku sudah terlanjur memilih Hans. Sorry. " kata Meriam dalam hatinya.
Nisa mulai kesal kepada Rizky, bisa bisanya dia mengabaikan dirinya yang juga cantik itu? Nisa menarik tangan Rizky agak menjauh dari Meriam.
Dengan cepat Rizky menepis tangannya. Tapi tak mampu melepas cengkeraman tangan Nisa.
" Kamu apa apan, sih? " sentak Rizky.
" Meriam gak akan mau pulang sama kamu. " kata Nisa memberi tahu.
" Memangnya kenapa? " tanya Rizky tidak suka. Menatap wanita berambut sebahu yang kini sedang menahan langkahnya untuk mengejar Meriam.
__ADS_1
" Tuh, lihat sendiri. " Nisa menjentikkan dagunya ke arah dimana Hans yang sudah berdiri di depan Meriam. Rizky bisa melihat Meriam yang tiba tiba terlihat senang dan bahagia. Matanya beralih menatap Hans.
" Hans? " serunya sedikit terkejut.