
" Bu, Mari kami antar ke rumah sakit. " ujar Gabriel.
Wanita hamil itu hanya mengangguk. Tampaknya sangat tidak sanggup untuk berkata kata saking menahan rasa sakit yang melanda.
" Sayang, tolong hubungi ambulance. "
" Iya. " Leni mengangguk dan mulai menggulir ponselnya, mencari kontak yang dibutuhkan.
Di rumah sakit, Gabriel dan Leni tampak tengah menunggu. Tepatnya menunggu sang wanita hamil yang tadi mereka tolong. Mereka berdoa semoga saja ibu dan bayinya selamat. Gabriel lah yang tampak paling gelisah disini.
" Mas, Aku yakin kok kalau ibu dan bayinya pasti selamat. " Leni mengusap punggung sang suami untuk menenangkannya. Leni begitu bangga dengan tindakan sang suami yang tanpa berpikir panjang mau membantu wanita hamil tadi. Meski sama sekali tidak mengenalnya.
" Iya. Semoga saja. Jujur, aku begitu khawatir, sayang. " kata Gabriel.
Gabriel tak dapat membayangkan kalau sampai terjadi apa apa kepada wanita yang ditolongnya itu.
" Tidak usah khawatir. Sekarang yang paling penting doa kita untuk mereka berdua. "
Akhirnya, Gabriel mengangguk setuju dengan pemikiran istrinya itu. Leni tentu tersenyum karenanya. Meski kencan mereka bisa dikatakan terganggu. Hanya saja, Leni begitu bangga dengan sang suami tercinta. Sang suami yang mempunyai hati besar ingin membantu sesama yang dalam kesulitan.
Tak berapa lama, terdengar suara ponsel yang berdering. Dengan cepat Leni mengangkat telepon dan meminta ijin ke kamar mandi terlebih dulu kepada suaminya.
" Halo, Pa ?? "
" ....... "
" Maaf, Pa. Leni dan Gabriel belum bisa kesana. Lai. waktu iya, Kami janji akan secepatnya. "
" ...... "
" Pasti itu, Pa. "
" ....... "
Panggilan telepon akhirnya berakhir. Bisa Leni tebak kalau sang Papa tengah kesal. Memang sudah lumayan lama keduanya tidak berkunjung ke rumah Papanya itu. Sebagai anak, Leni tentu merasa bersalah.
" Pa, maafin Leni. Secepatnya pasti Leni dan Mas Gabriel akan datang berkunjung. " kata Leni bicara sendiri.
__ADS_1
Setelahnya, Leni pun memutuskan untuk kembali ke ruang tunggu pasien dimana sang suami tercinta berada.
********
Yesline begitu semangat saat menjemput Azka, buah hatinya dari sekolah. Hal itu sudah menjadi rutinitas seorang Yesline setiap hari. Yesline sama sekali tidak merasa bosan ataupun lelah.
Akhirnya, jam pulang sekolah telah tiba. Azka terlihat berlari menghampiri sang mama yang berdiri tidak jauh.
" Mama?! " teriak anak itu antusias.
Yesline tersenyum dan berjalan mendekat menghampiri sang anak.
" Sayang, jangan lari lari begitu. Kamu nanti bisa jatuh. "
Tampaknya Azka tak menghiraukan ucapan sang mamanya sama sekali. Anak berumur lima tahun yang masih duduk di bangku TK itu akhirnya bisa memeluk sang mama tercinta.
" Astaga, Azka. Lain kali jangan lari lari begitu ya, Nak. Bahaya! " Yesline berkata lembut.
Azka mengangguk paham. Yesline tentu senang mendengarnya. Anaknya memang begitu penurut.
" Anak pintar. " Yesline mengusap rambut anaknya dengan lembut dan senyum.
" Terima kasih, Pak. " Yesline berujar sopan seperti biasa.
" Ma, Kita mampir ke mall dulu ya. " pinta Azka yang saat ini tengah duduk di pangkuan sang Mama tercinta.
" Oke, sayang. Apapun keinginan kamu selagi itu baik, pasti akan mama turuti. " Yesline lagi lagi mengusap rambut sang anak dengan gemas. Memiliki seorang Azka dalam hidupnya adalah anugerah terindah yang tidak ternilai harganya.
*******
Keesokan harinya, Laki laki itu menenteng tasnya di pundak, berjalan melewati lorong dengan perasaan yang tidak bisa dia mengerti. Dia melangkah melewati dua polisi penjaga gerbang. Dia melangkahkan kaki keluar melewati gerbang itu, lalu pintu itu ditutup kembali.
Laki laki itu menyipit menghindari matahari yang membuat matanya silau. Dadanya terlihat naik turun menarik nafas, sedang bibirnya mengulas senyum. Akhirnya setelah sekian lama, matanya bisa menikmati pemandangan indah ini.
Laki laki itu pulang ke rumahnya naik taksi, dia memang tidak memberi tahu siapa siapa atas kepulangannya.
Di jalan, saat mata laki laki itu menatap ke luar jendela, Dia melihat ada beberapa orang yang berkerumun di jalan. Dia memutuskan turun sebentar untuk melihat kejadian itu.
__ADS_1
Tangan Laki laki itu menyibak kerumunan, di tengah tengah sana dia melihat seseorang yang tergeletak. Sepertinya korban kecelakaan. Lalu ada seorang wanita yang tiba tiba datang, berusaha mengangkat tubuh wanita yang sudah sekarat. Wajahnya nampak cemas.
" Cepat telepon ambulance dan bantu saya mengangkat tubuh ini. " ia berteriak begitu panik.
Laki laki itu menoleh ke belakang, taksi yang ia tumpangi kebetulan masih di sana. Dia berjalan menerobos masuk lingkaran.
" Jika boleh, mari saya antarkan ke rumah sakit. Kebetulan taksi yang saya gunakan masih menunggu di sana. "
Wanita yang memeluk tubuh penuh darah itu menoleh ke arah sumber suara.
" Baiklah. Tolong cepat bantu saya. Orang ini harus segera di bawa ke rumah sakit dan harus di operasi segera. "
Laki laki itu mengangguk. Dia segera mengangkat tubuh itu dan memasukkannya ke dalam taksi, disusul wanita berhijab itu.
Dengan sedikit penasaran, Laki laki itu melihat name tag di jilbabnya, karena wajah cantik wanita itu membuatnya penasaran. Dia membaca name tag nya. Di sana tertulis,
" Meriam ..... "
*****
" Clinton, kamu tahu jika Clara adalah putriku satu satunya. " kata Rojak pelan sambil satu tangannya memindahkan bidak catur ke kotak yang paling strategis.
Sore itu, Clinton sedang menghabiskan waktunya dengan calon mertuanya. Sepulang kerja dia langsung ke rumah Clara untuk membicarakan persiapan pernikahan mereka.
" Iya, Om. " jawab Clinton, tangannya mengangkat bidak catur miliknya tapi belum tahu mau dia letakkan dimana, dia masih berpikir, mana bidak dari catur lawan yang bisa di makan atau mungkin ada celah.
Clinton sebenarnya tidak terlalu suka permainan yang membosankan seperti ini, dia juga tidak terlalu jago. Pernah sekali atau dua kali dia memainkannya dulu saat remaja sama sang kakek. Kali ini dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Rojak, melakukan hal yang disukanya.
" Jaga dia, jangan sampai dia sedih atau merasa kekurangan apapun. Jika kamu sampai membuat dia meneteskan air mata, aku sunat lagi punya kamu! Ngerti?! " mata Rojak melotot, dan suaranya dibuat sedikit garang.
Clinton mendelik kaget saat mendengar kata sunat. Ia menelan ludah. Reflek pandangannya melihat ke bawah, kedua tangannya mendekap sang pedangnya, mengapit dengan kedua kakinya.
Lalu mendongak lagi, menatap Rojak yang malah menertawakannya.
" Aku tidak akan membuat Clara sedih, Om. Itu janjiku, tapi namanya manusia kadang bisa khilaf. Om jangan kejam kejam mau main sunat aja, gak bisa di pakai nanti, Om. " sergah Clinton.
Claudia yang baru saja pulang dari acara warisan, ikut menahan tawa mendengar perkataan Clinton.
__ADS_1
" Mama dukung, Pa. " Claudia menyetujuinya, mengacungkan jempolnya sembari berjalan menuju kamarnya.