
Hans langsung dengan cepat menutup mobil dan menguncinya dengan tombol otomatis dan langsung dengan cepat mengikuti Pria yang mirip Seseorang yang Dia kenal. Kaki Hans mengendap endap dengan mata mengintai sekeliling. Hans benar benar penasaran apakah Dia benaran Seorang Dokter yang sok perhatian sama Yesline. Yang begitu berani dengan Al yang ganjen itu ??
Hans terus mengikutinya hingga tiba tiba ponselnya berdering. Hans mengeluarkan ponselnya dari tas, dan segera langsung mematikannya. Suara dering ponselnya bisa menimbulkan kecurigaan, Pria di depannya bisa tahu nanti jika Dia diikuti.
Hans belum sempat melihat siapa yang menelponnya, Dia langsung mematikan ponselnya. Hans kembali mengikuti Pria tadi. Di depan ada belokan dan Pria itu berbelok ke arah sana. Hans kembali mengikuti Pria itu dengan setengah berlari tanpa menimbulkan suara kerap dari sepatunya.
Saat Dia ikut berbelok, Pria itu masih disana. Pria itu mengenakan hodie coklat sedang menuju ruang pertemuan. Ruangan yang biasa digunakan untuk menjenguk tahanan. Hans bersembunyi disana, bersembunyi di balik pintu . Dia ingin tahu siapa Pria itu dan siapa yang Dia temui.
Pria itu duduk memunggungi Hans. Dia belum bisa melihat wajahnya dengan benar. Hanya sekali saja, Hans bisa melihat wajahnya saat di depan rutan tadi.
Seorang Polisi membawa masuk Seorang tahanan dan benar saja tahanan itu Erwin. Polisi yang menunggu dan menjaga di sudut pintu hanya memperhatikan saja. Hans mendekati Polisi yang menjaga itu dan mengatakan bahwa Dia adalah Pengacara yang disewa oleh tahanan yang ada di dalam ruangan itu. Hand minta ijin masuk ke dalam.
Tanpa curiga, Polisi itu langsung mengijinkannya, meski memang pakaian Hans menunjukkan Seorang Pengacara.
Hans mendekati Erwin dan Pria tadi, yang sedang duduk berhadapan mengobrol dengan Erwin tapi tidak Hans tau.
Tanpa basa basi Hans langsung ikut duduk di sebelah Pria tadi. Hans langsung menoleh dan melihat wajahnya, Tapi anehnya itu bukan Dokter yang tadi pagi berantam dengan Al.
" Kenapa Kamu kesini ??? Al yang menyuruhmu untuk memata mataiku ??? " tuduh Erwin dengan suara garang. Hans menoleh, sekuat tenaga menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Ternyata Orang yang dari tadi Dia ikuti bukan Seseorang yang Dia kenal.
__ADS_1
" Bukan. Saya ada pekerjaan disini. Dan Saya juga mau memastikan bahwa Anda tidak sedang menyusun rencana siasat baru. " jawab Hans sembari menatap tajam Erwin.
" Cuih !! Itu urusan Saya. Tidak ada hubungannya denganmu. Kamu pikir setelah semua yang Saya miliki Kalian ambil dengan cara licik, Saya akan diam saja ?? Kalian pikir Saya lemah ?? " cetus Erwin marah.
Dia hendak bangun dari duduknya dan memukul Hans dengan kedua tangannya yang di borgol. Pria tadi mengangkat bokongnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menghentikan Erwin, Dia memperingatkan kepada Erwin bahwa ada Polisi yang mengawasi Mereka saat ini.
" Saya tidak menganggap Kamu lemah. Karena itu Saya selalu memperhatikanmu. Ya sudahlah, selamat menikmati hari harimu di dalam jeruji besi, Pak Tua. Masih ada pekerjaan yang harus Saya lakukan, Permisi !! " Hans pamit dan langsung meninggalkan kedua Orang itu. Hans menggaruk kepalanya karena merasa aneh.
" Apa benar tadi Aku salah lihat ?? "
Hans menggeleng dengan cepat dan kembali konstrasi. Nanti kapan kapan Dia akan menyelidikinya lagi. Sekarang Dia harus profesional menghadapi kasus yang Dia pegang dengan serius. Dia harus bisa memenangkan kasusnya dan mengeluarkan kliennya.
Memang kliennya sedang di fitnah, karena semua bukti menyudutkannya.
****
Callista duduk bersandar pada pintu mobil, pandangannya melayang jauh keluar jendela mobil. Diluar sedang hujan deras. Nicho duduk di depan kemudi di samping Callista.
Menatap Wanita di sampingnya yang masih kelihatan murung. Dia juga tidak menyangka jika takdir begitu rumit, seakan akan menarik Mereka untuk selalu bersama.
__ADS_1
Dia yang awalnya melakukan hubungan badan dengan Callista hanya karena urusan pekerjaan, bisa berakhir seperti ini. Ada kemungkinan itu Anak Al, meski kemungkinan yang paling besar itu adalah darah dagingnya sendiri. Nicho bisa memahami seburuk apa kondisi psikis Callista saat ini.
Dia sudah kehilangan semuanya, Dia sebatang kara dan kini harus hamil sebelum menikah dengan Orang yang tidak dicintainya. Jika itu Anak Al pun, Dia tidak akan bahagia. Karena Yesline pun sedang hamil, Sesuatu yang dibagi itu tidak membahagiakan. Hidupnya bagaikan memakan buah simalakama.
" Cal, Aku mungkin tidak mencintaimu. Mungkin belum. Tapi jiak itu memang Anakku, Aku pastikan Kamu akan bahagia. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, Aku akan membahagiakan Dia yang menjadi Ibu dari Anakku. "
Callista memang pernah bercerita, saat Dia berhubungan dengan Al, Dia selalu memakai pengaman.
Setelah membaca beberapa artikel tentang proses pembuahan rahim, Ada yang tetap bisa hamil meski suaminya memakai pengaman atau yang biasa disebut dikeluarkan diluar. Semua kembali pada sang pembuat takdir. Andai saja takdir bisa dipilih sesuka hati, Sayangnya Manusia hanya bisa berdoa tanpa tahu pasti apakah takdirnya sesuai keinginan atau tidak.
Yang jelas, apapun takdir yang Tuhan tentukan, pasti itu yang terbaik. Sejatinya hidup sama saja dengan prose pembuatan film atau cerita. Semua tergantung pada sang Penulis. Pemain hanya pemeran yang bergerak sesuai yang ditulis.
Nicho menghela nafasnya dalam. Jalanan malam di bawah rintik hujan membuat mobil Mereka berjalan lambat. Sedari tadi Callista hanya diam dan mengusap lengannya yang kedinginan. Nicho menepikan mobilnya, disekeliling masih dipenuhi pohon pohon tinggi yang kian mencekam.
Nicho mengambil jacketnya di jok belakang, memberikannya kepada Callista. Bahkan Wanita itu tidak menoleh saat Nicho menyelimuti tubuhnya.
Laki Laki itu bingung harus menghiburnya dengan cara apa. Nicho kembali menjalankan mobilnya pelan, meninggalkan lokasi itu. Perlahan namun pasti, Mobil itu terus melaju menembus hujan hingga memasuki perkotaan. Callista sudah tertidur. Dia belum makan dari siang tadi.
Hujan lebat sudah berhenti, hanya tinggal gerimis tipis yang membuat udara di Amerika saat itu sangat dingin. Padahal ini masih bulan ke 4 sebelum akhir tahun karena seharusnya akhir tahun baru musim dingin.
__ADS_1
Nicho ingat hari ini ada pasar malam International yang tidak jauh dari New York Hall. Ada pemain sirkus juga. Mungkin hati Callista bisa sedikit mencait jika bermain disana. Naik biang lala berdua juga pasti seru. Nanti setelah makan Dia akan mengajak Callista kesana.
Gerimis tipis itu perlahan sudah tidak ada lagi hanya menyisahkan jalanan yang basah. Dibeberapa tempat yang berlobang sehingga digenangi air. Nicho membuka pintu mobil, turun terlebih dahulu untuk membukakan pintunha Callista. Wanita itu enggan untuk turun.