
Sekilas Callista melihat isi pesan itu.
" Sombong sekali sih, Kamu? Apa kamu sudah melupakanku? ''
Degh!
Kedua netra Callista membola sempurna karena kaget dengan isi pesan yang terlihat sekilas olehnya itu.
" Siapa dia? Kenapa mengirim pesan seperti itu ke Nicho? " Callista penasaran. Dia langsung menaruh ponsel itu begitu saja. Ketika Nicho keluar dari kamar mandi. Berusaha memasang mimik wajah biasa saja. Meski hatinya sangat ingin tahu siapa yang mengirim pesan itu.
Pukul 6 sore.
Di dalam mobil, Callista masih menutup rapat mulutnya, dia sebenarnya tidak ingin terlalu memikirkannya. Tapi entah kenapa hatinya tidak tenang. Callista sudah tidak sabar ingin menanyakan itu ke Nicho, tapi dia tidak tahu harus memulai dari mana. Nanti takutnya kalau salah bertanya, Nicho akan merasa dituduh di curigai. Ah, Callista bingung.
Selama ini Nicho nampak begitu baik tanpa cela. Callista tidak tega menanyakannya.
Sepertinya Nicho menyadari kalau istrinya sedang tidak baik baik saja.
" Sepertinya ada yang lagi cemberut, nih? Kenapa sayang? Cerita sama Mas. " kata Nicho, tersenyum tulus. Dia menoleh sebentar menghadap Callista yang masih menundukkan kepala.
" Tuh, kan. Dia selalu tahu kalau aku sedang memikirkan sesuatu. " gumam Callista dalam hatinya.
Wanita cantik itu menoleh kepada suaminya, dengan senyuman yang amat dipaksakan.
" Gak kok, Mas. Gak ada apa apa. " jawabnya. Dia akan menanyakannya nanti setelah pesta. Takutnya kalau tahu jawaban Nicho sebelum pesta, Callista tidak akan bisa menikmati acara pesta malam ini bersama teman temannya.
" Beneran? " Nicho memastikan lagi. Apa yang ia rasakan di dalam hatinya tentang istrinya itu biasanya tidak pernah salah.
Callista buru buru mengangguk, masih berusaha menarik kedua sisi bibirnya untuk tersenyum.
" Callista, jangan curiga sama suamimu. Dia sudah begitu baik, jika dia memang ada selingkuhan, kalau sudah terbukti, kamu baru kasih pelajaran. Sekarang kamu fokus dulu sama pestanya Clinton." Callista kembali bergumam dengan dirinya sendiri.
" Oke, deh. Senyum dong, sudah cantik gitu masa wajahnya di tekuk terus. " sindir Nicho. Wajahnya hanya menghadap Callista, sebentar lalu ia fokus mengemudi.
Callista mengulum senyum, selebar mungkin, sesuai yang Nicho minta.
" Masyaallah, cantiknya istriku. " puji Nicho, tangan kirinya bergerak mengusap pipi Callista, wajahnya masih menatap ke jalan, fokus mengemudi.
*******
__ADS_1
Pukul 5 sore.
" Dokter, kamu di mana? " tanya Hans pada seseorang yang berada di seberang telepon, setelah tersambung. Setelah berhari hari dan berjam jam Hans memikirkan dan mengumpulkan keberaniannya, juga menurunkan gengsinya untuk mengajak Meriam menemaninya ke pesta pernikahan Clinton, akhirnya ia utarakan juga.
" Aku lagi di apartemen, nih. Ada apa ya, Mas Hans? " jawabnya dengan ramah, sedikit bingung campur senang karena Hans sekarang mulai sering menghubunginya.
Meriam baru saja sampai di apartemen, baru saja selesai memencet pada tombol layar yang digunakan untuk membuka akses apartemennya.
" Kamu siap siap ya. Nanti habis magrib aku jemput. Temani aku ke acara nikahan temanku. " tutur Hans dari seberang telepon, langsung membuat wanita berjilbab itu mengerutkan keningnya.
" Kamu ngajak aku jadi pasanganmu, Mas? " tanya Meriam memperjelas. Antara senang juga lucu. Karena Hans yang tidak bisa menata kalimat yang lebih romantis lagi untuk mengajaknya pergi. Dia kaku tapi tetap kelihatan manis.
Hans merasa kikuk sendiri. Saat ini dia sudah berada di parkiran apartemen Meriam. Dia berniat menunggu Meriam di sana saja. Agar dia tidak perlu memutar. Jarak apartemen Meriam dengan gedung pernikahan lebih dekat.
Meski di sisi lain, hatinya juga sedang tidak jelas. Ini kali kedua dirinya menghadiri pernikahan wanita yang sebelumnya pernah ia cintai dan sukai.
" Mas! " panggil Meriam di seberang yang melihat Hans sedang melamun. Pria itu gelagapan. Lalu kembali fokus menatap wajah Meriam di layar ponselnya. Wajah itu begitu teduh, dan cantik. Seharusnya Hans bisa melupakan semua mantan atau bahkan kenangan liarnya tentang cinta yang tak terbalas.
" Iya, Aku mau menjadikanmu pasanganku malam ini. Jika Allah takdirkan, selamanya juga boleh. " Hans mengatakannya dengan sungguh sungguh, menatap lekat manik Meriam. Mereka saling menatap untuk beberapa saat.
" Ya Allah segerakan kami, amin.... " ucap Meriam pelan, sambil menengadahkan kedua tangan.
****
" Pengantin wanitanya cantik bangat, ya? " suara Meriam membuyarkan lamunannya.
Ya. Wanita yang kini tampak anggun dan begitu cantik, dalam balutan gaun berwarna pink muda itu tengah berdiri di depannya. Hiruk pikuk pesta seakan begitu hening dan sepi, hanya suara Meriam yang mampu mengusiknya. Hans tersenyum jenaka, merasa malu dengan dirinya yang merasa kikuk sendiri. Dia menggaruk tengkuknya hang bahkan tidak gatal.
" Iya, kamu memang cantik sekali. " ujar Hans membuat Meriam terkekeh. Matanya masih tak berkedip. Bahkan dia hanya menatap ke arah Meriam.
" Kenapa kamu tertawa? " selidik Hans.
" Aku bertanya soal Clara, dan kamu malah memujiku, secantik itukah aku malam ini? "
Mereka sudah berada di tengah tengah pesta pernikahan Clinton yang berlangsung dengan lancar. Clara terlihat sangat cantik dengan balutan gaun warna putih yang begitu press body. Gaun begitu ketat dan sedikit terbuka.
Pandangan Hans tiba tiba beralih ke Meriam, dia lupa belum menjawab pertanyaannya.
" Iya, kamu memukau sekali malam ini. " akunya.
__ADS_1
" Cie ... cie.... cie... Udah mulai bucin akut nih, si Hans. " suara tawa yang baru saja hadir di sampingnya membuat Hans menoleh.
" Berisik bangat sih kamu, Bro! " Hans menepis tangan Gabriel yang bertengger di pundaknya.
Leni tampak mengobrol dengan Clara.
Tawa Gabriel semakin lebar, melihat muka Hans yang begitu memerah.
" Calon kamu memang cantik bangat, Hans. Wajar dari tadi kamu gak berkedip. " Yesline datang dan ikut bergabung, Hans semakin kikuk dibuatnya.
Teman temannya semua semakin menggodanya. Meriam hanya tersipu malu, Dia berjabat tangan dengan Yesline. Mulai berbisik bisik, entah apa yang dikatakan kepada Meriam, mata Meriam hanya sekilas menatap Hans dengan senyuman kagumnya.
" Bentar lagi ada yang sold out juga nih. Tinggal Rizky yang belum. " Nicho menimpali, Dia merangkul Callista disampingnya.
" Rizky jodohnya masih nyangkut di pohon. Nunggu masa tobatnya melewati uji coba. " ledek Al yang berdiri di belakang Yesline , memeluk Yesline dari belakang. Sementara Clinton dan Clara masih sibuk di atas panggung. Mereka menyalami banyak tamu.
Niatnya hanya mengadakan private party, tetap saja yang datang begitu banyak.
" Kalian ini gak ada kerjaan atau bahan perbincangan lain apa, selain godain saya? " sarkas Hans, Dia meneguk segelas minumannya hingga habis dalam satu tegukan.
Semua sahabatnya tertawa.
" Jahilin kamu itu asyik, Bro. "
" Ish! " kilah Hans, merasa jengah ditengah tengah sahabat sahabatnya itu.
Mereka berkumpul melingkar bersama sambil berbicara dan bergurau.
Sementara Yesline tiba tiba meminta ijin kepada suaminya untuk mengambil minuman lagi di meja konsumsi.
" Mas, aku ambil minuman dulu, ya? " ucap Yesline berbisik ditelinga Al. Laki laki itu mengangguk. " Mas temanin. "
Al mood nya sudah tidak baik semenjak berangkat tadi, pasalnya Yesline berdandan terlalu cantik. Membuat Al kelimpungan, dia tidak rela kecantikan Yesline dinikmati oleh banyak orang di pesta ini. Sedari tadi pun, Al menguntit di belakangnya terus terusan.
Namun dari arah depan, tiba tiba ada yang menghampiri Yesline.
" Hai, kita ketemu lagi! " katanya kepada Yesline dengan mimik wajah lebih antusias.
Mata Al melotot memandangi laki laki yang terus menatap Yesline.
__ADS_1
" Siapa kamu? " tanya Al tanpa basa basi.